Edisi 21-04-2017
Saling Menghormati Antarperadaban


Dunia akhir-akhir ini semakin merana dengan bergejolaknya politik global yang berimbas pada tergusurnya nilai-nilai kemanusiaan.

Peristiwa terbaru terjadi pengeboman Suriah oleh Amerika Serikat. Tindakan tersebut sebagai respons Amerika Serikat yang menganggap Suriah telah menggunakan senjata kimia ke sebuah kota yang dikuasai kelompok pemberontak. Pengeboman tersebut tentunya menuai pro dan kontra di masyarakat internasional. Hal yang paling penting dan menjadi sorotan adalah nilai kemanusiaan telah dirampas oleh pengeboman tersebut.

Banyak warga sipil yang meninggal, bahkan anakanak pun banyak yang menjadi korban sebagai imbasnya. Gejolak politik global sebenarnya tidak terjadi begitu saja tanpa ada sebab akibat yang melatarbelakanginya. Sebenarnya inti dari permasalahan tersebut adalah perebutan sumber energi dan konflik antarperadaban. Sumber energi yang diperebutkan adalah minyak bumi yang menjadi kebutuhan bagi setiap negara. Kebutuhan akan minyak bumi sangat mendesak bagi setiap negara, sehingga diperlukan kontrol untuk mengaturnya.

Konflik antarperadaban yang terjadi di Timur Tengah merupakan konflik antara dua peradaban besar, yaitu peradaban Islam (Timur) dan peradaban Barat. Konflik antara dua kutub yang berbeda ini berlangsung secara berkepanjangan dan telah melibatkan banyak negara yang terlibat dalam konflik tersebut. Samuel P Huntington dalam bukunya The Clash of Civilizations and the Remaking of World Order (1996), menyatakan bahwa sumber utama konflik dunia tidak akan lagi menyangkut masalah ideologi dan ekonomi, tetapi budaya.

Budaya akan memilah-milah manusia dan menjadi sumber konflik dominan. Negaranegara akan menjadi aktor yang paling kuat dalam percaturan politik dunia, tetapi konflik politik global akan terjadi antara bangsa-bangsa dan kelompok-kelompok karena perbedaanperbedaandari mereka, sertabenturanperadaban akan mendominasi politik global. Sudah saatnya dua kubu yang saling bertentangan tersebut saling menghormati dan menghargai satu sama lain. Tinggalkan etnosentrisme, yaitu sikap yang memandang kebudayaan dirinya paling baik dan menganggap kebudayaan orang lain dari perspektif kebudayaannya.

Sampai kapan pun cara pandang seperti ini, jika masih diterapkan oleh salah satu pemangku peradaban maka konflik akan sulit untuk dihindarkan. Tidak ada intervensi satu sama lain akan menumbuhkan semangat persatuan walaupun masyarakat secara global itu berbeda. Jika terjadi konflik, seharusnya negara-negara yang terlibat konflik segera untuk mengakhirinya baik konflik antar peradaban maupun konflik intraperadaban. Hal itu akan menciptakan tatanan global yang bersahaja aman bagi eksistensi manusia.

Rizal Noviandi
Mahasiswa Jurusan Antropologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik


Berita Lainnya...