Edisi 12-01-2017
Commuter Line Sampai Rangkasbitung


JAKARTA – PT KAI Commuter Jabodetabek berencana memperpanjang pelayanan KRL Commuter Line dari Stasiun Angke, Jakarta Barat hingga Stasiun Rangkasbitung, Banten.

Penambahan ini sebagai respons atas tingginya pengguna transportasi massal tersebut. Direktur Utama PT KCJ Muhammad Nurul Fadhila menjelaskan, operasional KRL pada relasi ini dilakukan sejalan dengan proses penyelesaian pembangunan sarana dan prasarana kelistrikan serta pembukaan kembali Stasiun Angke.

Serta, pembangunan loket di Stasiun Citeras dan Rangkasbitung. “Selesainya elektrifikasi sampai Stasiun Rangkasbitung maka dalam waktu dekat mungkin pada akhir bulan ini atau awal bulan depan kami mulai mengoperasikan KRL sampai Rangkasbitung,” ungkapnya. Menurut dia, pengoperasian Stasiun Angke ini membutuhkan persiapkan ekstra karena harus menata pedagang Pasar Angke.

Sebagai tahap awal pengoperasian rute Angke- Rangkasbitung, pihaknya akan mengoperasikan empat perjalanan yaitu Rangkasbitung- Angke dengan keberangkatan pukul 04.50 WIB, Angke-Rangkasbitung pukul 08.10 WIB, Rangkasbitung- Angke pukul 08.25 WIB, serta Angke-Rangkasbitung pukul 15.10 WIB. Dengan pengoperasian commuter line ini, kata dia, PT KCJ menargetkan rangkaian KA lokal berhenti beroperasi total pada April 2017.

Saat ini jumlah perjalanan commuter line dari Maja-Rangkasbitung sebanyak 153 perjalanan. Pada April nanti PT KCJ akan menambah menjadi 171 perjalanan. Tujuannya untuk memindahkan penumpang lokal Rangkasbitung yang jumlahnya mencapai 6.000 orang per hari. Menurut dia, perpanjangan perjalanan KRL ini sesuai target PT KCJ yang ingin melayani 1,2 juta penumpang pada 2019.

Target tersebut sangat realistis mengingat jumlah penumpang KRL terus mengalami peningkatan. Bila dibandingkan 2015, jumlah penumpang commuter line hingga akhir periode 2016 meningkat 8,9% atau 23.058.635 orang, sementara untuk penumpang per hari, KCJ mencatat 833.675 orang.

Agar target tersebut dapat terwujud, perbaikan dan peningkatan stasiun terus dilakukan salah satunya menambah vending machine , pintu keluarmasuk (gate ) elektronik, serta kemudahan pengisian kartu multitrip (KMT) dengan SMS atau internet banking , serta penghilangan denda penalti saat penumpang turun di stasiun yang tidak sesuai transaksi tiket. Hal ini menjadi penting sebab pengguna KMT cukup tinggi yakni 42,3%.

Berbanding tipis dengan tiket harian berjamin sebesar 42,7%, sedangkan pengguna emoney hanya 14,8%. Dengan masuk KMT, pengisian tidak harus dilakukan di loket, namun juga bisa melalui minimarket maupun SMS/ebanking . Menurut dia, sistem itu sedang diuji coba dan akan segera dioperasikan pada Februari 2017.

“Kami juga akan menambah 400 unit vending machine atau mesin transaksi tiket, serta mesin untuk fare adjustment ,” tambah Fadhila. Dia menambahkan, pengoperasian 12 rangkaian baru sebenarnya sudah dilakukan sebelumnya. Saat ini18keretadengan rangkaian itu telah beroperasi. Sementara rangkaian 10 gerbong total ada 31 kereta yang beroperasi.

“Karena kami tidak bisa leluasa menambah jadwal, maka solusi lain dengan memperpanjang rangkaian demi menambah daya angkut,” tutur Fadhil. Selain meningkatkan kapasitas angkut, PT KCJ juga berjanji akan meningkatkan keandalan infrastruktur untuk meminimalisasi gangguan. Pada 2016 tercatat ada 197 gangguan kereta.

Gangguan paling banyak dialami pada sistem kelistrikan KRL. Namun, jumlah gangguan itu terus menurun pada semester pertama hingga keempat. Pada semester pertama tercatat 65 gangguan, kemudian pada semester kedua 75 gangguan, semester ketiga 31 gangguan, dan semester keempat 26 gangguan. “Sistem pengamanan kelistrikan KRL dari Jepang ini banyak yang bersifat tertutup sehingga kami sulit untuk mempelajarinya.

Untuk mendatangkan suku cadangnya saja juga lama,” tambah Direktur Teknis PT KCJ Fredi Firmansyah. Pengamat transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Djoko Setiowarno menyambut baik tambahan perjalanan KRL baru dari Stasiun Rangkasbitung - Stasiun Angke dan sebaliknya. Selain mampu melayani kelas bawah dengan tarif murah, juga memberikan kenyamanan.

Kereta jenis ini juga menjawab kebutuhan transportasi utama masyarakat tersebut. Meski demikian, Djoko menilai penambahan layanan ini juga harus dipertimbangkan dalam sisi ekonomi warga. Sepengetahuannya, perjalanan kereta dari Rangkasbitung selalu dipenuhi barang belanjaan warga seperti sayur-mayur, lauk ikan, maupun lainnya.

Sementara melihat kondisi ini, PT KCJ sudah menetapkan aturan tidak memperbolehkan membawa barang berlebihan. “Ini yang harus dipikirkan KCJ. Jangan sampai mematikan ekonomi warga nanti. Terutama pedagang, kalau tengkulak, mungkin tidak masalah,” tutupnya.

yan yusuf





Berita Lainnya...