Edisi 11-01-2017
Hasilkan Karya Video Animasi yang Diminati Pasar Amerika


Memiliki kondisi fisik kurang sempurna bukan berarti kemampuan Hana Maulana, 28,warga Kampung Sukamulya RT 01/06, Desa Bongas Kecamatan Cililin tak bisa menyamai orang-orang dengan kondisi fisik lengkap.

Terbukti meski salah satu lengannya kurang normal namun Hana sanggup bekerja dengan beragam profesi yang secara logika mungkin akan sangat sulit untuk dilakukannya. Hebatnya lagi, dia dan istrinya Rina Susanti, 22, yang juga sama-sama penyandang disabilitas ini masing-masing saling mendukung dalam mengembangkan potensinya masing-masing.

Hana saat ini bekerja sebagai tim pembuat video animasi disalah satu jasa periklanan di Bandung, sementara istrinya aktif dan telah berhasil mendirikan pondok belajar dan bermain bagi penyandang disabilitas di Kampung Sukamulya, Desa Bongas Kecamatan Cililin. Sebagai penyandang disabilitas, diakui Hana, dirinya sebelum menikah yang saat itu tinggal bersama orang tuanya di Kampung Margalaksana, Desa Margasari, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta pernah merasakan tindakan diskriminasi dari sistem kebijakan pendidikan.

Saat itu, dirinya ditolak oleh salah satu SMK Negeri di mana dia tinggal lantaran hanya karena kondisi salah satu lengan bagian kanannya yang tidak sempurna. Padahal jika dilihat dari nilai yang diraih saat SMP, dirinya berhak bisa lolos dan masuk ke sekolah yang diimpikannya tersebut.

“Makanya kenapa saat itu saya tidak lulus SMA, karena saya kepaksa harus sekolah ke swasta padahal pada saat itu saya inginnya sekolah ke negeri namun ditolak karena saya cacat,” tutur Hana seraya sudah memaafkan kejadian tersebut. Akibat kecewa dengan kebijakan sistem pendidikan, dia pun akhirnya memutuskan untuk langsung bekerja dengan bermodalkan izasah SMP.

Tak mudah bagi Hana untuk mendapatkan pekerjaan apalagi hanya bermodalkan izasah SMP dan ditambah kondisi fisiknya yang kurang normal. Setelah berjuang ke sana kemari mencari pekerjaan, akhirnya sebuah pekerjaan berat terpaksa harus diambil. Dengan keterbatasannya, dia pun bekerja sebagai kuli bangunan hingga menjadi tukang pasang kabel Telkom demi untuk mencari penghasilan dan menyambung hidup.

“Pokoknya dari tahun 2009 sampai 2013 kerja saya kuli bangunan, karena saat itu siapa yang mau nerima pekerja dengan kondisi fisik seperti saya ini,” kata dia. Hingga pada suatu ketika, dia mendapat kesempatan untuk mengikuti program pelatihan yang digagas oleh Dinas Sosial Provinsi.

Hingga akhirnya berlanjut ke pelatihan-pelatihan berikutnya yang salah satunya pelatihan yang digagas oleh Balai Besar Rehabilitasi Vokasional Bina Daksa (BBRVBD) Cibinong Bogor. “Dari pelatihan-pelatihan ini saya mulai belajar komputer dan suka komputer. Bahkan di BBRVD saya sempat diikutkan untuk ikut kompetisi badminton bagi sesama penyandang tuna daksa,” ungkapnya.

Seperti gayung bersambut, setelah sempat menganggur setahun pascapelatihan, tanpa sengaja dia dipertemukan dengan teman masa kecilnya yang saat ini telah berhasil mendirikan rumah produksi animasi. Dari pertemuannya itu, dirinya ditawari untuk bekerja dan memperdalam dunia video animasi di rumah produksi teman masa kecilnya tersebut.

“Alhamdulillah, saya sekarang sudah bekerja dan bisa membuat video animasi yang pembelinya 80 persen berasal dari Amerika,” ucapnya sambil tersenyum.

Nur Azis
Kabupaten Bandung Barat

Berita Lainnya...