Edisi 11-01-2017
Harus Lebih Dewasa dan Terus Perbaiki Hubungan Sesama Suporter


Panser Biru , salah satu pendukung fanatik PSIS Semarang, saat ini sudah menginjak usia 15 tahun. Berdiri pada 2001, elemen suporter terbesar tim berjuluk Mahesa Jenar itu terus berupaya memperbaiki organisasi agar lebih dewasa ke depannya.

Sejak berdiri hingga saat ini, organisasi suporter tersebut banyak mengalami dinamika persoalan, salah satu yang mencolok yakni bentrok antarsuporter dengan klub lain. Masih ingat dengan kasus penyerangan bus suporter Persijap Jepara di jalan tol, yang berbuntut proses hukum terhadap para pelakunya? Kemudian juga kerusuhan antarsuporter di Stadion Kamal Junaidi pada 2006, yang masih menyisakan aroma dendam hingga saat ini.

Tidak hanya keributan dengan sesama pendukung sepak bola, 2013 silam juga terlibat bentrok dengan warga Godong, Kabupaten Grobogan, usai pulang meng-hadiri laga Persipur Purwodadi kontra PSIS Semarang. Rentetan peristiwa tersebut menjadi pelajaran berharga anggota supaya tidak kembali terulang.

Pengurus Panser Biru pun kini terus berupaya mengharmoniskan kembali ketegangan antarsuporter. Di antaranya dengan menggelar anjangsana menemui para pentolan pengurus klub. “Saat ini hubungan dengan suporter Persijap sudah lebih baik. Pengurus rela datang lebih awal sebelum pertandingan untuk membuka pintu agar tidak ada keributan saat laga,” kata Sekretaris Panser Biru Wisnu Adi Nugroho baru-baru ini.

Wisnu menyebut secara umum organisasinya tidak ada persoalan serius dengan suporter lainnya, termasuk dengan Pasoepati , suporter fanatik Persis Solo. Munculnya riak-riak kecil dendam suporter tidak saat Piala Polda Jateng 2015 silam, tapi sebelumnya pernah terjadi. “Ribut dengan Pasoepati, itu hanya tahi-tahi ayam, sumbu pendek saja karena setelah itu baik lagi sampai sekarang,” ucapnya.

Jelang kompetisi 2017 bergulir,Panser Biru ikut membenahi internal. Saat ini sudah resmi diterbitkan 300 kartu tanda anggota (KTA) tahap ketiga yang dikoordinir oleh Ris Hertanto pemilik akun Facebook Ris Hertanto MahesaJenar BF. Pendataan ulang dimaksudkan untuk memantau anggota agar tertib dan lebih terkoordinir.

Semisal ada oknum yang melakukan pelanggaran berat, sanksi tegas akan diberlakukan oleh pengurus dengan berpedoman pada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga (AD/ART). Wisnu menjelaskan, dulu ada anggota yang diultimatum oleh pengurus lantaran melakukan pelanggaran berat. Tindakan yang dikategorikan pelanggaran berat adalah melakukan provokasi dan menyebarkan informasi via media sosial yang merugikan organisasi suporter.

“Pernah dengar Ambon Tengil, itu sudah kami ultimatum. Rata-rata setelah kami beri teguran keras, mau introspeksi, jadi tidak sampai pada sanksi pemecatan,” paparnya. Ketua Umum Panser Biru, Kepareng juga tidak hentihenti mengingatkan para anggotanya untuk menahan diri agar tidak terpancing berbuat kerusuhan.

Salah satunya ketika suporter PSCS Cilacap akan melintas di Semarang menyaksikan laga delapan besar Indonesia Soccer Championship (ISC) Seri B lalu. Dia sendiri juga sudah memberi jalur aman kepada suporter yang melintas. “Wis podo anteng neng omah wae , PSIS sesuk iseh butuhke kowekowe ,” ujar pria yang biasa disapa Wareng itu.

ARIF PURNIAWAN
Kota Semarang

Berita Lainnya...