Edisi 07-02-2017
Klaten Anggarkan Rp17,1 Miliar Untuk Rehab 174 Ruang Kelas


KLATEN – Dinas Pendidikan (Dispendik) Klaten segera melakukan perbaikan atau rehabilitasi untuk 174 ruang kelas yang rusak. Perbaikan menggunakan anggaran sebesar Rp17,1 miliar dari Dana Alokasi Khusus (DAK) Tahun 2017. Ruang kelas yang aka

n diperbaiki meliputi 120 ruang kelas SD dan 54 ruang kelas SMP. Ratusan ruang kelas tersebut telah mengalami kerusakan sejak beberapa tahun terakhir. Kepala Dispendik Klaten Pantoro menyebutkan, ruang kelas yang akan diperbaiki hampir merata di seluruh wilayah mulai dari pedesaan hingga perkotaan. “Sudah ada (anggaran) dari pusat.

Nanti yang menerima perbaikan 174 ruang kelas. Sekarang masih proses verifikasi,” kata Kepala Dispendik Klaten Pantoro saat berbincang dengan wartawan, ke-marin. Verifikasi dilakukan oleh tim khusus yang ditunjuk Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud). Hasil verifikasi menjadi rujukan untuk menetapkan tingkat kerusakan ruang kelas.

Mulai dari rusak ringan, sedang, dan berat. “Dari hasil verifikasi itu enggak boleh dibuat macammacam. Ada kriterianya nanti (rusak) ringan, sedang, atau berat. Makanya dari laporan (verifikasi) harus dicek dulu,” kata Pantoro. Diharapkan, perbaikan 174 ruang kelas dapat segera dilaksanakan dalam waktu dekat agar kegiatan belajar mengajar (KBM) kembali normal.

Terlebih lagi beberapa bulan ke depan sekolah melakukanpersiapanpenyelenggaraan ujian nasional (UN). Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPRD Klaten Sri Widada belum dapat memastikan kapan perbaikan ruang kelas selesai. Sebab, saat ini baru masuk tahap verifikasi. “Artinya memang ada tim survei melakukan survei ke lapangan.

Setelah itu baru dibagikan SK mana saja sekolah yang diperbaiki. Belum lagi proses lelang dan lainnya,” kata Sri Widada. Menurut legislator asal Partai Keadilan Sejahtera (PKS) tersebut, ruang kelas SD mulai rusak meski empat tahun lalu Pemkab Klaten telah menyelesaikan seluruh perbaikan ruang kelas SD.

Jenis kerusakan beragam, namun tidak terlampau mengganggu KBM karena siswa tidak perlu pindah ruang kelas. “Waktu itu (empat tahun yanglalu) sudahhampirtidakada (ruang kelas rusak). Tapi selama empat tahun ini kan terus berjalan, mungkin ada kerusakan- kerusakan lagi. Anakanak tidak sampai pindah kelas. Mereka masih belajar di ruang kelasnya,” kata Sri Widada.

endah budi karyati

Berita Lainnya...