Edisi 07-02-2017
Warga Diimbau Tak Tergantung EWS


BANTUL – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bantul meminta warga yang berada di zona merah rawan longsor terus meningkatkan kewaspadaan.

Mereka diminta tidak bergantung pada peralatan Early Warning System (EWS) yang dipasang di perbukitan yang rawan longsor. “Pasalnya, belum semua titik rawan terpasang teknologi deteksi longsor tersebut,” kata Pelaksana Harian Kepala BPBD Bantul Dwi Daryanto kemarin. Dwi Daryanto amengatakan, persoalannya EWS itu merupakan teknologi dan bisa terjadi kerusakan.

Pihaknya justru mengharapkan masyarakat lebih mengutamakan pada kearifan lokal daerah masingmasing, khususnya kewaspadaan terhadap titik-titik yang berpotensi rawan longsor. “Bantul itu yang terpasang EWS baru beberapa, belum semua wilayah dipasang alat pendeteksi longsor tersebut,” ucapnya. Disampaikan, jumlah desa yang dipetakan rawan longsor di Kabupaten Bantul tersebar di 15 desa yang ada di enam kecamatan.

Adapun selama ini baru ada 50 unit EWS longsor yang terpasang di zona-zona merah rawan longsor. Dengan kondisi curah hujan dan potensi longsor susulan yang bisa terjadi, pihaknya meminta warga tetap meningkatkan kewaspadaan. Bagi yang daerahnya terpasang EWS, tetap diminta untuk tidak menggantungkan peringatan dari peralatan itu.

“Data kita sejauh ini belum ada tambahan kejadian longsor. Mudah-mudahan tetap aman,” ujarnya. Sementara itu, warga di Dusun Gayam, Desa Jatimulyo, Kecamatan Dlingo selama berhari- hari melakukan kerja bakti membersihkan material longsor tebing yang menutup akses jalan sejak, Kamis (2/2). Pembersihan material longsor selain menggunakan cara manual, juga menggunakan alat berat jenis backhoe .

Selama pembersihan material tanah belum selesai, akses kendaraan yang biasanya melewati jalur tersebut dialihkan. Ketua Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Jatimulyo, Suyoto menyebutkan, setidaknya di daerahnya ada tiga lokasi rawan longsor yang dipasang EWS.

Kebetulan, begitu tanah di atas bukit sudah terlihat retak-retak dia langsung berinisiatif memindahkan satu EWS ke lokasi yang diprediksi bakal longsor tersebut. Sebab, di dekat lokasi perbukitan itu terdapat satu bangunan rumah. “Pas kejadian itu bunyi, peralatannya baru dipasang dua minggu sebelum longsor,” katanya.

muji barnugroho



Berita Lainnya...