Edisi 07-02-2017
Tanggalkan Status Abdi Negara karena Tak Sesuai Hati Nurani


Bagi sebagian orang menjadi pegawai negeri sipil (PNS) adalah cita-cita bahkan untuk mencapainya rela menempuh berbagai cara.

Tidak jarang di antara mereka tertipu dan harus mengeluarkan sejumlah uang dengan imingiming bisa menjadi PNS. Berbeda dengan Agus Sujana, 54 warga Kampung Cijeruk, RT 05/RW 08, Desa Lembang, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, yang lebih memilih berhenti menjadi PNS padahal masa kerjanya masih tersisa sembilan tahun lagi menjelang pensiun.

Agus masuk menjadi pegawai honorer tahun 2003 dan diangkat menjadi PNS pada tahun 2005 dan bekerja di Bappeda Pemkab Tulang Bawang, Provinsi Lampung. Dia pun sempat pindah ke Kabupaten Pringsewu, Lampung, dan selanjutnya pada tahun 2013 mengundurkan diri secara sepihak dari posisinya sebagai PNS. Dia menuturkan, sebelum menjadi PNS dirinya beberapa kali bekerja di perusahaan konstruksi dan pabrik semen di Cilacap dan Maros, Sulawesi Selatan.

Namun akhirnya, Agus memilih menjadi PNS dengan tujuan ingin turut dalam memberikan pelayanan ke masyarakat. Selama bekerja di pemerintahan, Agus mengakui banyak hal yang tidak sejalan dengan hati nuraninya. Bahkan tidak jarang, dirinya harus bersebrangan dengan rekan maupun atasannya. Dia mencontohkan, dalam pembahasan anggaran dengan legislatif sehari sebelum pengesahan dan ketuk palu, dirinya pada malam harinya mendistribusikan uang. Apalagi dalam pembahasan APBD perubahan dewan sudah mengintip mana saja yang dianggap berpotensi menguntungkan.

“Intinya agar pembahasan anggaran lancar,” tutur pria yang kini sudah memiliki empat orang cucu ini. Meskipun Agus PNS bergolongan II D dan akan naik ke III A, setiap per tiga bulan menerima “uang terima kasih” tidak kurang dari Rp10 juta dan gajinya sendiri sekitar Rp2,2 juta per bulannya. Uang tersebut berasal dari satuan kerja yang merasa bahwa telah dibantu program atau proyeknya diloloskan. Namun banyaknya uang yang dihasilkan tidak membuat batinnya tenang, malah sebaliknya dirinya merasa gelisah karena menganggap hal itu tidak patut dilakukan sebagai abdi masyarakat.

“Saya bukan orang suci tapi saya tidak ingin terlalu jauh terlibat dalam praktik seperti itu sehingga memutuskan untuk mengundurkan diri,” bebernya. Memutuskan untuk berhenti dari PNS bukanlah keputusan yang mudah mengingat sudah terbayang segala konsekuensinya yang pasti akan mengganggu karena selama ini serba kecukupan. Tapi bagaimana pun ini keputusan yang harus diambil dengan resiko apa pun. Dengan modal uang warisan sebesar Rp200 juta, Agus lalu menggunakan Rp150 juta untuk mendirikan koperasi simpan pinjam Putra Surya dengan tujuan membantu masyarakat.

Akan tetapi koperasi yang didirikannya hanya sanggup bertahan delapan bulan akibat banyaknya kredit macet. Agar kebutuhan hidup terpenuhi, Agus kembali berusaha membuat roda dan lapak untuk menjual gorengan dan surat kabar di Jalan Raya Lembang. Dengan modal Rp200.000, Agus berupaya untuk menjalankan usahanya yang ditekuni sejak akhir tahun 2015 lalu. “Alhamdulillah sekarang penghasilan kotor per harinya rata-rata Rp300.000,” ungkapnya.

Meskipun berjualan koran dan gorengan, Agus merasa menjalani hidup tenang dan tidak merasa dikejar-kejar oleh rasa bersalah.”Saya lebih merasa nyaman menjadi penjual gorengan daripada dulu saat menjadi PNS. Sekarang, walaupun penghasilan pas-pasan tapi saya tidak merugikan orang lain,” pungkasnya.

Raden Bagja Mulyana
Kabupaten Bandung Barat



Berita Lainnya...