Edisi 21-04-2017
Kerja Keras Gali Pasir Seharian Belum Tentu Laku Dijual


Menguras fisik sudah menjadi menu seharihari bagi dua perempuan tangguh yang sehari-hari bekerja menambang pasir di aliran Sungai Pabelan, tepatnya di dekat Jembatan Srowol, Kabupaten Magelang, Jateng.

Keduanya adalah Mundariyah, 45, dan Karsanah, 48. Terkadang ancaman maut pun harus mereka hadapi. Saat menggendong pasir menuju bantaran sungai, tiba-tiba banjir datang. Mereka pun harus tunggang langgan meninggalkan peralatan kerjanya agar bisa berlari menyelamatkan diri dari terjangan air bah. Mundariyah dan Karsanah bekerja mencari pasir mulai pukul 06.00-13.00 WIB di Sungai Pabelan yang membentang memisahkan wilayah Kecamatan Mungkid dan Muntilan.

Pekerjaan sebagai pencari pasir tersebut di masyarakat setempat dikenal dengan sebutan buruh slenggrong . Setelah pasir didapat, kemudian dimasukkan dalam tenggok atau semacam keranjang untuk digendong menuju bantaran. “Kami mulai mencari pasir pukul 06.00-13.00 WIB, tidak setiap hari langsung laku. Jadi untuk mencukupi kebutuhan hidup, kami harus gali lubang tutup lubang,” tutur Mundariyah.

Perempuan yang ditinggal wafat suaminya sepuluh tahun lalu itu pun mengandalkan pencarian pasir untuk mencukupi kebutuhan dan menghidupi ketiga anaknya. “Suami saya meninggal karena kecelakaan. Dari mencari pasir ini tidak setiap hari laku, kadang seminggu sekali baru laku. Untuk satu mobil pikap, kami dapat Rp100.000,” papar Mundariyah saat didatangi sejumlah Jurnalis Perempuan (Jupe) Magelang dalam rangka memperingati Hari Kartini, kemarin.

Hal serupa disampaikan rekannya, Karsanah. Selain menjadi buruh slenggrong , saat musim panen padi, keduanya banting setir menjadi buruh ani-ani maupun menanam padi atau tandur . Dia sudah lama menjadi buruh slenggrong di Sungai Pabelan. “Kalau lagi musim panen, kami ikut jadi buruh panen,” ucap Karsanah. Menyambut Hari Kartini, sekitar tujuh anggota Jupe Magelang bertukar nasib menjadi buruh slenggrong di Sungai Pabelan, dekat Jembatan Srowol.

Para Jupe ini pun harus berbasah-basah mengambil pasir, kemudian menggendongnya menuju bantaran. Saat menggendong pasir tersebut, sesekali sempat mengeluh karena berat. “Kok abot yo (berat ya),” ucapnya sambil berjalan menggendong pasir. Koordinator Jupe Magelang CH Kurniawati mengatakan, para Jupe Magelang ingin memperingati Hari Kartini dengan cara berbeda, tidak sekadar berkebaya.

Di era modern seperti sekarang ini, masih ada Kartini di Magelang yang berjuang keras demi memperbaiki nasib keluarganya. “Ternyata perjuangan Kartini sampai sekarang belum bisa mengentaskan kemiskinan, mereka berpendidikan rendah dan harus berjuang untuk memperbaiki nasib keluarganya. Seperti ibu ini harus menghidupi anaknya, sementara suami sudah meninggal sepuluh tahun lalu. Itulah perjuangan Kartini masih sampai sekarang ini. Kami ingin merasakan rekoso - nya mereka, kami ingin mengetahui rekoso -nya Kartini melalui buruh slenggrong ini,” ujarnya.

EKO SUSANTO

Kabupaten Magelang


Berita Lainnya...