Edisi 12-01-2017
Lagi, Pilot Terindikasi Konsumsi Narkoba


JAKARTA– Sejumlah kasus pilot yang mengonsumsi narkoba membuat jaminan keselamatan penerbangan di Tanah Air patut dipertanyakan.

Teranyar, dua pilot maskapai penerbangan Susi Air diindikasikan mengonsumsi narkoba jenis morfin. Kedua pilot asing, yakni Bas Hellings dan David Eloy, diketahui terindikasi positif menggunakan narkoba setelah Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Cilacap memeriksa urine pilot dan kru pesawat yang baru mendarat di Bandara Tunggul Wulung, Cilacap, Jawa Tengah, kemarin.

Selain dilarang menerbangkan pesawat, kedua pilot tersebut langsung dibawa ke kantor pusat BNN di Jakarta untuk pemeriksaan lebih intensif. “Pilot yang pada deteksi awal oleh pihak yang berwenang terindikasi menggunakan narkoba dilarang menerbangkan pesawat. Pilot tersebut harus segera diperiksa secara intensif baik di Balai Kesehatan Penerbangan Ditjen Perhubungan Udara maupun BNN,” ujar Kepala Bagian Kerja Sama dan Humas Ditjen Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Agoes Soebagio di Jakarta kemarin.

Dalam penerbangan, pilot menggunakan narkoba merupakan ancaman karena bisa berdampak fatal. Berdasar laporan yang pernah dirilis Badan Penerbangan Federal Amerika Serikat/FAA dan Kantor Pengobatan Aerospace/OAM), 11% dari 5.321 pilot yang terlibat kecelakaan penerbangan pada 1990 dan 2005 dinyatakan positif menggunakan narkoba. Selain itu 37% dari 1.353 pilot yang tewas dalam kecelakaan penerbangan pada 2004 dan 2008 positif narkoba.

Di Indonesia, kasus pilot terindikasi mengonsumsi narkoba ini bukan yang pertama. Pada pertengahan 2011, pilot maskapai Lion Air Muhammad Nasri ditangkap aparat Satuan Narkotika Polrestro Tangerang, saat pesta sabu bersama rekannya, Husni Thamrin dan Imron di sebuah apartemen. Pada 10 Januari 2012, pilot Lion Air kembali ditangkap kasus sama.

Kali ini Hanum Adhyaksa yang diringkus petugas BNN di ruang karaoke sebuah hotel di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari sakunya ditemukan barang bukti sabu 0,9 gram. Belum selesai. Pada 4 Februari 2012, giliran Syaiful Salam, juga pilot Lion Air, ditangkap petugas BNN saat mengisap sabu di sebuah hotel, Surabaya. Syaiful dihukum 1 tahun penjara.

Lebih ironis peristiwa penggerebekan oleh petugas BNN Provinsi Banten pada 22 Desember 2015. Saat itu disebuah apartemen Jalan Marsekal Suryadarma, Tangerang, diringkus empat orang. Tiga di antaranya merupakan calon kopilot dan mantan awak kabin Lion Air, yakni SH (pilot), MT (pramugara), SR (pramugari). Satu lainnya NN, ibu rumah tangga. Direktur Umum Lion Air Edward Sirait ketika itu mengungkapkan bahwa SH adalah calon kopilot Lion Air.

Statusnya belum pegawai resmi masakapi tersebut. Kemenhub menegaskan keselamatan penerbangan adalah hal utama. Karena itulah diperlukan upaya yang intensif untuk menangkal hal-hal yang membahayakan penerbangan. Kerja sama Kemenhub dan BNN atas pemeriksaan pilot merupakan salah satu bentuk komitmen untuk penguatan keselamatan penerbangan dan pemberantasan penggunaan narkoba di bidang transportasi secara umum.

“Komitmen tersebut akan dilaksanakan secara terus-menerus sejalan dengan arahan dan instruksi Menteri Perhubungan terkait pemberantasan narkoba di bidang perhubungan,” ujar Agoes. Wakil Ketua Komisi V DPR Muhidin M Said meminta pilot yang terindindikasi menggunakan narkoba apa pun jenisnya harus ditindak.Tindakan tegas diperlukan karena perilaku mereka mengancam keselamatan penerbangan.

“Sudah seharusnya Kemenhub selaku regulator penerbangan tegas kepada kru pesawat. Apalagi kalau kita melihat ke belakang belum lama ini kepada salah satu pilot Citilink yang terindikasi melanggar aturan dan diduga mabuk,” ujarnya. Sementara itu pihak maskapai Susi Air yang dimintai konfirmasi belum bisa memberikan keterangan resmi.

BNN Jaring Seluruh Awak Pesawat

Dua pilot Susi Air diketahui positif narkoba setelah petugas BNNK Cilacap menjaring seluruh awak pesawat yang baru mendarat, yakni siswa sejumlah sekolah penerbangan, pekerja di bandara tersebut dan kemudian melakukan tes urine. Dalam pemeriksaan urine yang dipimpin langsung Kepala BNNK Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Edy Santosa di Bandara Tunggul Wulung Cilacap tersebut, Bas Hellings yang baru mendarat dari Jakarta sempat menolak.

Bahkan dia mendekati salah seorang awak media dan membalikkan kamera telepon seluler yang mengarah kepadanya sambil berjalan meninggalkan ruang kedatangan. Yang bersangkutan baru bersedia melakukan tes urine setelahKepalaBandaraTunggulWulung Faizal M, kru Susi Air, dan sejumlah petugas melakukan pendekatan.

Hasilnya kemudian diketahui dia positif morfin. Rekannya David Eloy yang lebih dulu menjalani pemeriksaan urine juga diketahui positif morfin. Berdasar informasi, kedua pilot tersebut selama ini secara bergantian menjadi pilot dan kopilot Cessa Caravan dalam penerbangan Halim Perdanakusuma- Cilacap pergi pulang.

Kepala Bandara Tunggul Wulung Faizal M menyatakan apa yang dilakukan bersama BNN merupakan bentuk pengawasan terhadap penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba. Untuk itu, begitu pilot terindikasi positif narkoba, pihaknya langsung melarang pilot tersebut menerbangkan pesawat. Kendati demikian, dia mengatakan temuan tersebut belum final karena berdasarkan informasi dari manajemen maskapai, mereka akan mendatangkan dokter untuk mengklarifikasi dengan BNN.

“Selama rilis BNN belum disetujui untuk terbang, kami akan tetap ‘hold’ (tahan) personel atau pilot yang akan terbang ini. Untuk sementara ditahan sampai ada klarifikasi dari BNN,” katanya. Kepala BNNK Cilacap AKBP Edy Santosa mengatakan pemeriksaan urine tersebut digelar untuk menindaklanjuti kasus pilot Citilink yang diduga menggunakan obat-obatan terlarang.

“Kebetulan hari ini ada tiga penerbangan, termasuk siswa beberapa sekolah penerbangan. Mereka dilakukan cek urine untuk mencegah penyalahgunaan narkoba oleh kru penerbangan,” sebutnya. Dari 44 orang yang menjalani pemeriksaan urine, pihaknya menjumpai dua pilot yang positif morfin dan benzo. Selanjutnya pihaknya mendalami temuan itu, termasuk berdiskusi dengan dokter yang akan didatangkan manajemen Susi Air untuk mengetahui apa yang dikonsumsi dua pilot tersebut.

“Saat tanya, yang bersangkutan mengaku tidak mengonsumsi apa-apa, tetapi setelah dicek urine, mereka positif morfin dan benzo,” ucapnya. Pengamat penerbangan dari Arista Indonesia Aviation Center Arista Atmadjati menilai tindakan dua pilot bule dari maskapai penerbangan Susi Air yang sempat menolak diperiksa merusak citra penerbangan dalam negeri, khususnya bagi pilot maupun kopilot.

Dia mengatakan, semua pilot di Indonesia harus mengikuti aturan. Menurut dia, pemeriksaan urine yang dilakukan pihak bandara bekerja sama dengan BNN yang dilakukan dengan cara random sudah merupakan aturan yang harus ditaati. Karena itu hal tersebut berlaku untuk semua pilot, baik pilot lokal maupun asing. “Jika menolak, seperti dilakukan dua pilot Susi Air, mereka harus mendapat sanksi,” sebut dia.

ichsan amin/ant

Berita Lainnya...