Edisi 24-02-2017
Bukan Sekadar Bisnis Hewan


Tak ada sirkus binatang di Singapore Zoo. Tak ada pula aksi menaiki gajah untuk pengunjung. Yang ada adalah usaha pemenuhan lima hak hewan (Five Freedom ) dan pengawasan dari organisasi kesejahteraan binatang.

Apakah lantas mengunjungi Singapore Zoo di Singapura jadi tak menarik? Tentu saja tidak. Fakta bahwa kebun binatang ini masuk sebagai ranking lima kebun binatang terbaik di dunia versi TripAdvisor tahun 2014 dan mendapat Certificate of Excellence , menjadi bukti bahwa Singapore Zoo adalah tempat wisata yang menyenangkan.

Jumlah pengunjung yang mencapai 1,7 juta per tahun juga jadi pertanda betapa kebun binatang ini jadi salah satu tempat favorit bagi turis di Singapura. Namun yang juga menarik dari tempat ini adalah cara pengelola kebun binatang ini, yaitu Wildlife Research Singapore (WRS), dalam merawat koleksi hewan mereka yang jumlahnya mencapai 2.800 spesimen dari 300 spesies.

Hewan-hewan berada dalam habitat yang luas, menyerupai habitat asli mereka di alam liar. Orangutan, misalnya, bebas bergelantungan tanpa pagar. Sebagai pemisah, dibuat sungai buatan agar orangutan tidak bisa meloncat ke area pengunjung. Atau area gajah, yang dibuat sangat luas lengkap dengan sungai untuk mereka berendam atau mandi.

Ada pula area hewan yang dibuat tanpa pagar, hanya diberi semacam tali berkekuatan listrik sangat rendah. Hal yang sama berlaku pula saat para hewan tersebut melakukan aksi “menghibur” pengunjung. KORAN SINDO yang diundang oleh WRS bersama tiga jurnalis lainnya dari Indonesia awal Februari silam, menyaksikan langsung kehati-hatian pengelola dalam menampilkan aksi yang tidak mengeksploitasi hewan.

Contoh kecilnya saat kami sarapan di Ah Meng Restaurant. Tiap pukul 09.30- 10.00 waktu setempat, para tamu restoran bisa menikmati makan sambil menyaksikan beberapa orangutan sumatera mejeng di satu area dekat restoran sambil memunguti makanan dari pawang.

Mereka tak diminta melakukan aksi apa pun selain hanya duduk sambil makan. Pengunjung bisa berfoto bersama mereka, tapi ada batas aman yang harus dipatuhi. Tak boleh sedikit pun kita memegang, apalagi menggendong orangutan hanya untuk sesi foto yang mengundang banyak likes saat diposting di media sosial.

“Demi kenyamanan orangutan. Mereka tidak boleh stres,” ujar Natt Haniff selaku corporate communications manager WRS, yang mendampingi kami menikmati sarapan. “Dalam satu hari ada empat sesi foto bersama orangutan seperti ini, tapi grupnya beda-beda. Kami ada beberapa grup orangutan,” tambah Natt.

Saat itu, antrean pengunjung untuk berfoto memang cukup panjang, menandakan sesi ini termasuk favorit pengunjung. Sesi bersama orangutan yang seharusnya dibatasi hanya 30 menit pun sempat molor beberapa menit. Untuk atraksi gajah, juga menghindari aksi yang abnormal dilakukan gajah. “Kami tak minta mereka naik sepeda atau main sepak bola. Tapi kita minta mereka mengangkat sesuatu. Ini untuk mengedukasi penonton betapa kuatnya tenaga gajah,” terang Dr Sonja Luz, director conservation & research WRS.
Tanda hewan bahagia

Menurut Sonja, WRS memiliki standar dunia dalam mengelola empat tempat wisatanya, yaitu Singapore Zoo, Jurong Bird Park, Night Safari, dan River Safari. Yang paling mendasar adalah dengan memenuhi hak hewan yang masuk dalam Five Freedom, yaitu bebas dari rasa lapar dan haus, bebas dari ketidaknyamanan, bebas dari penyakit dan rasa sakit serta luka, bebas berekspresi sesuai perilaku normal mereka, serta bebas dari rasa takut dan tertekan.

Tempat ini juga memiliki rumah sakit hewan sendiri dengan peralatan canggih. “Ada pula grup aktivis pencinta hewan ACRES yang bekerja sama dengan kami dan memastikan hewanhewan di sini bisa hidup dengan baik,” kata Sonja, yang kami temui setelah selesai berkeliling Singapore Zoo. Sebisa mungkin, Singapore Zoo juga berusaha membuat hewan-hewan ini bahagia. Menurut Sonja, ada dua indikator untuk menilainya. Yang pertama dengan mengukur kecerdasannya.

Kedua dengan melihat kondisi tubuhnya. Kondisi tubuh dilihat dengan memperhatikan kondisi gigi, pola makan, gerak tubuh, perilaku, termasuk hasil kotoran (BAB)-nya. Dua indikator ini nantinya disesuaikan dengan umur hewan tersebut. “Kalau anak gajah, dia akan senang main-main dengan ibunya, memainkan belalainya, mengeluarkan suara-suara. Itu tanda dia bahagia,” imbuh Sonja.

KORAN SINDO sempat melihat tandatanda ini sesaat setelah dua gajah dewasa dan satu anak gajah diberi makan banyak pisang dan apel oleh pawang di Night Safari. Mungkin karena senang habis makan enak, tiga ekor gajah itu berbaris, lalu menggerak-gerakkan belalai dan kakinya secara ritmik seperti sedang senam poco-poco.

Kami tertawa melihat aksi gajah-gajah tersebut. “Nah, kalau singa beda lagi. Kami punya singa yang kurus karena sudah tua. Tapi di sana kami kasih keterangan untuk edukasi ke pengunjung, bahwa singa yang sudah tua memang badannya kurus,” terangnya. Untuk soal memberi makan para hewan, juga dilakukan beberapa variasi.

Misalnya dengan menaruh makanan di lubang-lubang kayu atau tempat tersembunyi. “Karena kalau di alam bebas mereka cari makannya juga begitu. Juga supaya mereka tidak bosan, harus ada variasi,” tutur Sonja. Asal tahu saja, seluruh makanan hewan di sini diimpor, baik sayuran, buahbuahan, hingga daging.

Sonja mengakui, Singapore Zoo juga pernah mengalami masa-masa dikritik oleh para aktivis pencinta hewan. Misalnya soal kandang bagi beruang kutub yang dinilai tidak sesuai standar, apalagi Singapura sebagai negara tropis dinilai tidak cocok bagi beruang kutub. Untuk kasus tersebut, kebun binatang ini pernah dipantau secara rutin oleh ACRES.

Namun seperti tercantum dalam situs resmi ACRES, acres.org.sg, Singapore Zoo sudah memperbaiki ruang hidup beruang kutub di sana, dan terus melakukan perbaikan yang diperlukan. Demi meningkatkan standar Singapore Zoo pula, WRS juga tengah mengikuti proses mendapatkan akreditasi kesejahteraan hewan dari lembaga di Australia.

Targetnya adalah mendapatkan status “positive welfare”. “Ini istilah baru di dunia kesejahteraan hewan. Jadi dari status hewan tidak menderita menjadi hewan yang bahagia, dan ini standarnya tinggi sekali,” tandas Sonja.

herita endriana