Edisi 24-02-2017
Jangan Termakan Iklan


Apa sebetulnya detoks? Detoks berasal dari kata detox yang merujuk pada proses detoksifikasi. Proses ini merupakan proses alami tubuh untuk membuang sisa hasil metabolisme, limbah yang tidak dibutuhkan, dan zat kimiawi dalam tubuh.

Zat ini berbahaya bagi tubuh apabila terakumulasi karena bersifat toksin atau beracun. Contohnya zat aditif dalam bentuk pewarna dan pengawet, residu pestisida, obat-obatan, serta mineral tertentu, seperti logam dan merkuri. Konsultan dan Ahli Gizi Jansen Ongko Msc RD mengatakan, manusia sebenarnya tidak perlu melakukan detoks tubuh, mengingat tubuh memiliki sistem detoksifikasi alamiah yang disebut ekskresi.

Detoks berfungsi meminimalkan radikal bebas melalui asupan antioksidan dari luar. Dengan asupan tersebut, pengeluaran zat racun melalui feses, keringat, maupun urine akan lebih lancar. Jadi, tidak ada istilah harus melakukan suatu program detoks agar dapat membersihkan tubuhnya dari zat berbahaya.

“Tren detoks ini berkembang di perkotaan karena tingginya tingkat stres masyarakat, teknik pemasaran yang hebat, dan semakin takutnya orangorang jatuh sakit,” kata Jansen. Kondisi ini dimanfaatkan pasar dengan melempar produk mereka. Masyarakat yang termakan kehebatan detoks tidak segan membeli jus buah dan sayur yang diketahui baik bagi kesehatan dan dapat menangkal penyakit.

Jansen mengatakan, peluang menjanjikan inilah yang dimanfaatkan beberapa pihak dengan mengklaim khasiat buah dan sayur secara berlebihan agar produknya laku keras. Ahli gizi Leona Victoria Djajadi membenarkan, sebenarnya tubuh tidak memerlukan detoks karena ada pengaturan alami asam basa, juga dari hati dan ginjal.

Kedua organ ini berfungsi sebagai penyaring, baik racun, lemak, maupun komponen elektrolit untuk asam basa tubuh. Daripada melakukan detoks, lebih baik menjalani pola hidup sehat dengan makan seimbang dan teratur. Langkah ini mampu membuat tubuh menjalankan tugasnya dengan optimal.

(sri noviarni)