Edisi 07-02-2017
Warga Resah Gerakan Tanah


GARUT - Pergerakan tanah di Desa Pancasura, Kecamatan Singajaya, Kabupaten Garut, berlangsung menahun. Dari informasi yang dihimpun, pergerakan tanah di wilayah itu telah terjadi sejak era 80-an.

Fenomena alam ini setidaknya telah membuat konstruksi bangunan permanen mengalami keretakan, baik pada dinding dan lantai. Akibatnya, sebagian besar penduduk di Desa Pancasura tidak memiliki rumah permanen. “Dari sekitar 2.100 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 6.500 penduduk, yang memiliki rumah permanen sangat sedikit. Sebagian besar penduduk desa menempati rumah panggung,” kata Kepala Desa Pancasura Saefulloh A Ridho, kemarin.

Menurut Saeful, sebagian besar warga enggan mendirikan bangunan permanen untuk tempat tinggal dengan alasan khawatir mengalami kerusakan. Dia menyebut, konstruksi bangunan permanen akan mengalami kerusakan dalam waktu satu hingga dua tahun setelah dibangun. “Biasanya satu atau dua tahun, rumah permanen yang dibangun akan mengalami keretakan pada bagian dinding dan lantainya. Itulah penyebab kenapa banyak warga memilih mendirikan rumah panggung yang terbuat dari kayu ketimbang rumah permanen dari konstruksi beton,” ungkapnya.

Meski memilih mendirikan rumah panggung, bukan berarti warga terbebas dari dampak pergerakan tanah. “Sebab rumah panggung juga ikut terdampak, namun tidak separah dengan rumah permanen. Misalnya ikut bergeser karena tanah di bawah rumah bergerak. Posisi rumah jadi berubah,” ujarnya. Tidak jarang, pergerakan tanah itu juga membuat penopang rumah panggung mengalami ambles. “Solusi bagi rumah panggung yang ambles dan berubah posisi ini adalah dengan cara didongkrak menggunakan dongkrak mobil. Lalu penopang rumah diganjal oleh batu agar posisinya kembali datar seperti semula,” paparnya.

Dia menyebut, permukiman warga yang terdampak pergerakan tanah di desanya adalah Kampung Ciangkra, Kampung Sawah Tengah, Kampung Sukamukti, Kampung Sawah Peuteuy, Kampung Sawah Limus, Kampung Cidedeu, dan Kampung Cigambi. Saeful sendiri mengaku tak mengetahui berapa jumlah rumah yang mengalami kerusakan akibat pergerakan tanah di desa yang dia pimpin.

“Sebab selama ini (pergerakan tanah) telah dianggap warga sebagai hal yang biasa. Itulah mengapa aparat pemerintah terkecil di perkampungan tidak melakukan penghitungan. Namun dari pemantauan yang saya lakukan ke lapangan, jumlah rumah yang terdampak ini sangat banyak. Jangankan rumah warga, kantor Desa Pancasura juga mengalami retakan-retakan,” ungkapnya. Dia menambahkan, masyarakat di Desa Pancasura selama ini tidak pernah merasakan langsung dampak dari pergerakan tanah yang terjadi. Saeful mengatakan, warga baru mengetahui terjadinya pergerakan tanah dari retakan-retakan yang muncul di bagian rumah.

“Warga termasuk saya sendiri, tidak merasakan apa-apa saat pergerakan tanah terjadi. Tahu-tahu dinding dan lantai rumah sudah retak begitu saja,” ujarnya. Sementara itu, retakan tanah terjadi di Lingkungan Jelat, Kelurahan/Kecamatan Pataruman, Kota Banjar. Akibatnya rumah milik Yulijar, 50, yang dihuni oleh lima orang anggota keluarga, ambruk, kemarin. Peristiwa bermula sewaktu hujan deras mengguyur wilayah Kota Banjar dan sekitarnya.

Rumah milik Yulijar kebetulan berada di pinggir tebing. Sebelumnya memang terjadi pergerakan tanah hingga retak namun ditambah guyuran hujan menambah besar retakan dan akhirnya sebagian rumah milik Yulijar terutama bagian dapur ambruk pada malam hari.

“Kejadiannya malam setelah hujan turun, sewaktu sedang tertidur tiba-tiba mendengar suara gemuruh di bagian belakang, lalu saya bangun karena kaget. Setelah dicek ternyata bagian dapur dan sebagian kamar rumah saya sudah ambruk,” ujarnya.

Fani ferdiansyah/ dadang hermansyah








Berita Lainnya...