Edisi 11-01-2017
Langgar Aturan, Satpol PP Bersihkan PKL Ngesrep


SEMARANG - Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Semarang terus melakukan penertiban pedagang kaki lima (PKL) yang berjualan di trotoar jalan dan di atas saluran air.

Setelah PKL di Jalan Arteri Soekarno- Hatta, kemarin giliran PKL di sepanjang Jalan Ngesrep Timur Banyumanik yang ditertibkan. Di lokasi itu terdapat ratusan PKL baik berupa kios-kios portabel maupun warung tenda yang berjualan di atas trotoar jalan. Berdasarkan pantauan, penertiban yang dimulai sejak pukul 09.00 WIB itu, 100 personel Satpol PP dengan menggunakan sejumlah truk langsung melakukan penertiban mulai Patung Kuda sampai dengan depan kantor Kelurahan Sumurboto.

Kios-kios yang berada di atas trotoar semua dibabat habis. Kios yang masih berjualan diberikan kesempatan untuk menyingkirkan sendiri kios mereka, sedangkan kios atau gerobak PKL yang tidak ada penghuninya langsung diangkut ke atas truk. Tidak hanya kios yang ditertibkan, PKL yang menggunakan tenda juga ditertibkan. PKL Tenda rata-rata berbentuk bongkar pasang sehingga cukup mudah untuk dilepas.

Petugas juga menertibkan tokotoko yang memasang tendatenda semipermanen sampai ke atas trotoar. Meski ditentang pemilik toko, beberapa tenda yang dicor terpaksa dipotong untuk memudahkan pembongkaran. Kasi Trantib Satpol PP Kota Semarang Marthen Stevanus Dacosta mengatakan, penertiban dilakukan baru sampai depan Kelurahan Sumurboto, dan untuk yang ke arah timur sampai gerbang Undip akan dilanjutkan hari ini.

“PKL sudah diberikan peringatan untuk tidak berjualan di atas trotoar tapi tetap saja mereka berjualan. Sebelumnya kita tertibkan mereka, sudah kami beri tahu, tapi kenyataannya tetap saja ada yang berjualan. Hari ini (kemarin) kita juga sudah memberikan sosialisasi kepada para PKL yang ada di sebelah timur kalau besok akan dilakukan penertiban,” ungkapnya.

Sebenarnya trotoar merupakan fasilitas untuk pejalan kaki, sehingga tidak diperbolehkan adanya aktivitas jual beli. “Kegiatan ini dalam rangka penegakan Perda 11 Tahun 2000. Ke depan, tidak hanya sampai sini, tapi juga di wilayah lain,” tandas Marthen. Mengantisipasi kembalinya para PKL, Satpol akan berkoordinasi dengan pemangku wilayah dalam hal ini kecamatan dan kelurahan setempat.

“Nanti dari kecamatan dan kelurahan yang melakukan pengawasan,” ujarnya. Salah satu PKL, Yono mengaku sudah mendapatkan peringatan dari pihak kelurahan, tapi dia tetap berjualan. “Nanti kalau tidak jualan, kita mau kerja apa,” kata pemilik warung Bubur Ayam Pak Brewok ini.

Pedagang lain, Heri, mengaku sebenarnya tidak rela lapaknya dibongkar petugas Satpol PP. Apalagi, dia sudah berjualan bubur sudah lebih dari lima tahun dan selalu taat membayar retribusi. “Kita ditertibkan tapi tidak diberikan solusi,” ucapnya.

andik sismanto

Berita Lainnya...