Edisi 21-04-2017
Pernah Jatuh Bangun, Kini Jadi Jujugan Wisata Edukasi


Di ujung jalan Dusun Siwarak Desa Kandri RT 05 RW II Gunung - pati yang cukup asri, tampak dua gazebo di depan dan sam - ping rumah yang memiliki ha - laman cukup luas.

Rumah itu masih kelihatan cukup sepi. Se - mentara di ruang tamu tampak berjejer kain ba tik yang sudah selesai digarap, baju batik, dan juga per-leng kapan membatik. Ya , itu merupakan rumah Ainin Hayati, pemilik brand Batik Siwarak. Perempuan yang biasa disapa Anin itu su - dah menekuni usaha pem buat - an batik sejak 2012.

Sebelum membuka usaha sendiri, dia bersama dengan calon pem ba - tik lainnya difasilitasi oleh pe - merintah daerah untuk meng - ikuti pelatihan di pabrikan be - sar di Masaran, Sragen. Seusai mendapatkan ilmu dan juga teknik membatik, ke - te rampilan itu pun coba diprak - tikkan dengan membuat batik brand Batik Siwarak dengan mo tif kera. Tidak mudah me - mang ketika memulai usaha baru, karena harus siap me - nang gung rugi. Anin bercerita, selama me - ne kuni usaha batik pernah dua kali gulung tikar.

Modal awal wak tu itu Rp5 juta pun ikut lu - des. Akibatnya, dia sem pat mutung tidak akan mene kuni batik lagi. Namun, karena sudah di - lan dasi semangat dan niat yang kuat, akhirnya usahanya ter se - but dirintis lagi dan pada akhir - nya bisa berjalan hingga saat ini. Belum lama ini ada perwakilan dari 20 negara yang berkunjung ke tempat usahanya itu.

“Kami tidak mengandalkan penjualan kain batik saja. Tapi, usaha ini bisa terus survive kare - na tempat saya banyak dida ta - ngi wisatawan yang ingin bela - jar membatik, ada dari India, Jepang, Korea Selatan, China, maupun dari warga lokal,” ung - kapnya, kepada KORAN SINDO baru-baru ini. Selama ini Batik Siwarak ma - suk paket wisata di Goa Kreo maupun Waduk Jatibarang.

Ba - gi yang memilih paket tersebut, wisatawan lokal maupun man - canegara akan diajak mengun - jungi serta praktik langsung membatik. Anin menjelaskan, usaha - nya hanya memfokuskan untuk penjualan kain batik bahan, baik itu cap maupun tulis. Jika stok habis, baru membatik lagi. Kain batik lebih cepat laku di - ban dingkan baju pria maupun wanita. “Untuk stok baju dari luar, buat pemanis saja.

Untuk yang batik tulis, harganya bisa men capai Rp350.000 hingga Rp750.000. Batik cap lebih murah. Saya menggunakan pewarna berkualitas baik dan kain kualitas middle ,” ujarnya. Batik Siwarak tidak memiliki toko tersendiri. Barang hasil pro duksi dijual di UMKM Cen - ter Jawa Tengah di Srondol We - tan, Banyumanik Kota Sema - rang. Selain itu, juga dijual di be - berapa event pameran, se perti Semarang Great Sale 2017.

Ibu dua anak ini sebenarnya per nah memiliki kios di Goa Kreo, namun saat ini sudah tergusur. Selain mengandalkan pen - jualan dari kunjungan wisata - wan, wanita berusia 37 tahun ini juga mendapatkan penda - patan dari pelajar yang belajar membatik. Pernah dalam satu hari didatangi 200 siswa SMP dari Demak. Karena kewa lahan, dia memberdayakan ibu-ibu PKK yang memiliki anak usia 5 tahun.

“Dalam sehari, ibu-ibu pendamping bisa mendapat Rp75.000. Membatik harus teliti, karena nyanting itu angel ,” ucap perajin yang memiliki dua orang tenaga pembatik ini. Warga setempat, Siti Aro fah, 34, sudah satu tahun ini ikut memberi pendampingan pelajar yang belajar membatik. Kadang pernah tiga hari bertu - rut-turut, tapi juga ada yang setengah hari. “Bagi saya yang menganggur di rumah, sangat membantu. Lumayan untuk menambah uang belanja,” kata dia.

ARIF PURNIAWAN

Kota Semarang

Berita Lainnya...