Edisi 11-01-2017
Semua Wilayah Ponorogo Rawan Tanah Gerak


PONOROGO– Tim peneliti dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Bandung menyebutkan, semua wilayah di Ponorogo rawan bencana tanah gerak. Itu diperparah dengan kondisi geografis berbukit-bukit.

Ketua Tim Peneliti PVMBG Heri Purnomo mengatakan, ada empat titik yang disurvei dari belasan titik tanah gerak yang dilaporkan DPBD Ponorogo ke Badan Geologi. Titik yang disurvei, di antaranya di Desa Bekiring, Kecamatan Pulung; Desa Sriti dan Tempuran, Kecamatan Sawoo; Desa Talun, Kecamatan Ngebel; dan Desa Tugurejo, Kecamatan Slahung. Heri menyebut, ada empat penyebab terjadinya tanah gerak di Ponorogo.

Mulai dari jenis tanah yang merupakan tanah pelapukan, kondisi kemiringan tanah yang terjal, curah hujan yang tinggi selama setahun terakhir, dan alih fungsi lahan. Heri menyatakan, seluruh wilayah di Ponorogo rawan tanah gerak, terutama yang berada di lereng gunung. Hal ini mengingat Ponorogo didominasi daerah yang berada di lereng Gunung Wilis dan berbukit- bukit.

Dia menerangkan, di semua lokasi yang didata, termasuk di Tugurejo, jenis tanahnya merupakan tanah pelapukan sehingga mudah tergerus air dan tidak memiliki daya cengkeram yang kuat dengan lapisan batuan di bawahnya. Kemiringan cukup terjal sekitar 70 derajat sehingga mudah tergelincir. Sementara curah hujan yang tinggi membuat air mudah meresap dan membuat tanah semakin gembur sehingga mudah bergerak.

“Yang juga sangat berpengaruh adalah alih fungsi lahan. Dari hutan yang memiliki tanaman keras dan akar yang kuat menjadi permukiman dan ladang, kebun, atau sawah. Hal ini membuat air yang meresap tidak ada yang menahan karena tidak ada akar di bawah sana. Akibatnya, tanah menggembur dan mudah meluncur,” urai Heri Purnomo seusai melakukan pendataan di Desa Tugurejo kemarin.

Tim merekomendasi agar warga segera mengungsi ke lokasi yang aman bila turun hujan. Sebab, kemungkinan pergerakan tanah masih akan terus terjadi. Pembuatan selokan untuk mengalirkan air hujan langsung menuju sungai juga sangat disarankan, selain segera menutup retakan tanah dengan tanah lempung untuk mencegah air masuk ke celahcelahnya.

Dari seluruh titik yang disurvei, lanjut Heri, relokasi adalah upaya mitigasi terakhir yang bisa menjadi pilihan. Warga masih bisa tetap tinggal di lokasinya saat ini dengan berbagai catatan. Di antaranya, membuat rumah semipermanen atau rumah panggung dari kayu, menghindari lereng, dan tidak memotong lereng secara tegak bila ingin membuat rumah.

Kades Tugurejo Siswanto menyatakan, saat ini sudah enam rumah warga desanya yang dibongkar total. Ini karena sudah retak parah. Rumah yang mengalami kerusakan ringan jumlahnya mencapai puluhan dan terus bertambah. Dua kelas di SDN Tugurejo juga sudah dibongkar karena retak parah dan membahayakan siswa SD tersebut. “Beberapa warga sudah berupaya relokasi, tapi dengan biaya sendiri.

Warga sudah ingin direlokasi, sudah melakukan pengajuan, tapi masih menunggu keputusan dari pemerintah,” ungkap Siswanto. Kabid Kedaruratan dan Logistik Dinas Penanggulangan Bencana Darah (DPBD) Kabupaten Ponorogo Setyo Budiono menyatakan, untuk sementara pihaknya terus menyosialisasikan rekomendasi tim peneliti.

Di antaranya agar warga segera melakukan penghijauan dengan tanaman keras dan tidak membangun rumah permanen. “Warga juga tetap diminta waspada saat hujan tiba. Kami sudah siapkan tenda-tenda pengungsian di lokasi yang cukup aman,” pungkasnya.

dili eyato

Berita Lainnya...