Edisi 11-01-2017
Hadir di Segala Medan Hujan dan Kemarau


Cuaca ekstrem memang menjadi masa yang berat bagi Ahmad Yani cs. Patroli dan kesiapsiagaan wajib ditingkatkan seiring meningkatnya intensitas hujan serta angin yang terjadi belakangan ini.

Sebab cuaca tersebut memperbesar kemungkinan terjadinya di kawasan tempat tinggal mereka. Masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana seperti di Desa Srimartani, Kecamatan Piyungan, Bantul memang dituntut selalu waspada. Desa Srimartani yang berada di ujung timur laut Kabupaten Bantul tersebut sebagian wilayahnya ada di lereng Pegunungan Seribu, berbatasan langsung dengan Kabupaten Gunungkidul. Pada musim kemarau, kekeringan sering melanda sebagian wilayah ini.

Tak heran kesulitan air pernah juga terjadi di wilayah ini, sehingga mereka harus menunggu droppingair untuk mendapatkan air bersih. Meskipun kini sudah ada jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Dharma dari Kabupaten Bantul. Musim kemarau juga menciptakan ancaman bencana kebakaran lahan. “Sering terjadi, ada warga membakar sampah. Belum benar-benar padam terus ditinggal pergi, tiba-tiba tertiup angin langsung terbakar,” tutur Ahmad Yani, Ketua Forum Pengurangan Resiko Bencana (FPRB) Desa Srimartani, kemarin.

Sedangkan di musim hujan seperti sekarang ancaman lebih besar lagi lebih mengancam warga. Hujan deras yang sering disertai angin kencang berkali-kali menumbangkan pepohonan di desa. Seringkali pepohonan tersebut menimpa rumah dan merusak infrastruktur. Meskipun skalanya tidak terlalu besar, tetap saja menjadi ancaman. “Seperti pertengahan pekan kemarin. Ribuan pohon porak poranda diterjang angin ketika hujan melanda,” papar Yani. Longsor juga menjadi ancaman satu paket di kawasan tersebut. Ini didukung kondisi tebing dengan kemiringan 60 derajat. Warga sebenarnya sudah mengetahui risiko tinggal di kawasan tebing yang sewaktu-waktu bisa terjadi longsor.

Tetapi karena lahan yang mereka tinggali merupakan satu-satunya yang dimiliki, maka warga tetap harus tinggal di kawasan berbahaya tersebut. Sebagai anggota FPRB, kapan pun dan di mana pun memang harus siap siaga. Handy talky (HT) selalu mereka tenteng kemana pun pergi. Bukan untuk gayagayaan, tetapi HT merupakan salah satu bentuk kesiapsiagaan mereka terhadap bencana. Ketika ada bencana, mereka harus siap menuju ke lokasi untuk melakukan evakuasi.

“Kapanpun dan di manapun bencana itu datang, maka kami bertugas menjadi yang pertama mengakses lokasi bencana,” tambahnya. Sebelum tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) datang ke lokasi, mereka harus sudah terlebih dulu melakukan assesment lokasi bencana. Tak perduli waktunya apakah ketika sedang ada hajatan ataupun kepentingan keluarga, saat panggilan kemanusiaan menghampiri maka harus langsung berangkat.

“Jiwa raga harus siap kapanpun dan di manapun,” tandasnya. Seringkali Yani cs diprotes anak ataupun istrinya. Di saat suasana sedang genting, ketika terjadi angin kencang misalnya, tiba-tiba dirinya harus meninggalkan rumah. Acapkali di tengah ketakutan anak-anaknya, dengan berat hati harus meninggalkan mereka demi kepentigan oranglain. Eko Haryanto, anggota FPRB lainnya, juga merasakan hal yang sama.

Meskipun dia belum memiliki anak dan istri alias lajang, tapi Eko juga rela meninggalkan kesenangan untuk berhura-hura demi tugas mulia tersebut. Sering ia harus menginap di lokasi bencana beberapa malam untuk memastikan kondisi lokasi baik-baik saja. “Tahun baru kemarin kalau yang lain nonton, main di mal atau lihat pesta kembang api di Titik Nol, saya justru jaga di posko,” ujarnya.

Erfanto Linangkung
Bantul







Berita Lainnya...