Edisi 07-02-2017
Perempuan di Balik Kasus


Perempun. Kata perempun diambil dari bahasa Sansekerta “empu” yang berarti “dimuliakan”. Sedangkan “puan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia adalah lawannya “tuan” yang berarti “nyonya”.

Jadi perempuan bisa diartikan “nyonya yang dimuliakan”. Dalam Old Javanese English Dictionary (Zoetmulder, 1982) “wanita” diambil dari kata “wanted a” yang berarti “sesuatu yang diinginkan”, dalam hal ini oleh pria tentunya. Dalam tradisi Jawa, “wanita” berarti “wani ditoto” atau “mau diatur”. Saya sendiri lebih suka menggunakan istilah perempuan karena memang mereka makhluk mulia. Sebuah bangsa tidak akan ada jika tidak ada perempuan yang melahirkan anak. Ada pepatah surga di bawah telapak kaki ibu, yang notabene perempuan.

Di balik lelaki hebat, pasti ada perempuan di belakangnya. Tapi perempuan selalu punya dua sisi. Mereka bisa menghidupkan, bisa juga mematikan. Sejarah bercerita banyak pemimpin hebat tersungkur karena wanita. Mata Hari, seorang perempuan kelahiran Belanda dijuluki The Greatest Woman Spy karena berhasil menaklukkan pejabat tinggi militer pada Perang Dunia I. Kematian ribuan orang pada PD I diyakni berkat informasi yang diberikan wanita bernama asli Margaretha Geertruida Zelle yang pernah tinggal di Sumatra dan Jawa ini.

Dalam konteks Indonesia, perempuan selalu menghiasi kasus-kasus korupsi dan perpolitikan yang melibatkan orang-orang besar. Kerap, kasus sampingan itu muncul di tengah kasus utama yang sedang ramai dibicarakan. Secara kebetulan pula, orang yang sedang menangani kasus utama tersebut bisa dibilang sedang dalam masa puncak kariernya. Antasari Azhar dan Abraham Samad yang kebetulan menjabat ketua KPK pada tahun berbeda, "jatuh" karena dikait-kaitkan dengan perempuan.

Pun dengan Wakapolda Lampung mantan Dirreskrimum Polda Metro Jaya, juga dihubungkan dengan perempuan jelang penggantian jabatannya. Terbaru Rizieq Shihab yang tersandung karena diisukan punya obrolan mesum dengan Firda Husein di aplikasi chatting WhatsApp. Lagi-lagi, kasus ini muncul di tengah “perseteruannya” dengan gubernur non aktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama. Untuk semua kasus itu, ada yang bilang benar atau yang bilang itu hanya hoax.

Sebuah skenario yang dibikin orang dengan kuasa besar untuk menjatuhkan karakter seseorang. Semula saya termasuk orang yang skeptis dengan istilah “pengalihan isu” di negara ini. Tapi dengan berbagai kasus di atas, “pengalihan isu” itu bisa jadi dan mungkin memang ada. Entah siapa aktor di belakangnya, tetapi yang pasti dia punya kepentingan dan sangat diuntungkan. Tabik!

Rudini
Wartawan Koran Sindo

Berita Lainnya...