Edisi 11-01-2017
Iran Melepas Mendiang Presiden Rafsanjani


TEHERAN – Ratusan ribu warga Iran memadati Teheran pusat kemarin untuk mengikuti prosesi pemakaman mantan Presiden Akbar Hashemi Rafsanjani. Rafsanjani meninggal dunia pada Minggu (8/1) di usia 82 tahun.

Dia dimakamkan di samping Ayatollah Ruhollah Khomeini yang memimpin revolusi Islam 1979 dan mendirikan sistem pemerintahan teokratis di Iran. Kebijakan pragmatis Rafsanjani berupa liberalisasi ekonomi dan hubungan yang lebih baik dengan Barat telah menarik banyak pendukung. Dia juga menuai banyak kritik semasa hidupnya.

Meski demikian, prosesi pemakamannya menyatukan kedua pihak yang saling bertentangan untuk menunjukkan solidaritas dan persatuan. Dikenal sebagai pilar revolusi, dia memiliki pengaruh besar dalam lembaga pembuat keputusan utama di Iran. Dalam langkah yang dianggap saat itu sebagai pembagian kekuasaan, dia memainkan peran penting pada 1989 untuk memilih Ayatollah Ali Khamenei menggantikan Khomeini sebagai pemimpin tertinggi baru di Iran.

Rafsanjani terpilih sebagai presiden baru beberapa bulan kemudian. Kendati demikian, persahabatan mereka secara bertahap berubah menjadi persaingan saat presiden yang pragmatis itu dekat dengan kubu reformis yang menyerukan kebebasan. Adapun, Khamenei mengikuti penafsiran konservatif untuk nilai-nilai inti Republik Islam.

Dalam pesan duka citanya, Khamenei menjelaskan, perbedaan politik tidak pernah seluruhnya merusak persahabatannya dengan Rafsanjani yang hampir selama 60 tahun. Jalanan pun dipenuhi spandukspanduk yang menunjukkan dua tokoh itu saling tersenyum dan berbincang-bincang sebagai sahabat. ”Tidak seorang pun akan seperti Hashemi bagi saya,” ucap Khamenei dalam salah satu spanduk itu.

Hashemi merupakan panggilan akrab Rafsanjani menggunakan nama keluarga pertamanya. Warga Iran biasa memakai dua nama keluarga. Putra Rafsanjani, Mohsen, menyatakan, ”Ayatollah Hashemi berupaya sepanjang hidupnya menyelamatkan revolusi Islam. Dia ingin menjaga persatuan Iran.”

Seorang saksi mata menjelaskan pada kantor berita Reuters melalui telepon dari Teheran bahwa beberapa orang meneriakkan slogan-slogan meminta para tahanan politik dibebaskan. ”Beberapa pendukung kubu garis keras juga meneriakkan slogan mengecam Amerika Serikat (AS). Meski demikian, kedua kelompok tidak berkelahi.

Semua orang saling menghormati,” ungkap saksi mata yang hadir dalam prosesi pemakaman Rafsanjani. Khameneimenjelaskan, salat jenazahuntukRafsanjanidigelar di lapangan Universitas Teheran, tempat presiden itu sering memberikan khutbah saat salat Jumat.

Para politisi, komandan militer, dan tokoh relijius dari semua elemen juga turut mengikuti salat jenazah tersebut. Presiden, ketua parlemen, kepala yudisial, dan penasihat senior Khamenei berdiri di saf pertama dalam salat jenazah tersebut. Adapun, para menteri kabinet dan keluarga mendiang Rafsanjani berada di saf selanjutnya.

Arvin






Berita Lainnya...