Edisi 07-02-2017
Ketua FPI: Logo Ini Meresahkan


PALEMBANG – Sosialisasi uang baru cetakan emisi 2016 yang digelar BI bersama ula - ma dan MUI Sumsel sempat tegang, kemarin.

Dalam sesi dialog logo yang disebut-se - but bergambar palu arit tersebut, banyak ditanyakan ulama termasuk Ketua FPI Sumsel Habib Mahdi karena dianggap meresahkan. Dikatakan Habib Mahdi, pihaknya ingin BI mem per - baiki logo tersebut. Di sesi dialog dia mengatakan bahwa logo yang menyerupai lambang PKI ini sebenarnya su - dah dilarang sebelum mata uang emisi 2016 dikeluarkan.

Pihaknya meminta logo yang menjadi logo BI diperbaiki, mengingat logo merupakan identitas dari suatu hal. “Jika di uang saja mirip logo PKI, maka indikasi tindakan ini mengarah pada meng hidupkan kembali ajaran yang di la - rang tersebut. BI hendaknya juga memperbaiki hal ini. Ke - tua FPI saja hari ini diperiksa akibat kasus ucapan dugaan palu arit ini.

Logo ini mere sah - kan,” ujar dia. Dalam kesempatan yang sama, Ketua MUI Sumsel, Af - latun Mucthar mem be nar - kan kegelisahan para ulama terkait hal tersebut. Namun, dia meminta agar ada ko mu - ni kasi yang baik antara lem - baga negara (BI) dengan umat muslim. “MUI menginginkan agar BI juga terang menjelaskan asal muasal logo yang mirip lam bang yang dilarang di In - donesia tersebut.

Namun umat muslim hendaknya juga menjaga semangat persatuan umat,” ungkapnya dalam sesi dialog. Sementara itu, Ke pala Deputi Bidang Sistem Pembayaran dan Pe nge - lolaan Uang Rupiah Bank Indonesia Pe r wakil an Palembang, Seto Pranoto mengatakan, so sialisasi terhadap uang ini merupakan bagian dari mengenalkan pecahan uang terbaru.

Sosialisasi ini ditujukan kepada ulama akibat adanya perbedaan per sepsi terhadap uang pe - cahan Rp100.000. “Ada penilaian atas logo yang terdapat di uang cetak baru, terutama uang kertas Rp100.000 ini yang harus disosialisasikan lebih luas. Karena logo yang dikatakan menyerupai palu arit itu, hanyalah rectoverso.” ”Sejenis teknik pembuatan uang yang bertujuan me ning - kat kan kualitas pengamanan, agar tidak mudah ditiru,” terang dia.

Selama ini BI berupaya men - cip takan uang dengan teknik pengamanan yang lebih tang - guh. Hal ini agar tindak kri mi - na litas pemalsuaan uang bisa di tekan. Jikapun, kata dia, ter - da pat logo yang seperti dikira seperti logo PKI, maka hal ter se - but tidak tepat. “BI melakukan koordinasi sebelum melakukan pencetakan uang baru, ba gai - mana bentuk, warna, tampilan hingga ada logo BI yang menjadi pengaman uang tersebut.

Logo BI itu hanya teknik penga manan uang,” ungkapnya. Sampai saat ini, peredaran uang beremisi 2016 juga masih terbatas. Pada tahun 2017 ini, BI di Palembang juga hanya akan menyalurkan uang cetak baru sekitar 5% dari jumlah uang beredar di masyarakat me - lalui perbankan. Jumlah uang baru yang belum dicetak banyak akibat proses percetakkan yang masih terbatas dilakukan Pe - ruri.

“Tahap awal saja uangnya hanya Rp110 miliar, peredaran uang baru ini bertahap meng - ingat jumlah yang dicetak juga masih terbatas, akan tetapi gu - na mengubah logo tersebut, bu - kan kewenangan dari BI Per wa - kilan Palembang saja,” ungkap dia.

tasmalinda


Berita Lainnya...