Edisi 21-04-2017
Mengenali Dan Menghindari Penyakit Asam Urat


Asam urat bukan lagi penyakit yang asing di telinga masyarakat. Penderita asam urat dilukiskan dengan indikasi sakit sendi, rasa pegal, linu atau nyeri dengan atau tanpa pembengkakan.

Tak heran ketika seseorang menderita gangguan sendi dianggap menderita asam urat. Apalagi hasil pemeriksaan laboratorium asam urat menunjukkan kadar yang lebih dari angka rujukan normal laboratorium. Anggapan itu tak semuanya salah karena kenyataanya asam urat menunjukkan gejala tersebut. “Tapi perlu diingat banyak juga penyakit radang sendi lainnya menunjukkan gejala yang sama dan tidak ada kaitannya sama sekali dengan asam urat,” ungkap dr Bambang Djarwoto dari Divisi Ginjal-Hipertensi RSUP Dr Sardjito sebagaimana dikutip dari Majalah Mensana Dinas Kesehatan DIY.

Penyakit asam urat, terang Bambang, dalam dunia medis disebut penyakit gout yang menyerang radang sendi. Penyakit ini disebabkan kristal-kristal urat yang mengendap dalam cairan sendi. Keadaan itu mengakibatkan rasa nyeri yang hebat, pembengkakan dan rasa panas di persendian. Pembengkakan juga terjadi di daerah sendi disertai warna kulit yang memerah.

“Pada tahap ini penderita tak mampu bergerak dengan leluasa. Rasa sakit berlangsung 3–10 hari,” kata Bambang. Dari banyak sendi di tubuh yang paling sering terkena asam urat adalah sendi jari tangan, lutut, pergelangan kaki, dan jari kaki. Penyakit asam urat dapat menyerang siapa saja. Untuk pria lebih sering dan perempuan kebanyakan pada usia menapouse. “Serangan gout biasanya secara tiba-tiba. Sering pada malam hari sehingga membuat penderitanya terbangun dari tidur,” ceritanya.

Penyakit ini dapat terjadi bila kadar asam urat dalam darah sangat tinggi. Asam urat berasal dari metabolism purin yang banyak terdapat di daging, jeroan, makanan dari laut (seafood) dan minuman beralkohol. Penyakit asam urat sangat menganggu aktivitas dan memengaruhi kualitas hidup penderitanya. Jika tidak ditangani secara memadai, dapat menyebabkan terjadinya batu ginjal karena penumpukan kristal asam urat dan pembentukan benjolan-benjolan keras di daerah sendi-sendi yang mengalami peradangan atau topus.

Lantas bagaimana cara mencegah atau menghindarinya? Bambang mengatakan, mencegah tetap menjadi pilihan terbaik. Pencegahannya dengan mengubah gaya hidup seperti berhenti merokok, menjauhi alkohol dan olahraga teratur. “Atur diet guna mengurangi asupan makanan yang mengandung purin,” pesan Bambang.

Diet secara seimbang perlu dipertimbangkan, karena menurunkan berat badan dan menghindari kegemukan menjadi cara efektif mencegah penyakit asam urat. “Beberapa penelitian menyebutkan mengonsumsi kopi dan buah ceri dapat mencegah risiko penyakit asam urat,” tuturnya. Dianjurkan banyak mengonsumsi buah-buahan, sayuran, dan gandum yang mengandung karbohidrat kompleks. “Hindari makanan seperti roti tawar, kue-kue, permen, dan minuman kaleng,” saran Bambang.

Selanjutnya minum air yang mencukupi dan menjaga tubuh tidak kekurangan air atau dehidrasi dapat mencegah serangan penyakit gout. Dianjurkan minum paling sedikit dua liter atau delapan gelas air sehari. Anjuran ini hanya ditujukan bagi orang normal. Sedangkan penderita lemah jantung, gangguan ginjal, darah tinggi dan beberapa penyakit lainnya memerlukan perhitungan tersendiri.

“Batasi makanan yang mengandung banyak lemak jenuh seperti daging merah, ayam pedaging, jeroan dan protein hewani. Di anjurkan yogurtdan susu krim yang bermanfaat menurunkan asam urat,” kata Bambang. Dia juga menyarankan agar dihindari mengonsumsi sarden, ikan teri, ikan asin, kepiting, dan jenis kerang-kerangan.

Sayur-sayuran meski mengandung banyak purin tapi tidak menyebabkan penyakit asam urat. Jenis sayuran yang mengandung purin tapi aman dikonsumsi antara lain asparagus, bayam, kacang polong, kembang kol, dan jamur. “Jenis sayuran lain yang aman dikonsumi adalah buncis,” imbuhnya.





Berita Lainnya...