Edisi 21-04-2017
Ibu Kejam, Divonis 16 Tahun


PALEMBANG - Masih ingat dengan kasus tewasnya bocah berusia empat tahun bernama Brayn Aditya, akibat dianiaya ibu kandungnya? Kini ibu kandung kejam bernama Siska Apriana, 23, divonis hukuman 16 tahun penjara.

Vonis terhadap Siska itu ter - kuak dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Pa lem - bang dengan agenda putusan. Ketua Majelis Hakim Ellywarti menyebut, terdakwa terbukti bersalah dan melang - gar Pasal 76Cjo Pasal 80 ayat (4) Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Peru ba - han Atas Undang-UndangNo - mor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

"Terdakwa terbukti bersalah dan divonis hukuman 16 tahun penjara," kata majelis hakim. Putusan yang diberikan majelis hakim tersebut dike ta - hui lebih rendah dari tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), Hendra Fabianto beberapa waktu lalu. Saat itu JPU me - nuntut terdakwa dengan hu - kuman 20 tahun penjara. Sebelumnya, penasihat hu - kum terdakwa, Bustanul Fah mi juga menyampaikan pem be - laan nya.

Dalam pembelaan itu, Bustanul menuturkan perbua t an terdakwa dilakukan karena terpaksa lantaran kesal dengan suaminya. “Terdakwa menyesali per - buatannya dan sama sekali tidak berniat untuk meng hi - langkan nyawa anak kan dung - nya,” ujarnya. Selain itu, terdakwa juga masih berusia muda sehingga masih bisa memperbaiki per - bua tannya dikemudian hari. “Kami sudah berharap majelis hakim memberikan ker - inganan hukuman.”

“Dan putusan ini sudah kewenangan majelis hakim sendiri. Siska sendiri sudah menerima putusan tersebut," ujarnya. Dalam persidangan terung - kap, perbuatan terdakwa dil a - ku kan di rumah kontrakannya yang berada di Jalan Lubuk Bakung, Kecamatan Ilir Barat I, 21 November 2016 lalu. Berawal dari terdakwa yang sedang mencuci pakaian. Saat itu korban Brayn Aditya me - nangis saat bangun dari tidur.

Terdakwa lantas bertanya mengapa korban menangis, namun korban tidak men - jawab dan terus menangis se - hingga disuruh untuk diam. Terdakwa lantas menerus - kan mencuci pakaian. Namun hingga selesai mencuci, korban rupanya tak kunjung berhenti menangis. Lantaran kesal, terdakwa menendang dada korban dua kali, sehingga tangis korban semakin menjadi. Kemarahan terdakwa pun semakin menjadi sehingga terdakwa pun mengigit telapak tangan dan memukul dada kor - ban.

Lalu korban dimandikan agar berhenti menangis. Se - lanjutnya korban mengatakan bahwa dadanya terasa sakit. Terdakwa lantas membuat air asam untuk mengilangkan rasa sakit lalu korban pun tertidur. Karena hari mulai petang, maka terdakwa pun mem ba - ngun kan korban. Namun ter - nyata saat itu tubuh korban sudah terasa dingin.

Takut aksi penganiayaan yang dilakukannya diketahui, terdakwa akhirnya pergi keluar rumah dan membuat laporan palsu dengan dugaan telah men jadi korban KDRT oleh suaminya. Setelah dilakukan penye li - dikan, korban akhirnya me - nga kui perbuatannya tersebut.

adi haryanto

Berita Lainnya...