Edisi 21-04-2017
Pemkab Sulit Kelola Material Longsor


PONOROGO– Setelah longsor di Desa Banaran, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo mengaku kesulitan membersihkan lokasi dari material longsor yang mencapai 1 juta meter kubik.

Tak ada dana, jadi penyebab utama. Banyaknya material longsor di Desa Banaran akibat bencana tanah longsor yang terjadi pada Sabtu (1/4) meninggalkan pekerjaan rumah (PR) tersendiri bagi Pemkab Ponorogo. Penataan material longsor memerlukan dana yang cukup besar dan waktu yang panjang. Untuk memudahkan PR tersebut, salah satu konsep yang digagas Pemkab Ponorogo adalah menjadikan material longsor sebagai tanah uruk.

Data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Ponorogo menyebutkan, jumlah material longsor berupa tanah bercampur batu yang menghampar sepanjang sekitar 1,5 km dengan lebar sekitar 250 meter di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, mencapai 1 juta meter kubik. “Itu jumlah yang sangat besar dan tidak mungkin bisa diselesaikan dengan singkat, dengan dana dari Pemkab Ponorogo.

Dana kita tidak cukup untuk menata atau menghabiskannya,” ungkap Bupati Ponorog Ipong Muchlissoni kemarin. Ipong menyatakan, banyak ide yang mulai dilontarkan terkait penanganan material longsor yang jumlahnya sangat besar tersebut. Salah satunya, memperbolehkan masyarakat untuk mengambil material longsor sebagai tanah uruk sehingga jumlahnya akan berkurang sedikit demi sedikit.

“Saya punya konsep, kalau nanti diizinkan oleh kepolisian atau pihak terkait, saya mau suruh masyarakat ngambil material longsor itu. Itu kan laku dijual. Soal tata caranya bagaimana, nanti coba dikompromikan dengan pihak kepolisian. Itu kan membantu juga mengurangi tanah yang ada di sana,” ungkapnya.

Dia mengatakan, kalau Pemkab Ponorogo yang harus memindahkan material longsor tersebut semuanya, dana yang ada tidak akan cukup. Waktunya juga akan sangat lama. “Tapi ya nunggu kondisi kondusif dulu,” ujar Ipong. Untuk penanganan dalam waktu dekat, lanjut Ipong, Pemkab Ponorogo akan meminta bantuan dana Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Soal besarannya, masih dalam perhitungan. Sebab, ada pula dana yang disiapkan oleh Pemprov Jatim. “Kalau untuk penanganan warga masyarakatnya, dana kita dari APBD ya ada, cukup lah. Yang akan kami lakukan adalah membuat bangunan hunian tetap. Kan juga sudah ada dana dari gubernur (Pemprov Jatim). Untuk operasional, sementara ini sudah cukup,” ujarnya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Ponorogo Setyo Budiono mengatakan, untuk pembersihan material longsor sampai tuntas hampir tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Dalam perhitungannya, untuk menghabiskan 1 juta meter kubik material longsor diperlukan waktu setidaknya 1.000 hari atau sekitar tiga tahun tanpa henti dengan asumsi tiap hari terdapat 100 ekskavator dan ratusan truk yang mengangkut keluar dari lahan tersebut.

“Kalau setiap satu hari 100 alat berat, masing-masing menyingkirkan 10 meter kubik material longsor, maka butuh 1.000 hari untuk membersihkan longsoran. Kalau kemarin hanya ada sepuluh buah, kan wajar kalau memang kesulitan menemukan korban tertimbun,” ujar Budi.

dili eyato

Berita Lainnya...