Edisi 07-02-2017
Pertumbuhan Ekonomi Jateng Melambat


SEMARANG – Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah (Jateng) selama 2016 melambat. Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng mencatat angka pertumbuhan ekonomi sebesar 5,28% atau lebih rendah dari tahun sebelumnya mencapai 5,47%.

Meski demikian, perfoma pertumbuhan ekonomi Jateng 2016 masih dianggap bagus karena tidak banyak provinsi mencapai angka 5,28%. Angka pertumbuhan perekonomian Jateng 2016 tersebut diukur berdasarkan Produk Domestik Re - gional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp1.092 triliun. Pertumbuhan ekonomi terjadi pada seluruh lapangan usaha.

Pertambangan dan penggalian merupakan lapangan usaha yang mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 18,73%. Jasa perusahaan menyusul di peringkat berikutnya sebesar 10,62% serta jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 9,86%. Kepala BPS Ja - teng Margo Yuwo - no menjelaskan, struktur per eko - nomian Jateng 2016 di dominasi oleh tiga lapangan usaha utama, ya - itu industri pengolahan (34,82%), per tanian, ke hu - tanan dan per - ikanan (15,05%), serta perdagang - an besar, eceran, dan reparasi mobil dan sepeda motor (13,39%).

“Perekonomian di Jateng tergantung dari industri pengolahan karena memberikan kontribusi terbesar. Bagaimana pergerakan industri pengolahan akan memengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan,” katanya. Sementara dari sisi pengeluaran pertumbuhan ekonomi tahun 2016 sebesar 5,28% didukung hampir seluruh kom ponen, kecuali komponen pengeluaran pemerintah. Sek tor ini mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 1,71%.

“Kementerian melakukan penghematan ang garan se - hing ga berdampak pada per - ekonomian melambat. Kon - sumsi belanja pemerintah le - bih rendah namun konsumsi rumah tangga stabil. Artinya, daya beli masyarakat masih terkendali,” katanya. Sementara itu, Direktur Kantor Perwakilan Bank Indo - nesia (BI) Jateng Rahmat Dwi - saputra mengatakan, keyakinan konsumen terhadap per - ekonomian di seluruh kota pe - nyelenggara survei konsumen di Jateng mengalami pe nu - runan.

“Ber dasarkan survei Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) pada Desember tercatat mencapai 12,51 poin atau menurun 7,5 poin dari bulan sebelumnya,” katanya. Di Bawah Ekspektasi Ekonomi Indonesia sepanjang 2016 tumbuh 5,02%. Meski lebih tinggi bila dibandingkan dengan 2015 yang sebesar 4,88%, realisasi ini lebih rendah dari target Anggaran Pen dapatan dan Belanja Nega - ra Perubahan (APBN-P) 2016 yang sebesar 5,2%.

Badan Pusat Statistik me - nyam paikan produk domestik bruto (PDB) nasional atas dasar harga berlaku sepanjang 2016 mencapai Rp12.406,8 triliun. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh stabil sebesar 5,01% menjadi penopang utama laju pertumbuhan PDB pada tahun lalu. Menteri Koordinator Bi - dang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan, pertumbuhan PDB 2016 sedikit di bawah ekspektasi pemerintah. Darmin sebelumnya memperkirakan PDB bisa tumbuh setidaknya 5,1%.

“Sedikit di bawah harapan karena kelihatannya pengeluaran pemerintah kuartal IV- 2016 malah terkontraksi,” kata Darmin di Jakarta ke - marin. Kepala BPS Suhariyanto menyebut, pengeluaran atau belanja pemerintah memang tumbuh negatif 0,15% bila dibandingkan tahun sebelumnya. Langkah pemerintah meng hemat anggaran pada tahun lalu membuat belanja pemerintah pada kuartal IV- 2016 tumbuh negatif 4,05%. Padahal, selama2015, konsumsi pemerintah tumbuh positif 5,32%.

“Kalau kita lihat belanja pemerintah mengalami kontraksi menjadi 4,05% ini karena penurunan belanja barang dan bantuan sosial,” katanya. Kondisi itu juga ikut ber - dampak pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga tumbuh lambat. Selama 2016, PMTB tercatat tumbuh 4,48%, sementara pada 2015 lalu PMTB tumbuh 5,01%. “Tapi pada kuartal IV-2016, PMTB tumbuh 4,8%, lebih baik di bandingkan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,06%,” kata dia.

Suhariyanto mengatakan, pertumbuhan PMTB yang melambat disebabkan menurunnya belanja modal yang turun 21,88%, termasuk impor mesin dan peralatan yang juga melemah. Sepanjang 2016, komponen PMTB terbesar tercatat disumbang oleh investasi bangunan, kendaraan, produk intelektual, dan peralatan lainnya. Sementara itu penyumbang utama PDB nasional, yakni konsumsi rumah tangga, tercatat relatif stabil meski pertumbuhannya sedikit turun dari 5,01% menjadi 4,99% pada kuartal IV 2016.

Meski - pun begitu, konsumsi rumah tangga yang memiliki porsi 56,5% terhadap PDB bisa tumbuh 5,01% selama 2016 atau lebih baik bila dibandingkan dengan tahun 2015 yang tumbuh 4,96%. Suhariyanto pun menjelaskan, konsumsirumahtangga terbesar berasal dari sektor transportasi, komunikasi, serta makanan dan minuman. Data penjualan mobil masih tumbuh dua digit.

“Nilai tran saksi debit juga tumbuh 18,29% lebih baik daripada 2015 yang sebesar 17,86%,” katanya. Sementara itu komponen pertumbuhan lainnya, yakni ekspor dan impor barang dan jasa, masih tercatat tumbuh negatif masing-masing 1,74% dan 2,27%. Adapun konsumsi lembaga nonprofit yang me layani rumah tangga (LNPRT) mencatatkan pertumbuhan tertinggi di antara yang lain sebesar 6,62%.

Tingginya pertumbuhan LNPRT tidak terlepas dari fenomena pemilihan kepala daerah serentak di berbagai daerah di Indonesia. Dari sisi lapangan usaha, Suhariyanto menyebut, struktur perekonomian nasional selama 2016 ditopang oleh tiga lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan sebesar 20,51%; pertanian, kehutan - an, dan perikanan sebesar 13,45%; dan perdagangan be - sar-eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,19%. Ketiga lapangan usaha tersebut masing-masing tercatat tumbuh 4,29%, 3,25%, dan 3,93%.

“Secara keseluruhan, lapangan usaha semuanya tumbuh positif, termasuk sektor pertambangan dan penggalian tumbuh 1,06%. Tahun lalu, sek - tor ini masih negatif 3,42%,” ujarnya. Ekonom Bank Permata Jo - sua Pardede menilai, pertumbuhan ekonomi 2016 sebesar 5% sesuai dengan prediksi se - jumlah ekonom. Dia menyebut konsumsi rumah tangga yang membaik terlihat dari beberapa sektor lapangan usaha yang juga ikut membaik. Josua mengatakan, beberapa data yang menjadi indikator membaiknya konsumsi rumah tangga juga terlihat pada penguatan indeks keyakinan konsumen, penjualan automotif, dan penjualan eceran.

Daya beli masyarakat yang membaik itu sejalan dengan inflasi tahun lalu yang tercatat berada di level rendah sebesar 3,02%. Pacu Investasi Sementara itu pemerintah menargetkan ekonomi Indo - nesia dapat tumbuh 5,1% di 2017. Target ini lebih tinggi da - ripada capaian pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang 5,02%. Menteri Keuangan (Men - keu) Sri Mulyani Indrawati me - ngatakan, untuk mencapai pertumbuhan di atas 5%, pemerintah akan memacu investasi. Demikian pula ekspor diharapkan tidak terganggu kondisi perekonomian global.

“Ada faktor stimulus dalam ekonomi kita membutuhkan investasi untuk lebih tumbuh lebih tinggi kalau kita ingin mencapai pertumbuhan di atas 5%,” tuturnya. Dia mengatakan, investasi merupakan motor penggerak pertumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Indonesia tak dapat sepenuhnya bergantung pada sektor konsumsi seperti pada tahun lalu. “Investasi ma sih perlu untuk digenjot lagi untuk tahun 2017 dan kita berharap momentum ekspor tidak akan terganggu oleh per kem bang - an politik yang terjadi di Amerika, Eropa serta di RRT,” katanya.

Menurut Sri Mulyani, sektor konsumsi di Indonesia dapat menjadi modal bagi Indo - nesia untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Namun Indo - nesia tetap perlu mencari alternatif lainnya demi mencapai pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

Hendrati hapsari/ rahmat fiansyah/ okezone

Berita Lainnya...