Edisi 07-02-2017
Pasar Jagung Menjanjikan, Petani Kian Bersemangat


KARO - PT Charoen Pokphand Indonesia (CPI) mendorong petani menghasilkan jagung berstandar nasional dan memudahkan segala proses jual beli yang transparan serta bebas pungutan liar (pungli).

PT CPI juga ingin kesejahteraan petani lokal meningkat dengan harga beli yang tinggi. “Kami mendorong kesejahteraan petani jagung lokal. Kalau petaninya sejahtera, perusahaan yang membutuhkan jagung pasti akan senang karena hasil tanam jagung petani pasti baik. Jadi kita sama- sama saling mendukung,” ujar Marketing Departmen PT CPI Bethmann Siagian saat acara sosialisasi penerimaan jagung di Mickey Holliday Resort, Karo, kemarin.

Bethmann menyebutkan, saat ini tingkat kebutuhan jagung untuk konsumsi pakan ternak mencapai 1,2 juta ton per tahun. PT CPI mampu menyerap jagung mencapai 800- 1.000 ton per hari yang berasal dari petani se Sumatera Utara dan Aceh. “Stok akan aman kalau sedang panen raya, tapi kalau tidak sedang panen raya kami khawatir akan ketersediaan jagung,” kata Ketua Gabungan Pengusaha Makan Ternak (GPMT) Sumut ini.

Menurut dia, kebijakan pemerintah yang menghentikan 40% impor jagung berdampak positif bagi petani lokal. Dengan penghentian impor petani jagung diharapkan bisa lebih bergairah menanam jagung karena harga jual juga tinggi. Namun di sisi lain, apabila pemerintah tidak segera merealisasi penambahan lahan baru untuk penanaman jagung, ketersediaan jagung secara nasional akan terganggu.

“Kami juga coba mendorong program pemerintah ini dengan memberikan pasar yang luas bagi petani ,” ujarnya. Petani jagung yang dihadirkan dalam acara sosialisasi itu berasal dari beberapa daerah, di antaranya Pematangsiantar, Kutacane, Medan dan Kabupaten Karo. Seorang petani jagung, Brahmana, mengatakan, sosialisasi yang diberikan PT CPI sangat bermanfaat bagi petani dan pengepul.

“Yang sering kami hadapi adalah adanya pungli, ketidaksesuian tingkat kadar air antara pengepul dan penerima barang di lapangan. Banyak oknum bermain sehingga kami kadang dipungli,” katanya. Jika pungli dihapus dan dilakukan sistem yang transparan, Brahmanayakinpetaniakanlebih semangat menanam jagung dan pengepul menjadi bergairah memasarkannya. “Mudah-mudahan kami bisa lebih sejahtera,” kata petani dari Kutacane ini.

eko agustyo fb



Berita Lainnya...