Edisi 21-04-2017
Purworejo Ingin Raih Adipura Tapi Pasarnya Kumuh


PURWOREJO – Untuk kesekian kalinya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo mempersiapkan mengikuti ajang Adipura, atau kota dengan kriteria bersih dan sehat.

Segala cara mereka lakukan termasuk menggelar workshop Adipura yang melibatkan banyak komponen yang bertujuan untuk memantau tempattempat atau fasilitas-fasilitas umum yang harus dibenahi kebersihan dan ketertibannya. Namun sayangnya, dari pantauan KORAN SINDO , lingkungan di Pasar Kongsi yang merupakan pasar tradisional, tampak kumuh.

Fasilitas jalan di pasar ini berlubang dan penuh air jika hujan turun. Bahkan penataan sejumlah kios dan los juga semrawut. Sekretaris Daerah (sekda) Pemkab Purworejo Said Romadhon menjelaskan, fasilitas umum seperti sekolah, pasar, dan trotoar menjadi target penilaian dewan juri Adipura. “Terima kasih atas masukannya soal kondisi Pasar Kongsi yang kumuh.

Kami akan tindak lanjuti,” kata Said Romadhon, kemarin. Said meminta seluruh warga Purworejo untuk ikut mendukung upaya pemkab setempat dalam upaya untuk meningkatkan kebersihan dan kesehatan lingkungan utamanya fasilitas umum. “Beri masukkan kami, kami berjanji akan langsung bertindak,” kata Said. Workshop Adipura yang berlangsung di Ruang Arahiwang Setda Purworejo, diikuti oleh 75 orang.

Para peserta tidak saja datang dari kepala kantor, dinas dan badan pemkab, namun juga beberapa elemen seperti para Pengelola Bang sampah, dan Pengelola Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah. Narasumber yang dihadirkan berasal dari Dinas LHK Provinsi Jawa tengah dan Pusat Pengelolaan Ekoregion Jawa (PPEJ) Kementerian LH Yogyakarta. Said Romadhon menilai hingga saat ini pengelolaan lingkungan hidup dan kebersihan di Kabupaten Purworejo belum memperoleh hasil sesuai yang diharapkan.

Salah satu indikatornya terlihat dari hasil penilaian Adipura, yang dari tahun ke tahun masih berkutat pada level atau peringkat menengah ke bawah. Bahkan pada 2016, skor yang diperoleh Kabupaten Purworejo pada penilaian Adipura mengalami penurunan dibandingkan 2015. Penurunan nilai Adipura terdapat pada titik pantau antara lain: pasar, pertokoan, rumah sakit/puskesmas, fasilitas pengolahan sampah skala kota, RTH perumahan, pemilahan sampah perumahan, pengolahan sampah, dan administrasi persampahan.

Sekretaris Kepala Dinas Lingkungan Hidup Purworejo Bambang Sugito menjelaskan, perolehan terbaik Kabupaten Purworejo dalam pengelolaan lingkungan hidup beberapa tahun terakhir adalah saat meraih sertifikat Adipura pada 2014 dan 2016.

Pada 2016, sertifikat Adipura diraih karena terjadi peningkatan kinerja pengelolaan lingkungan hidup di wilayah Kabupaten Purworejo. Adipura gagal diraih karena nilai yang diperoleh masih di bawah 75 dari semua titik pantau. “Saat digelar rapat koordinasi (rakor) di Provinsi Jawa Tengah nilai kami di bawah 74, sehingga perlu ada peningkatan. Titik lemahnya ada di pasar,” kata Bambang.

hery priyantono






Berita Lainnya...