Edisi 07-02-2017
Ekonomi DIY Tumbuh di Atas Nasional


YOGYAKARTA– Pertumbuhan ekonomi DIY mencapai 5,05%. Angka tersebut lebih tinggi dibanding pertumbuhan nasional yang hanya 5,02%. Capaian ini juga di atas prediksi akhir tahun lalu yakni bakal tumbuh 5,00%.

Namun pertumbuhan ini hanya dinikmati sebagian kecil warga DIY. Hal ini dilihat dari ketimpangan pendapatan atau gini ratio di DIY yang merupakan terburuk di Indonesia. Gini ratio DIY menempati peringkat ketimpangan tertinggi sebesar 0,425; disusul Gorontalo 0,41; serta Jawa Timur 0,402. Badan Pusat Statistik (BPS) DIY juga mencatat gini ratio di provinsi ini sejak 2013 hingga 2016 tidak banyak bergeser. Pada 2013 mencapai 0,44; satu tahun kemudian turun menjadi 0,42; lalu pada 2015 angkanya tak beranjak yakni tetap 0,42; dan angka ini tidak juga membaik hingga 2016.

Kepala BPS DIY JB Priyono menyebutkan, per ek o - nomian DIY yang diukur dari nilai Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) atas dasar harga berlaku tahun 2016 mencapai Rp110,1 triliun. Sehingga PDRB per kapita tercatat Rp29,59 juta. PDRB per kapita tersebut meningkat 7,31% dibanding 2015. “Pada 2015 lalu, PDRB per kapita Rp27,57 juta,” tuturnya. Perekonomian DIY pada tahun lalu tumbuh 5,05% atau lebih tinggi dibanding 2015. Tahun 2015, ekonomi hanya mampu tumbuh 4,95%.

Dari sisi produksi, pertumbuhan didorong oleh peningkatan nilai tambah pada semua lapangan kerja. Lapangan usaha yang memiliki pertumbuhan tertinggi adalah pengadaan listrik dan gas yakni sebesar 14,26%. Pemicu pertumbuhan ekonomi lainnya adalah lapangan usaha informasi dan komunikasi 8,32%. Sementara perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan sepeda motor sebesar 6,09%. Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi didorong oleh peningkatan konsumsi rumah tangga, pengeluaran konsumsi pemerintah dan pembentukan modal tetap bruto.

Dari sisi lapangan usaha, yang memberi andil terbesar adalah informasi dan komunikasi. Sektor ini memberi andil terhadap PDRB sebesar 0,89%. Sedangkan industri pengolahan serta penyediaan akomodasi dan makan minum memberi andil masing-masing 0,65% serta 0,52%. “Semua lapangan usaha memberi andil positif,” kata Priyono, kemarin.

Struktur perekonomian 2016 yang diukur dari distribusi persentase PDRB atas dasar harga berlaku menunjukkan tidak ada lapangan usaha yang secara mencolok mendominasi perekonomian DIY. Kontribusi masing-masing lapangan usaha dalam PDRB DIY 2016 bervariasi di bawah 14%. Tiga lapangan usaha yang memiliki kontribusi terbesar adalah industri pengolahan yang berkontribusi 13,21%. Sementara pertanian, kehutanan, dan perikanan berkontribusi 10,41%.

Penyediaan akomodasi dan makan minum sebanyak 10,22%. Tiga lapangan usaha yang memberi kontribusi terendah adalah pengadaan air 0,1%, pengadaan listrik dan gas sebesar 0,13%. “Kalau pertambangan dan penggalian sebesar 0,54%,” katanya. Ketua Dewan Pengurus Dae - rah (DPD) Himpunan Industri Me bel dan Kerajinan Indonesia (Hi mki) DIY Tim bul Raharja me ngatakan, meski pertum - buh an ekonomi DIY sudah ba - gus karena di atas nasional, tapi ada hal harus dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah harus mem permudah segala hal ter - kait dengan investasi. “Inves ta - si akan menggerakkan roda eko nomi DIY,” katanya.

Di Bawah Harapan

Ekonomi Indonesia sepanjang 2016 tumbuh 5,02%. Mes - ki lebih tinggi bila dibandingkan d e ngan 2015 yang sebesar 4,88%, realisasi ini lebih rendah dari target APBN-P 2016 yang sebesar 5,2%. BPS menyampaikan produk domestik bruto (PDB) nasional atas dasar harga berlaku sepanjang 2016 mencapai Rp12.406,8 triliun. Konsumsi rumah tangga yang tumbuh stabil sebesar 5,01% menjadi pe no - pang utama laju pertumbuhan PDB pada tahun lalu.

Menteri Koordinator Bi - dang Perekonomian Darmin Na su tion mengatakan, per - tum buhan PDB 2016 sedikit di ba wah ekspektasi pemerintah. Dar min sebelumnya memper - kirakan PDB bisa tumbuh setidaknya 5,1%. “Sedikit di bawah ha rapan karena kelihatannya pengeluaran pemerintah kuartal IV-2016 malah terkontraksi,” kata Darmin di Jakarta kemarin. Kepala BPS Suhariyanto me - nye but, pengeluaran atau belanja pemerintah memang tum buh negatif 0,15% bila di ban ding - kan tahun sebelumnya.

Lang - kah pemerintah meng he mat anggaran pada tahun lalu membuat belanja pemerintah pada kuartal IV-2016 tumbuh negatif 4,05%. Padahal, selama 2015, konsumsi pemerintah tumbuh positif 5,32%. “Kalau kita lihat belanja pemerintah mengalami kontraksi menjadi 4,05% ini karena penurunan belanja ba - rang dan bantuan sosial,” ka - tanya.

Kondisi itu juga ikut ber - dam pak pada komponen pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi juga tum buh lambat. Selama 2016, PMTB tercatat tumbuh 4,48%, se mentara pada 2015 lalu PMTB tumbuh 5,01%. “Tapi pada kuartal IV-2016, PMTB tumbuh 4,8%, lebih baik dibanding - kan dengan kuartal sebelumnya yang tumbuh 4,06%,” kata dia. Suhariyanto mengatakan, per tumbuhan PMTB yang me - lambat disebabkan menurunnya belanja modal yang turun 21,88%, termasuk impor mesin dan peralatan yang juga me le - mah.

Sepanjang 2016, komponen PMTB terbesar tercatat di - sumbang oleh investasi ba - ngun an, kendaraan, produk intelektual, dan peralatan lainnya. Sementara itu penyumbang utama PDB nasional, yakni konsumsi rumah tangga, tercatat relatif stabil meski pertumbuh - annya sedikit turun dari 5,01% menjadi 4,99% pada kuartal IV 2016. Meskipun begitu, konsumsi rumah tangga yang me - mi liki porsi 56,5% terhadap PDB bisa tumbuh 5,01% selama 2016 atau lebih baik bila diban - dingkan dengan tahun 2015 yang tumbuh 4,96%.

Suhariyanto pun menjelas - kan, konsumsi rumah tangga terbesar berasal dari sektor trans portasi, komunikasi, serta makanan dan minuman. Data pen jualan mobil masih tumbuh dua digit. “Nilai transaksi debit ju ga tumbuh 18,29% lebih baik daripada 2015 yang sebesar 17,86%,” katanya. Sementara itu komponen per tumbuhan lainnya, yakni eks por dan impor barang dan jasa, masih tercatat tumbuh ne - gatif masing-masing 1,74% dan 2,27%.

Dari sisi lapangan usaha, Su - hariyanto menyebut, struktur perekonomian nasional selama 2016 ditopang oleh tiga lapangan usaha utama, yakni industri pengolahan sebesar 20,51%; per tanian, kehutanan, dan per - ikan an sebesar 13,45%; dan per dagangan besar-eceran, re - pa rasi mobil dan sepeda motor sebesar 13,19%. Ketiga lapa ng - an usaha tersebut masing-ma - sing tercatat tumbuh 4,29%, 3,25%, dan 3,93%.

Pacu Investasi

Sementara itu pemerintah menargetkan ekonomi Indo ne - sia dapat tumbuh 5,1% di 2017. Target ini lebih tinggi daripada capaian pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang 5,02%. Menteri Keuangan (Men - keu) Sri Mulyani Indrawati me - ngatakan, untuk mencapai pertumbuhan di atas 5%, pemerintah akan memacu investasi. De - mi kian pula ekspor diharapkan tidak terganggu kondisi per eko - nomian global.

“Ada faktor stimulus dalam ekonomi kita mem butuhkan investasi untuk lebih tumbuh lebih tinggi kalau kita ingin mencapai pertum buh an di atas 5%,” tuturnya. Dia mengatakan, investasi me rupakan motor penggerak per tumbuhan ekonomi dalam jangka panjang. Indonesia tak da pat sepenuhnya bergantung pa da sektor konsumsi seperti pa da tahun lalu. “Investasi ma - sih perlu untuk digenjot lagi untuk tahun 2017 dan kita ber ha - rap momentum ekspor tidak akan terganggu oleh perkembangan politik yang terjadi di Ame rika, Eropa serta di RRT,” ka tanya.

erfanto linangkung/ rahmat fiansyah/ okezone

Berita Lainnya...