Edisi 29-01-2017
Hampir Tidak Bisa Terguling!


MEMANG harus mencoba langsung untuk mengetahui performa sesungguhnya dari kendaraan offroad berjenis cruiser FIN Komodo.

Selain lincah, bertenaga, dan nyaman, mobil ini nyaris tidak bisa terguling! Adrenalin saya terpompa kencang ketika medan offroadyang cukup ekstrem di Jalan Kolonel Matsuri, Cimahi itu saya libas dengan mobil yang tidak biasa: FIN Komodo. Tepatnya di perhelatan Carmudi Media Gathering pada Jumat (27/1) lalu.

Saya sudah sering melihat mobil tubular ini mondar-mandir di berbagai pameran automotif di Indonesia. Tapi, baru kali ini benarbenar mengendarainya langsung di medan offroad. Dan saya langsung merasa bersalah kepada Presiden Direktur PT Fin Komodo Teknologi Ibnu Susilo karena sejak awal telah memberi ekspektasi yang tidak terlalu tinggi terhadap mobil buatannya itu. Itu karena ternyata semua hal yang ada di mobil ini justru melebihi ekspektasi.

Hal pertama yang di luar dugaan adalah kelincahannya. Mengusung konsep tubular dengan jarak sumbu roda 2.000 mm, lebar 1.750 mm, dan tinggi 1.460 mm, Fin Komodo melaju di medan offroadbak seekor komodo yang sedang berlari. Mengendalikannya tidak sulit, hampir tidak berbeda dengan menyetir gokar. Satu-satunya catatan adalah radius putar yang kecil menuntut agar berhati-hati saat bermanuver. Suspensi double wishbone independen di depan dan belakang secara efektif menyeimbangkan mobil sehingga pengemudi dan penumpang tidak banyak terguncang.

“Kami rancang mobil ini nyaman, agar operator tidak mudah lelah menempuh jarak offroad yang jauh,” beber Ibnu. Alhasil, saya jadi tidak ragu—bahkan sangat percaya diri—untuk melalui jalanan offroad berundak dengan menginjak gas. Hal kedua yang melebihi ekspektasi saya adalah tenaganya. Siapa sangka mobil bermesin 4 tak 250 cc berpenggerak 2 roda dengan transmisi CVT otomatis itu bisa menanjak. Saya hanya perlu membejek gas dalam-dalam dan mobil dengan cekatan mendaki tanjakan berumput tanpa masalah.

Dan karena mesinnya kecil, mobil ini jadi sangat irit. Klaimnya, Fin Komodo mampu melahap 100 km jalan hutan hanya dengan 5 liter bensin. Hal ini mengingatkan saya pada ucapan Ibnu Susilo yang mantan eksekutif di perusahaan pesawat terbang nasional itu bahwa FIN Komodo diharapkan menjadi penghubung daerah tertinggal. Terbayang bagaimana FIN Komodo digunakan sebagai kendaraan perintis untuk membuka jalan di derah-daerah terpencil yang tidak tersentuh infrastruktur.

Setelah memutari dua kali lapangan offroad dengan kombinasi tanjakan, turunan, dan tikungan, saya berani mengatakan bahwa kestabilan kendaraan tersebut di medan offroad (yang ekstrem sekalipun) tidak diragukan lagi. Ada momen ketika saya menikung patah dengan cepat sembari menaiki tanjakan curam hingga ban sebelah kiri mobil terangkat hingga 1 meter, dan FIN Komodo kembali menapak dengan luwes.

”Bodi light structur FIN Komodo didesain dengan perhitungan matematika persamaan keseimbangan yang akurat untuk setiap komponen dan manufakturnya. Selama ada ban menapak, mobil ini sulit terbalik,” beber Ibnu Susilo sambil tersenyum. Mengembangkan Ekosistem PT Fin Komodo Teknologi mungkin jadi satu-satunya perusahaan kendaraan nasional yang produknya ada di jalanan. Indonesia menelurkan banyak inovasi, tapi semuanya rontok di tengah jalan atau berakhir sebagai purwarupa karena berbagai hal.

Mulai kehabisan dana, regulasi yang kurang ramah, hingga tidak menemukan pasar. Kunci sukses PT Fin Komodo Teknologi bisa bertahan hingga 12 tahun tidak hanya karena produk yang memang mumpuni di segmennya. Namun, karena semangat dan kegigihan pendirinya yang luar biasa. “Kami tidak sekadar membuat mobil, tapi juga membangun industri automotif dalam negeri,” beber Presiden Direktur PT Fin Komodo Teknologi Ibnu Susilo. Perusahaan tersebut didirikan pada 2005. Setelah melakukan riset pasar dan desain, produksi FIN Komodo dilakukan pada 2007.

Sejak 2011 dan beberapa versi penyempurnaan, FIN Komodo akhirnya resmi diproduksi massal. “Kini dalam setahun kami bisa memproduksi 120 unit (12 unit per bulan),” ujarnya. Saat ini FIN Komodo juga telah mampu mengembangkan infrastruktur, sistem, man power, dan supply chainmereka sendiri. Produksi mobil FIN Komodo telah didukung oleh 40 usaha kecil dan menengah (UKM) yang tersebar di Bandung, Purwakarta, Bogor, bahkan hingga Jawa Timur. Namun, Ibnu terkadang sedih melihat tanggapan masyarakat yang acap membandingkan produknya dengan berbagai produk asing.

”Padahal, butuh 21 tahun bagi sebuah industri automotif untuk matang dan mampu bersaing dengan global. Usia kami baru 12 tahun. Masih sangat muda, tapi optimistis hal itu akan tercapai,” ucap Ibnu sembari menyebut bahwa mobil FIN Komodo saat ini telah digunakan di Malaysia hingga Afrika.

Danang arradian