Edisi 07-02-2017
Ekonomi Sumut Tumbuh Positif


MEDAN– Setelah empat tahun mengalami perlambatan pertumbuhan, tahun 2016 perekonomian Sumatera Utara (Sumut) tumbuh 5,18% atau meningkat dibandingkan 2015 yang hanya tumbuh 5,10%.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Sumut Syech Suhaimi menuturkan, 2016 merupakan titik balik pertumbuhan ekonomi Sumut. Padahal pada 2016, secara nasional kondisi ekonomi kurang menguntungkan. Harga beberapa komoditas yang turun seperti batu bara, memberikan sinyal negatif pada ekonomi. Selain itu, terjadi kenaikan nilai dolar dan dari sisi fiskal pajak tidak mencapai target.

Pemerintah harus melakukan efisiensi anggaran dengan berbagai kebijakan. “Dengan kondisi ini, ternyata tren pertumbuhan ekonomi Sumut bergerak ke arah positif,” katanya di Medan, Senin (6/2). Syech Suhaimi menjelaskan, berdasarkan pendekatan produksi, seluruh lapangan usaha di Sumut tumbuh positif.

Pertumbuhan tertinggi pada lapangan usaha informasi dan komunikasi (infokom) sebesar 7,76%, diikuti jasa kesehatan dan kegiatan sosial sebesar 7,37%, dan pengadaan air sebesar 6,71%. Meski pertumbuhan infokom paling tinggi pada 2016, struktur perekonomian Sumut dari lapangan usaha pada 2016 didominasi oleh tiga lapangan usaha utama, yakni pertanian, kehutanan, dan perikanan yang berkontribusi sebesar 21,65%, industri pengolahan sebesar 19,98%, serta perdagangan besar- besaran dan reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 17,89%.

Infokom hanya berkontribusi 1,94% terhadap perekonomian Sumut. Sementara nilai produk domestik regional bruto (PDRB) berdasarkan harga konstan, Sumut berkontribusi Rp463,775 miliar dari 17 lapangan usaha yang dipantau. Kondisi ini tidak jauh berbeda dengan tahun 2015 sebesar Rp440,955miliar.

Kemudian, dilihat dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi tertinggi dicapai oleh komponen konsumsi rumah tangga sebesar 5,21% diikuti oleh pembentukan modal tetap bruto (PMTB) sebesar 4,81%, pengeluarankonsumsilembaganonprofitsebesar3,73%, sertapengeluaraneksporbarangdanjasatumbuh sebesar2,69%.

“Dari sisi pengeluaran, struktur ekonomi Sumut pada 2016 didominasi oleh komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga sebesar 53,07%, diikuti komponen ekspor barang dan jasa sebesar 38,07%, dan komponen PMTB sebesar 31,60%. Sementara pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami kontraksi minus 0,38%,” paparnya.

Pertumbuhan ekonomi Sumut sebesar 5,18% ini, kata Syech Suhaimi, menempati posisi ketiga di Pulau Sumatera setelah Bengkulu dan Sumatera Barat. Kontribusi ekonomi Sumut terhadap Pulau Sumatera pada 2016 mencapai 22,53% atau berada di urutan kedua. Kontribusi ini lebih besar dibandingkan pada 2015 yang hanya sebesar 22,12%.

Secara nasional, Sumatera berkontribusi sebesar 22,03% kepada PDRB atau naik 4,29%. Sementara Kepala Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sumut Arif Budi Santoso mengungkapkan, data angka yang disampaikan oleh BPS Sumut sepertinya sejalan dengan prediksi yang dilakukan BI Sumut.

Ekonomi Sumut cenderung sudah membaik sejalan dengan perbaikan ekonomi global dan nasional. “Sumber-sumber pertumbuhan pengeluaran didorong oleh konsumsi rumah tangga karena ada kenaikan permintaan dan kebutuhan pada hari besar keagamaan. Daya beli masyarakat juga meningkat akibat kenaikan harga CPO (crude palm oil ) dan karet,” paparnya.

siti Amelia



Berita Lainnya...