Edisi 07-02-2017
Belasan Ponsel Ditemukan di Lapas


MOJOKERTO– Lembaga Permasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Kota Mojokerto kembali tercoreng. Setelah 17 narapidana positif mengonsumsi narkoba, kemarin 15 ponsel ditemukan di dalam tahanan tersebut.

Belasan ponsel tersebut ditemukan petugas saat melalukan razia di sejumlah blok tahanan. Diduga, alat komunikasi itu dimanfaatkan para napi untuk menjalankan transaksi narkoba. Tak hanya menyita belasan ponsel, petugas juga menemukan dua senjata tajam di salah satu blok. Banyaknya barang terlarang di dalam tahanan itu praktis menjadikan evaluasi pihak Lapas. Kepala Lapas Kelas IIB Kota Mojokerto Muhammad Hanafi mengatakan, dalam razia yang digelar mendadak itu pihaknya juga mengamankan uang tunai Rp5,8 juta.

“Seluruh blok napi kami razia. Ini kami lakukan tidak terencana agar membuahkan hasil,” kata Hanafi usai menggelar razia. Menurut Hanafi, banyak modus yang digunakan para napi serta penjenguk untuk memasukkan barang-barang terlarang. Bahkan kata dia, aksi ini tak hanya dilakukan oleh pria. Banyak penjenguk wanita yang juga menjadi kurir narkoba. “Kadang narkoba disembunyikan di pakaian dalam, baik bra maupun celana dalam. Banyak modus yang memang memaksa kita harus ekstra dalam melakukan pengawasan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, masuknya barang terlarang ke dalam Lapas kerap kali terjadi saat pembesukan. Karenanya, pihaknya akan melakukan pengawasan lebih ketat terhadap keluarga napi saat membesuk. Terlebih, beberapa hari lalu petugas dari BNN Kota Mojokerto mendapati 17 napi yang positif mengonsumsi narkoba, setelah dilakukan tes urine. “Pencegahan akan kami efektifkan dengan pengawasan yang lebih ketat, terutama memang untuk memerangi peredaran narkoba,” pungkasnya.

Kepala BNN Kota Mojokerto AKBP Suharsi menegaskan, pihaknya akan terus melakukan tes urine terhadap kelompokkelompok rawan. Salah satunya napi. Langkah itu, kata dia, untuk mencegah peredaran narkoba di lingkungan Lapas. “Kami tidak berhenti di sini saja. Tes urine lanjutan akan kami gelar secara mendadak,” kata Suharsi. Sebelumnya, BNNK Mojokerto melakukan tes urine di Lapas Kelas II B Kota Mojokerto.

Dari 38 napi yang dites, 17 di antaranya positif mengonsumsi narkoba. Petugas juga merazia blok napi narkoba untuk menemukan benda-benda yang dipakai untuk mengonsumsi narkoba. Salah satunya bong sabusabu. Namun, petugas tak menemukan satu pun alat yang seharusnya tak boleh masuk Lapas tersebut. “Kami tak menemukan alat konsumsi narkoba. Handphone juga tidak kami temukan. Namun dari hasil tes urine, ada 17 napi yang dinyatakan positif mengonsumsi narkoba,” ungkap Kepala BNN Kota Mojokerto AKBP Suharsi usai menggelar tes urine.

70% Pelajar Gresik Konsumsi Narkoba

Sementara itu, BNNK Gresik menyebut, 70% lebih pengguna narkoba berasal dari kalangan pelajar SMP dan SMA sederajat. Kepala BNNK Gresik AKBP Agustianto mengungkapkan, pelajar yang mengonsumsi narkoba tidak hanya berasal dari kota, tetapi sudah bergeser ke pinggiran. Data BNNK Gresik selama 2016 mencatat, ada 379 penanganan perkara narkoba.

Dari jumlah tersebut, 266 kasus pelakunya pelajar SMP dan SMA sederajat. Terbesar di Gresik Selatan seperti di Kecamatan Menganti. Ironisnya lagi, 90% di antara para pelajar itu memakai narkoba jenis sabu- sabu. “Wilayah Gresik dekat dengan Surabaya sehingga mudah dijangkau para pengedar,” kata Agustianto kemarin. Menurut dia, peredaran narkoba di Gresik tidak hanya dominasi Gresik Selatan atau kawasan Gresik Kota semisal Kecamatan Gresik, Kebomas, dan Manyar, tapi sudah bergeser ke wilayah Gresik pinggiran, di antaranya Gresik Utara yang meliputi Kecamatan Sidayu, Panceng, Dukun, dan Ujungpangkah.

“Ada kasus di Kecamatan Ujungpangkah yang menimpa anak SMP kelas 1. Dia menggunakan heroin dan setelah saya rehab, harapannyasembuhkarena orang tuanya tidak ngurusi. Dan memang sembuh, tetapi saat kembali ke komunitasnya, tidak jadi pemakai, tapi pengedar. Akhirnya ditangkap Polsek Ujungpangkah,” ungkapnya. Ketua MWC NU Ujungpangkah H Rodli Syam mengaku prihatin dengan kondisi peredaran narkoba di Gresik Utara, khususnya di Ujungpangkah. Sebab, pihaknya mendapat laporan banyak pengedar dan pengguna di kecamatan yang berbatasan langsung dengan laut itu.

“Kalau dahulu paling hanya minuman arak, tapi sekarang bergeser ke narkoba jenis sabu dan pil koplo. Bahkan, di Ujungpangkah ada tempat khusus yang dipakai untuk mabukmabukan, yaitu disebut Kuburan Gedek,” ungkapnya.

Ashadi ik/tritus julan





Berita Lainnya...