Edisi 21-04-2017
KPU Sosialisasi Smart Pemilu Kepada Difabel


MAGELANG – Sebanyak 25 difabel mengikuti kegiatan Smart Pemilu yang diselenggarakan KPU Kota Magelang kemarin. Melalui kegiatan Smart Pemilu berupa pendidikan pemilih, masyarakat diharapkan lebih paham pemilu.

Para difabel yang datang dari Kota Magelang dan Kabupaten Magelang terdiri atas tunanetra, tunadaksa, dan tunarungu. Mereka diundang untuk mengikuti kegiatan Smart Pemilu dengan memberikan penjelasan mengenai sejarah pemilu, hasil-hasil pemilu, dan informasi lainnya. Selain itu, mereka juga diajak menuju ruang maket alur pemungutan suara.

Setelah dari ruang maket alur pemungutan suara, kemudian menuju ruang audio untuk diajak menyaksikan pemutaran film tentang pemilu. Ketua KPU Kota Magelang Basmar Perianto Amron mengatakan, KPU Kota Magelang membuat ruang selasar informasi atau semacam pusat informasi tentang kepemiluan. Adapun tujuan ruangan ini untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepemiluan kepada masyarakat baik sejarah pemilu, sistem pemilu, dan hasilhasil pemilu.

Selain itu, dilengkapi dengan sejarah tentang pemilu, berapa parpol dan maket alur pemungutan suara. “Ada juga ruang gubuk demokrasi yang bisa dipakai untuk diskusi. Dilengkapi pula dengan ruang audio visual, juga game pemilu berupa puzzle dan ular tangga tentang demokrasi,” kata Basmar di sela-sela acara kemarin.

Smart Pemilu adalah sebuah kegiatan untuk mendidik pemilih agar lebih paham tentang pemilu. Mereka nantinya bukan sekadar datang dan mencoblos. “Harapan kami nantinya mereka menjadi pemilih rasional, bukan pemilih suporter dukung mendukung saja. Kemudian, tahu untung rugi. Kenapa memilih, dalam rangka menginformasikan Smart Pemilu mengharapkan masyarakat mau datang untuk belajar bersama menambah wawasan,” kata Basmar.

Dalam kegiatan ini, KPU Kota Magelang sebelumnya telah mengundang siswa SD, pelajar SMP atau prapemilih, pemilih pemula, elemen masyarakat maupun kelompok masyarakat. Mereka diundang untuk mengetahui dan paham akan pemilu. Selain itu, mereka juga diajak diskusi. “Kami butuh masukan-masukan untuk perbaikan pemilu, meningkatkan kualitas penyelenggaraan pemilu.

Termasuk kami mengundang difabel, harapan kami dengan kehadiran kelompok difabel mendapatkan masukanmasukan dalam melayani bisa optimal,” papar Basmar. Dalam diskusi di ruang audio, salah satu tunanetra Marsiyem mengaku, dalam pemilu tahun lalu dipandu, setelah sampai bilik ditinggal begitu saja.

“Kami berharap ke depannya diberi tahu terlebih dahulu, setelah ditunjukkan nyoblos terserah,” ujar Basmar. Ungkapan senada disampaikan rekannya, Wardi, yang mengaku pada pemilu tahun lalu telah diberikan templet . Meski demikian, tidak semua bisa membacanya. “Hal ini mengingat tidak semua difabel bisa membaca huruf braille,” katanya.

eko susanto







Berita Lainnya...