Edisi 21-04-2017
Manusia Harus Senantiasa Waspada


Salah satu sikap yang patut untuk dijaga adalah kehati-hatian atau waspada. Setidaknya ada 12 ayat yang mengajarkan kepada manusia agar selalu mengembangkan sikap waspada, yang dalam Alquran diistilahkan dengan kata al-hadzar.

Sikap kewaspadaan merupakan salah satu ciri dari orang yang ulul albab, sebuah predikat yang ditujukan bagi mereka yang memiliki intelektualitas dan ketakwaan yang baik. Hal ini diungkap Alquran: (apakah kamu Hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia waspada (takut dan cemas) (kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran (QS. Az-Zumar:9).

Dalam salah satu hadist riwayat dari at-Tirmidzi dan an- Nasai bahwa suatu hari Rasulullah SAW melayat seorang yang akan meninggal dunia. Saat itu beliau bertanya kepada orang itu, “bagaimana kamu mendapatkan dirimu sekarang. Orang tersebut menjawab, “Aku dalam keadaan harap dan cemas. Lalu Raslulullah SAW bersabda: “tidaklah berkumpul dalam diri seseorang dua perasaan itu, melainkan Allah akan memberikan apa yang dia harapkan dan menenangkannya dari apa yang dia cemaskan.

Objek Kewaspadaan

Kecemasan ataupu kewaspadaan haruslah terus dikembangkan, karena manusia sendiri merupakan makhluk yang memiliki titik lemah. Bagaikan kita sedang berkendaraan, tidak boleh kelengahan masuk dalam proses perjalanan, mengingat ketika lengah manusia akan berpeluang mengalami kehancuran dan kebinasaan. Sikap al-hadzar (waspada) secara umum meliputi dua hal:

Pertama , waspada dan mawas diri dari segala bentuk kemaksiatan agar terhindar dari murka dan azab Allah SWT.

Kedua , waspada dan hati-hati terhadap musuh, baik musuh yang nyata dan yang tidak nyata. Untuk jenis yang pertama ada lima ayat menjelaskan tentangnya.

Kelima ayat tersebut secara prinsip memberikan peringatan kepada manusia agar senantiasa waspada atau mawas diri dan berhati-hati dalam bertindak dan berprilaku agar terhindar dari ancaman dan murka Allah.

Dalam rangka membekali manusia untuk berorientasi ke depan (akhirat), maka manusia diminta untuk lebih berhati-hati. Karena ada saatnya nanti dimana manusia akan mendapat hasil dari sikap baik dan buruk yang dilakukannya. Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya (QS. Ali Imran:30).

Kewaspadaan dari sisi internal diri manusia seperti dimaksudkan dalam ayat di atas menuntut manusia memiliki integritas yang baik untuk mengawal sisi moralitas dirinya. Tidak jarang prilaku tidak etis manusia akhirnya berbuah rusaknya tatanan masa depan yang akan diraihnya. Dalam target jangka panjang, yang dalam bahasa Alquran diistilahkan dengan akhirat, kita sering abai dan lalai untuk mengantisipasi berbagai kecenderungan negatif yang bergerak dinamis dalam jiwa kita.

Sikap yang mewujudkan kecenderungan negatif itu pada akhirnya akan membuat manusia menyesal pada saat manusia harus berhadapan dari konsekwensi hasil perbuatannya itu. Ketika keputusan akhir itu tiba, manusia kemudian berharap akan ada hari esok untuk memperbaiki kesalah masa lalunya. Allah sendiri menerangkan bahwa kesalahan dalam membuat keputusan baik dengan memutuskan hidup sebagai orang tidak baik akan diberikan azab (siksa), karena memang kesempatan hidup ini bukan sekadar melalui hidup tanpa target dan tujuan, namun manusia harus terus waspada untuk dapat bergerak di jalan yang lurus (shirat almustaqim ).

Objek atau sasaran kewaspadaan kedua yang harus manusia kembangkan adalah bersikap terhadap para musuh, baik yang terang sebagai musuh maupun yang bergaya layaknya teman, namun sesungguhnya ia adalah “musang berbulu domba”. Musuh yang nyata di sini adalah pihak yang secara nyata menghalangi kita bahkan berupaya menggagalkan maksud dan tujuan kita.

Hal ini ditegaskan oleh Allah: “Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati- hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah). Maka ketahuilah bahwa Sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan musibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka.

Dan Sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik (QS. Al-Maidah:49). Indonesia misalnya, sebagai bangsa yang memiliki tugas melindungi seluruh rakyatnya harus dengan sekuat tenaga melindungi rakyatnya dari para musuh yang berupaya untuk merampas kekayaan negeri ini untuk diambil keluar, sebagaimana yang pernah terjadi pada masa penjajahan dahulu.

Sikap kewaspadaan ini harus terus dikembangkan agar jangan sampai nantinya bangsa ini menyesal dan membayar mahal akibat kelalaian terhadap mereka yang mencoba merampas apa yang menjadi hak bangsa ini. Hal kedua yang harus diwaspadai dari jenis ini adalah kewaspadaan kita terhadap musuh yang seakan teman. Ia tidak nyata sebagai musuh, tapi yang ia lakukan tidak jauh beda dari target dan tujuan dari musuh yang nyata itu. Alquran mengelompokkan orang ini sebagai orang munafik.

Orang ini digambarkan Alquran adalah orang yang jika ada cahaya terang dia berjalan, jika gelap ia berhenti (QS.Al- Baqarah:19). Maksudnya jika dia mendapatkan untung dia ikut jika tidak maka dia akan berhenti.

Pragmatisme dan materialisme hidup seperti itu yang akan menjadi musuh kita bersama. Untuk itu kita harus sangat waspada dengan orang-orang yang perilakunya seperti ini. Sikap kewaspadaan merupakan upaya preventif agar tidak terjatuh dalam penyesalan. Semoga kita dapat terus menjaga diri kita dari keterperosokan moral diri kita, mampu menghadapi berbagai tantangan dari eksternalitas kita.

DR SYAFRUDDIN SYAM M,AG

Dosen Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut




Berita Lainnya...