Edisi 24-02-2017
Banyak Anak, Banyak Virus


Penelitian berhasil mengungkap, makin banyak anak yang dimiliki, maka makin tinggi risiko anggota keluarga terkena penyakit. Sebenarnya hal ini mungkin tidak lagi membuat terkejut. Namun yang perlu Anda ketahui adalah virus tidak menimbulkan gejala.

Mereka yang berisiko tinggi terkena pilek atau gejala lainnya adalah anak yang paling muda atau bayi. Inilah kesimpulan tim peneliti dari Universitas Utah Sekolah Kedokteran. “Sebagai orang tua kita menyayangi buah hati kita. Kita berbagi apa pun dengan mereka termasuk virus,” kata spesialis anak Dr Carrie Byiington, yang menjadi ketua tim peneliti, seperti dilansir NBCnews . Setiap anak menambah banyak virus yang bermunculan.

Ini berdasarkan survei yang dilakukan peneliti terhadap keluarga-keluarga di Utah, Amerika Serikat. “Dibandingkan dengan individu yang tinggal seorang diri di rumah, individu yang tinggal dengan anakanak diketahui terdeteksi virus,” demikian tim peneliti tulis dalam jurnal Clinical Infectious Diseases .

Para peneliti meneliti 26 rumah dengan 105 anggota keluarga pada 2009 dan 2010 silam. Tiga bayi lahir pada saat survei dilakukan sehingga total anggota keluarga yang diteliti 108 jiwa. “Saya pikir Utah adalah tempat terbaik untuk meneliti masalah ini. Kami mempunyai keluarga besar dan keluarga yang mengerti pentingnya penelitian ini,” kata Byiington. Setiap minggu, satu orang dewasa di masing-masing keluarga mengambil sampel dari seluruh keluarga dan mengirimkannya ke laboratorium, dan melaporkan apakah ada di antara anggotanya yang memiliki gejala penyakit.

Laboratorium menguji 16 virus paling umum yang menyerang pernapasan, termasuk rhinoviruses, coronaviruses , influenza, metapneumovirus , dan menyingkap virus yang bernama bocaviruses . Pengujian terbaru memungkinkan untuk mengidentifikasi segenap virus tersebut. Mereka yang tak memiliki anak, terinfeksi virus selama tiga minggu hingga sebulan dalam waktu satu tahun.

Nah, menambah satu anak berarti menambah lama infeksi virus di keluarga, yakni menjadi 18 minggu. Sementara, keluarga dengan enam orang anak, berisiko memiliki anggota keluarga yang terinfeksi menjadi 45 minggu dalam satu tahun. Ini berdasarkan temuan Dr Andrew Pavia. Adapun penelitian yang dilakukan BIG-LoVE (Utah Better Identification of Germs- Longitudinal Viral Epidemiology) menemukan bahwa setiap anak meningkatkan risiko keluarga terkena virus pernapasan.

Dalam kasus yang ekstrem, keluarga tanpa anak hanya berisiko sakit tujuh persen setiap tahun (3-4 minggu). Sebaliknya, keluarga dengan enam orang anak berisiko sakit 87 persen per tahun (45 minggu). Anak-anak di bawah lima tahun terinfeksi virus amat sering. Namun, tidak ada penyakit serius selama lebih dari setahun studi dilakukan. Rhinovirus adalah virus yang paling umum terdeteksi.

Secara keseluruhan, 100 dari 108 partisipan (93 persen) terdeteksi rhinovirus setidaknya setiap minggu. Tapi sering kali orangorang yang terinfeksi virus tidak menunjukkan gejala. Hanya 56 persen gejala yang dilaporkan, demikian temuan peneliti. Bocavirus merupakan virus kedua yang paling umum ditemukan.

Virus ini berdiam di hidung individu selama tiga minggu. Langkah selanjutnya adalah mengetahui apakah ada perbedaan di antara anak-anak yang menderita gejala dari sebuah virus dan yang tidak. “Saya sering ditanya orang tua, apakah hal ini normal atau memang ada yang salah dengan anak saya. Sebab ia sering kali pilek,” katanya.

sri noviarni