Edisi 11-01-2017
Poros Mahasiswa-Menelusuri Jejak Pertumbuhan Ekonomi RI


Sebelum 2017 dimulai, khalayak Tanah Air diramaikan dengan berita berjudul ”Who’s Had the Worst Year? How Asian LeadersFaredin2016.”

Betapa tidak, wajah orang nomor satu Indonesia, PresidenJokowi, terpampang di laman Bloomberg edisi 29 Desember 2016. Ada tiga indikator penilaian yang diangkat oleh Bloomberg, yakni performa nilai tukar, kinerja pertumbuhan ekonomi, dan tingkat penerimaan publik. Dari tiga indikator tersebut, Presiden Jokowi menuai hasil positif dan relatif lebih baik ketimbang pemimpin negara sekaliber Xi Jinping (China), Shinzo Abe (Jepang), dan Narendra Modi (India).

Indikator penilaian yang perlu mendapat perhatian khusus terkait kinerja pertumbuhan ekonomi Indonesia. Penurunan pertumbuhan terus terjadi sejak2011(6,17%) sampai2015(4,79%). Pembalikan pertumbuhan baru terjadi pada 2016 sebesar 5,02%. Sementara pada APBN 2017 asumsi ekonomi makro yang dipatok untuk pertumbuhan ekonomi sebesar 5,1%. Di balik gempita ”kado” akhir tahun yang dituai, pertumbuhan ekonomi Indonesia menghadapi sejumlah tantangan berat pada 2017.

Pertama, ada kecenderungan kebijakan ekonomi global yang mengarah pada proteksi. Hal itu mulai tampak sejak ada fenomena British Exit (Brexit) dan terpilihnya Donald Trump sebagai presiden AS yang baru. Kebijakan proteksi memaklumatkan perlindungan produsen domestik. Imbasnya, produk negara lain yang hendak merambah pasar domestik negara besar harus menghadapi beban tarif yang lebih mahal dari sebelumnya. Padahal, negara berkembang, termasuk Indonesia, perlu untuk meningkatkan keeratan perdagangan dengan negara besar guna memperoleh manfaat perdagangan yang lebih besar.

Kedua, ada tanda-tanda untuk tetap mempertahankan sektor konsumtif sebagai kontributor utama pertumbuhan ekonomi. Dalam komposisi perekonomian Indonesia selama dua tahun terakhir, hampir 55% bersumber dari pengeluaran konsumsi rumah tangga, 32% berasal dari pembentukan modal tetap domestik bruto, sisanya disumbangkan oleh sektor-sektor lain.

Pembenaran atas arah pertumbuhan ini berpegang pada kemampuan sektor konsumtif dalam meredam ketidak pastian global. Pertumbuhan kelas menengah baru juga dapat di-jadikan sebagai potensi konsumen baru guna mengangkat sektor konsumtif itu sendiri. Padahal, dilainhal, sektorproduktif (investasi dan ekspor) lebih dapat menggaransi percepatan pertumbuhan di jalur yang tepat. Terakhir, ada persoalan pertumbuhan inklusif. Pertumbuhan inklusif mengacu pada akselerasi pertumbuhan tanpa menimbulkan peningkatan kemiskinan dan pendalaman ketimpangan.

Pertumbuhan inklusif merupakan pertumbuhan berkualitas yang berorientasi pada target pembangunan. Sampai pada titik ini, pernyataan Ketua Eksekutif World Economic Forum (WEF) Klaus Schwab perlu untuk direnungkan. Bukan globalisasi yang menjadi masalah riil pertumbuhan ekonomi dunia, melainkan kurangnya pertumbuhan yang inklusif.

HIDSAL JAMIL

Mahasiswa S-1 Jurusan Ilmu Ekonomi

Universitas Brawijaya

Berita Lainnya...