Edisi 11-01-2017
Ubah Kemasan Pembalut bak Novel, Empat Mahasiswa Indonesia Diundang ke Jepang


Untuk bisa ke Jepang diperlukan biaya yang tidak sedikit. Namun tidak demikian dengan empat mahasiswa Program Pendidikan (Prodi) Komunikasi Visual, Fakultas Seni dan Desain, Universitas Kristen (UK) Petra Surabaya.

Hanya bermodal membuat kemasan pembalut dan manisan melon, mereka diundang dalam kompetisi internasional Asia Student Package Design Competition (ASPaC ) di Negeri Sakura, 14- 20 Januari 2017. Keempat mahasiswa UK Petra itu adalah Hana Setiono Oei dan Jovita Christina Tandono; serta Raymond Gunawan dan Marcella Kartika. Kesemuanya mahasiswa semester VIII.

Mereka akan terbagi dalam dua kelompok untuk mendapatkan tempat terbaik dalam ajang dua tahunan yang digelar Japan Foundation dan Japan Package Design Association tersebut. Para mahasiswa desain terbaik dari Indonesia itu akan bersaing dengan para kompatriotnya dari China, Taiwan, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, dan Thailand. Para mahasiswa ini berhasil maju dalam ajang bergengsi tersebut setelah menyabet juara pada ajang yang sama untuk skala Indonesia, di Jakarta, Desember 2016 lalu.

Ditemui di kampusnya kemarin, secara bergantian Hana Setiono Oei dan Jovita Christina Tandono; serta Raymond Gunawan dan Marcella Kartika menjelaskan ihwal pembuatan kemasan pembalut serta manisan melon yang lebih dari sekadar menarik. Pertama kali Hana Setiono Oei dan Jovita Christina Tandono memaparkan kemasan pembalut yang diberi nama This Pain is Temporary. ”Ini merupakan kemasan pembalut berbentuk novel berseri.

Sepintas seperti buku atau novel, setelah dibuka, di dalamnya ada pembalut,” ungkap Hana Setiono mengawali penjelasan. Jovita yang ada di sampingnya melengkapi penjelasan. Menurut Jovita, selama ini mereka yang baru datang bulan sering kali malu membawa pembalut. Di sisi lain, menstruasi bisa datang kapan saja.

Supaya pembalut yang dibawa tidak terlihat, kemasan berbentuk novel untuk menyamarkan. Hana dan Jovita membuat kemasan lima novel dengan ketebalan berbeda. Lima kemasan berbentuk buku itu bisa disimpan menjadi satu (5 in 1). ”Biasanya haid itu lima sampai tujuh hari. Cuma hari keenam dan tujuh biasanya tinggal sedikit. Kemasan untuk hari pertama dibuat lebih tebal karena biasanya haid deras, hari kedua dan kelima dibedakan ketipisannya,” urai Jovita lagi.

Menariknya, tiap kemasan ala buku ini disertai edukasi seputar haid. Karena berbahan kertas adpaper dengan laminasi, kemasan ini bisa dipakai berulang, bahkan ada pesan tertera untuk refill atau isi ulang. Lain halnya dengan kemasan manisan melon yang diberi nama Sweet Tale, karya Raymond Gunawan dan Marcella Kartika. Cerita Rakyat Timun Emas menginspirasi keduanya membuat kemasan yang terdiri atas dua bagian itu.

”Bagian pertama berbentuk timun yang di dalamnya terdapat manisan. Kemasan ala timun ini lantas masuk dalam kemasan besar berbentuk labu,” sebut Raymond. Menariknya, sebelum menikmati manisan, seseorang akan digiring membaca cerita Timun Emas yang tertera pada bagian dalam kemasan berbentuk labu.

Ada tahapan-tahapan yang menyampaikan potongan cerita. ”Cerita rakyat sekarang hampir tidak terdengar lagi, hampir punah. Ini salah satu cara kami untuk ikut menjaga, melestarikan cerita rakyat,” tambah Marcella.

SOEPRAYITNO

Surabaya

Berita Lainnya...