Edisi 21-04-2017
Tantangan Kepemimpinan Anies-Sandi


Pascajadwal pemungutan suara usai pada pukul 13.00 WIB Rabu (19/4) lalu, satu jam kemudian sejumlah lembaga survei langsung mengumumkan hasil quick count-nya masing-masing di sejumlah media televisi dan sejumlah media online.

Seketika itu juga publik disuguhkan dengan angka-angka yang fluktuatif dan pada sebagian masyarakat cukup mendebarkan, bahkan sudah mulai ada yang sedikit euforia merayakan kemenangan. Masyarakat perlu diberikan pandangan jernih bahwa quick count adalah salah satu instrumen untuk mengetahui hasil pemilu secara cepat dengan mengambil sampel di tempat pemungutan suara (TPS). Oleh karena itu, quick count bukan hasil sebenarnya, ia hanya berasal dari ratusan sampel TPS dari ribuan TPS. Sering kali lembaga survei di Jakarta mengambil sampel antara 400 sampai 600- an TPS dari 13.000 lebih TPS di Jakarta.

Pengumuman resmi hasil pilkada adalah hasil perhitungan manual KPU DKI. Quick count bisa mendekati hasil sebenarnya jika teknik samplingnya memegang teguh prinsip-prinsip metodologi ilmiah. Misalnya mempertimbangkan beberapa hal, di antaranya mempertimbangkan (1) karakteristik keragaman pemilih di TPS, (2) banyaknya jumlah TPS yang diambil sebagai sampel, dan (3) rendahnya margin of error. Berdasarkan hasil quick count dari sembilan lembaga survei (LSI, Indikator, SMRC, Indobarometer, Polmark, Median Center, Litbang Kompas, Charta Politica dan Voxpol) rata-rata perolehan suara masing-masing sebagai berikut: Ahok-Djarot 44,70%, Anies-Sandi 55,30%.

Angka ini masih akan terus berubah secara fluktuatif sampai data sampel diterima pusat data 100%. Dengan mencermati perkembangan data quick count tersebut, maka kemungkinan besar Pilkada DKI Jakarta 2017 dimenangkan Anies-Sandi. Kesimpulan itu benar jika lembaga survei benar-benar memegang teguh prinsip-prinsip metode ilmiah. Pertanyaannya kemudian adalah, apa yang menyebabkan mayoritas warga Jakarta memilih Anies-Sandi? Dengan menggunakan perspektif politik, minimal ada tiga faktor utama yang menyebabkan Anies- Sandi menang.

Tiga Faktor Kemenangan

Pertama, faktor mesin politik yang bekerja militan. Dalam mesin politik Anies-Sandi ini, ada tiga kelompok yang bekerja militan, yaitu kelompok partai (PKS, Gerindra, PAN, Perindo, Idaman), kelompok relawan terorganisasi yang bekerja di darat maupun udara (cyber), dan kelompok simpatisan yang tak terorganisasi yang bekerja militan dan menyebar di tengah-tengah masyarakat. Ini secara politik empirik menjadi faktor utama kemenangan pasangan Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta 2017 ini. Anies-Sandi patut berterima kasih pada faktor utama ini.

Kedua, faktor performa Anies-Sandi yang berhasil membentuk opini publik bahwa mereka calon gubernur santun dan cerdas. Santun dalam berkomunikasi dan cerdas dalam menyusun program. Program Oke Oce adalah salah satu program yang menunjukkan kecerdasan untuk atasi solusi kesenjangan sosial ekonomi warga Jakarta. Reputasi keduanya telah memperkuat opini publik tersebut. Sebuah kesan penting yang membedakan secara ekstrem dengan lawan politiknya (Ahok- Djarot) yang terkesan dominan menampilkan sikap arogan dan kasar dalam berkomunikasi.

Secara sosiologis warga Jakarta sesungguhnya menyukai dua tipe tersebut, tetapi persentase yang menyukai kesantunan jauh lebih banyak. Anies-Sandi berhasil menyentuh hati dan nalar mayoritas warga Jakarta. Ketiga, tindakan fatal lawan politik (Ahok-Djarot) atau barisannya dan menguatnya kesadaran pemilih warga muslim Jakarta. Tindakan fatal Ahok atau timnya menjelang putaran dua, saya catat ada pada dua hal, yaitu video kampanye yang mengesankan umat Islam intoleran (lakukan kekerasan) dan operasi bagi-bagi sembako pada hari tenang yang dilakukan sekelompok relawan atau simpatisan yang menggunakan simbol baju kotak-kotak.

Ini menimbulkan kesan negatif terhadap pasangan Ahok-Djarot. Video kampanye Ahok- Djarot yang menggambarkan umat Islam yang keras dan intoleran tersebut justru meningkatkan militansi pemilih muslim Jakarta karena umat merasa disudutkan, ini mengingatkan warga muslim terhadap Ahok dalam kasus Almaidah 51. Ahok-Djarot tampaknya lupa temuan riset bahwa 65% warga muslim Jakarta memilih karena faktor agama. Lebih dari itu, sebagai bangsa timur, saya meyakini bahwa pada akhirnya Tuhan menjadi penentu akhir sebuah kemenangan kontestasi politik. Pilkada DKI putaran final yang berlangsung aman damai adalah fakta penting yang patut disyukuri warga Jakarta dan bangsa Indonesia.

Lima Tantangan Berat

Di tengah kemenangan ini, Anies-Sandi sesungguhnya menghadapi lima tantangan berat dalam memimpin ibu kota Jakarta ini. Jika lima tantangan berat ini mampu diatasi, Anies- Sandi akan jauh melampaui prestasiAhok-Djarot. Berikutini lima tantangan berat tersebut. Pertama, kepemimpinan Anies-Sandi menghadapi tantangan besar terkait kesenjangan sosial ekonomi warga Jakarta. Tantangan ini terlihat dari fakta gini rasio Jakarta yang melampau angka 0,41. Fakta kesenjangan yang luar biasa di mana segelintir orang jauh lebih banyak menguasai kekayaan di DKI Jakarta.

Fakta warga miskin yang angkanya mencapai kurang lebih 400.000 warga adalah tantangan mendesak yang harussegera diatasi. Inipentingkarena Jakarta sebagai Ibu Kota menjadi indikator nasional dari stabilitas sosial ekonomi, yang jika tidak ditangani akan berdampak pada situasi nasional. Janji program Oke Oce bisa menjadi jawaban problem ini, tetapi detail pengaruhnya secara langsung bagi perbaikan ekonomi sekitar 400.000 warga miskin perlu didetailkan. Kedua, tantangan terkait reklamasi, rumah tanpa DP, dan penataan kota. Tentu ini memerlukan solusi terbaik tentang apa yang dimaksud Anies- Sandi menolak reklamasi. Bagaimana solusi atas pulau-pulau reklamasi yang sudah dibangun.

Formulasi seperti apa yang akan disodorkan Anies- Sandi jika secara rigid menutup pulau-pulau reklamasi. Pada saat yang sama konsep utuh rumah tanpa DP perlu segera didetailkan dan dikonkretkan dalam tahun pertama kepemimpinannya karena ini janji kampanye yang sering dipertanyakan publik Jakarta. Janji penataan kota tanpa menggusur juga menjadi tantangan utama yang akan terus disoroti publik. Ketiga, tantangan sumber daya warga Jakarta yang oleh Anies-Sandi menjadi bahan kritiknya terhadap Ahok-Djarot, terutama fakta 116.000 anak usia sekolahyangtidakmelanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Ini menjadi tantangan besar dan akan menjad iperhatian publik karena Anies yang mengkritik fakta tersebut, sekaligus publik menunggu langkah konkret Anies yang pernah menjadi menteri pendidikan. Keempat, tantangan penataan birokrasi dan pelayanan publik. Di bidang ini menjadi salah satu poin keberhasilan Ahok- Djarotyangdiapresiasipubliksekaligus menjadi tantangan Anies-Sandi, bagaimana merawatapresiasipublikdanmeningkatkan kualitas birokrasi dan pelayanan publik. Sebab, begitu Anies-Sandi dilantik menjadi gubernur dan wakil gubernur, akan langsung bersentuhan dengan birokrasi dan pelayanan publik.

Hal-hal konkret pembangunan yang terkait pelayanan publik akan menjadi sorotan paling krusial jika tidak diatur dengan benar dan profesional. Kelima, tantangan politik. Anies-Sandi akan menghadapi tantangan yang tidak mudah terkait dukungan parlemen (DPRD) terhadap kerja-kerja pemda, khususnya terkait proses perumusan dan proses pengambilan keputusan pengesahan APBD DKI. Ini menjadi tantangan karena praktis di DPRD Anies-Sandi sebagai gubernur dan wakil gubernur memerlukan dukungan semua partai, sementara ada tiga partai pendukung Anies-Sandi yang memiliki kursi di DPRD, yaitu Gerindra, PKS, dan PAN.

Semangat merangkul yang dikampanyekan Anies-Sandi harus mampu diimplementasikan dalam proses-proses politik di DPRD. Modal komunikasi politik yang santun dan akomodatif menjadi modal penting Anies-Sandi, tetapi jangan sampai kemudian mengabaikan integritas dan moralitas politik. Semoga.

Ubedilah Badrun
Analis Politik UNJ dan Direktur Puspol Indonesia

Berita Lainnya...