Edisi 11-01-2017
Terapi Korban Pelecehan Dimulai Pekan Ini


BANDUNG – Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Jawa Barat akan melakukan terapi psikis kepada empat anak korban pelecehan seksual mulai pekan ini. Terapi dilakukan agar para korban terbebas dari trauma.

Namun sebelum proses itu dilakukan, LPA bersama dengan Psikolog Unpad akan melakukan pemeriksaan psikis terhadap semua korban. Rencananya, pemeriksaan ini akan dilakukan pada Kamis (12/1). Menurut Manager Program LPA Jabar Dianawati, dampak pelecehan berakibat secara psikologis terhadap anak.

Sehingga bila tidak dilakukan terapi psikis, korban dapat melakukan hal serupa seperti yang dilakukan pelaku. “Kalau tidak diterapi secara psikis, kemungkinan besar anak akan melakukan hal serupa di kemudian hari, untuk itu kami berupaya melakukan tindakan pemeriksaan dan terapi psikis anak,” jelas dia di ruang kerjanya, Jalan Ciumbuleuit, Kota Bandung, kemarin.

Terapi itu, lanjut dia, membutuhkan waktu, karena melihat kondisi si korban. Untuk itu dibutuhkan bantuan berbagai pihak baik dari keluarga maupun masyarakat untuk memberikan dukungan moril pada anak. “Nanti diperiksanya di BPIP Dago. Namun ini tertutup untuk umum agar kami dapat fokus,” terangnya.

Sebelumnya, Diana mengatakan pihaknya tengah melakukan pendampingan dengan melakukan pemeriksaan psikis korban. Menurut dia, berdasarkan laporan AS (korban), dia sudah diincar pelaku sejak duduk di kelas 2 SD. “Korban dari kelas 2 SD sudah diincar, tetapi menurut info, belum di apa-apain karena anaknya berontak.

Memang sejak menginjak SMP sering dilakukan pelecehan,” katanya. Untuk mengembalikan psikologis anak, pihaknya bekerja sama dengan Psikologi Unpad untuk melakukan sebuah terapi untuk menyembuhkan trauma korban akibat tindakan tak senonoh tersebut. “Yang kami lihat anak trauma, karena saat berbicara bibir bergetar, tangan mengepal, emosi keluar, seperti ingin melakukan sesuatu yang kurang baik,” katanya.

Sementara itu, warga di kawasan tubagus Ismail berusaha membantu kepolisian dalam mengungkap korban pelecehan seksual lainnya, PP, 43. Berdasarkan hasil pengungkapan warga melalui ketua RT, korban pelecehan PP diduga berjumlah 10 orang. Ketua RT Y, 56, mengatakan, korban PP ini mayoritas berasal dari Kota Bandung, tepatnya di kawasan Tubagus Ismail, Kecamatan Coblong.

Hingga kini warga terus membantu penyelidikan terkait korban pelecehan tersebut. “Sebetulnya ada satu nama lagi mencuat, tetapi ternyata dengan nama yang sama di antara 10 korban yang di duga,” katanya. Pihaknya berharap, pihak berwajib berinisiatif mengembangkan kasus ini hingga tuntas. Pasalnya warga menilai, kasus ini bukan kasus kecil.

“Sebagai pengurus saya berkewajiban mencari dan mengumpulkan, kalau pun pihak berwajib tidak merespons, kami akan serahkan datanya, agak lamban memang penanganannya, tolong perhatikan kami, karena kami semua kebingungan, terutama mereka para korban,” terangnya Dari riset atau data yang berhasil dikumpulkan, sedikitnya kurang lebih ada 10 korban, termasuk 4 korban yang sudah dilaporkan ke kepolisian yang terdiri dari 2 RT yang berbeda.

Namun itu tak termasuk angka lainnya yang diduga muncul juga di tempat PP sering berjualan. Data itu, diakui Y diolah dari para korban secara berantai dari mulut ke mulut dan dari hasil uji keabsahan data dari pengakuan beberapa orang tua korban. “Dari 10 temuan itu, rentang umurnya paling tua kelas 1 sampai 2 SMA dan yang paling muda kelas 5 SD.

Itu kemungkinan korban bisa bergenerasi. Dugaannya seperti itu, karena 10 korban yang terdata itu bisa dibilang anak-anak dari dua generasi berbeda,” katanya. Diberitakan sebelumnya, Satreskrim Polrestabes Bandung mengamankan seorang pria berinisial PP yang berdomisili di Jalan Tubagus Ismail Bawah, Kelurahan Sekeloa, Kecamatan Coblong, Kota Bandung, karena diduga telah mencabuli empat anak di bawah umur. Aksi bejat PP dilakukan dengan mengiming-imingi korbannya menggunakan bakso cuanki gratis.

agie permadi

Berita Lainnya...