Edisi 24-02-2017
Perlukah Detoks Tubuh?


Hidup sehat memang butuh kerja ekstra, tidak mengherankan jalan pintas sering menggiurkan untuk dipilih. Salah satunya lewat detoks yang diyakini membuat sehat hanya dengan sedikit atau bahkan tanpa usaha sekalipun.

Metode detoks yang kini tengah viral di media sosial adalah dengan menaruh bawang di kaos kaki seperti ditayangkan pada video di Facebook . Video ini telah dilihat 13 juta penonton dan dibagi sebanyak 166.000 kali hingga pertengahan Januari. “Menaruh potongan bawang di kaos kaki semalaman akan membantu menyembuhkan tubuh,” demikian narasi di video tersebut, dengan menambahkan bahwa praktik ini telah populer sejak abad 16 dan benar-benar manjur.

Cara ini diyakini termasuk salah satu metode detoksifikasi tubuh karena sejumlah saraf yang berada di kaki berhubungan ke organ-organ vital, seperti otak, hati, dan jantung. Namun, pada metode ini tidak disebutkan secara spesifik jenis racun yang akan tersingkir maupun menyediakan bukti nyata kebenaran metode tersebut.

Kebanyakan metode detoks menyangkut seputar membatasi kalori, minum banyak cairan, puasa, dan memperbanyak asupan nutrisi guna mendapatkan hasil nyata. Margaret MacIntosh, ahli akupunktur dan pakar pengobatan tradisional China, menyampaikan, banyak di antara diet detoks yang ada malah mengancam kesehatan alih-alih bermanfaat.

Contohnya, penggunaan kunyit untuk membersihkan racun dari tubuh. Kunyit memang baik dalam dosis kecil, tapi jika digunakan dalam jumlah yang banyak justru dapat mengakibatkan peningkatan kegelisahan atau susah tidur. “Saya sendiri pelaku gaya hidup sehat dan menentang diet yang dirancang untuk menghilangkan racun dari dalam tubuh.

Tubuh manusia sudah memiliki kemampuan untuk menghilangkan racun sendiri dari dalam,” ungkap MacIntosh dikutip dari Healthline.com. Jalan terbaik untuk mendukung kerja organ mendetoks tubuh, menurut para ahli, ialah dengan mengonsumsi makanan sehat, berolahraga setidaknya 30 menit sehari, cukup tidur malam, dan cukup minum air agar tetap terhidrasi. Segala sesuatu janganlah berlebihan, bahkan sesuatu yang baik sekalipun akan menjadi buruk jika dikonsumsi berlebihan.

Termasuk dalam urusan minum air putih. Tory Tedrow, ahli nutrisi pada aplikasi makanan sehat SugarChecked, mengatakan, terlalu banyak mengonsumsi air putih dapat berujung pada hyponatremia . Ini adalah kondisi tubuh ketika darah mengandung terlalu sedikit sodium dan menyebabkan sel menjadi membengkak.

Keadaan ini bisa mengakibatkan gejala seperti mual, muntah, sakit kepala, bingung, kelelahan, kram otot, kejang, bahkan koma. Kondisinya memang bervariasi, yang jelas dapat cepat mengancam nyawa dan butuh intervensi medis. Kelsey Ale, praktisi terapi nutrisi sekaligus chef di California, menuturkan, mayoritas masyarakat mengonsumsi makanan berproses, dikelilingi polusi, dan menggunakan bahan kimia untuk tubuh mereka setiap hari sehingga mereka hidup dengan racun.

“Di sisi lain, praktik detoks dewasa ini tidak masuk akal. Hanya minum jus dan makan sayuran mentah selama tiga hari. Ini tidak akan menyelesaikan masalah. Pelaku diet yang menjalaninya secara rutin malah merasa lebih buruk dari sebelumnya,” papar Ale. Sementara banyak pakar yang menentang praktik pembersihan usus dengan hanya minum jus atau obat pencahar.

Pakar lain menyarankan pola makan yang merangsang autophagy . Autophagy adalah proses sel memakan diri sendiri sebagai proses mendaur ulang dan degradasi komponen seluler. Dengan adanya proses autophagy itu, sel bisa tetap sehat. Metode ini ditemukan Dr Yoshinori Ohsumi yang diganjar Nobel tahun 2016 atas temuannya itu.

“Autophagy dirangsang dengan berpuasa. Salah satu tren yang sedang marak di dunia kesehatan adalah intermittent fasting (IF) atau diet puasa,” beber Gin Stephens, pengarang bukuDelay, Don Delay, Dont Deny: Living an Intermittent Fasting Lifestyle . Banyak metode pembersihan tubuh dirancang sesuai IF. Seperti WeightNot, yang fokus pada pembatasan kalori, makanan alami, dan suplemen nutrisi. Alison Borkowska, Direktur WeightNot, menuturkan, pendekatan ini merupakan cara efektif untuk menurunkan berat badan dibanding metode lainnya.

sri noviarni