Edisi 21-04-2017
Aksi Protes ke Penerbit Karena Tidak Tertarik Mencetak Naskah Teater


Perusahaan penerbit di Tanah Air kurang tertarik mencetak naskah-naskah teater dalam maupun luar negeri. Mereka yang menaruh minat pada seni teater kerap kali belajar dengan naskah yang mereka cari sendiri.

Naskah sastra teater mancanegara acap menjadi sumber literasi untuk selanjutnya beraksi. Namun, upaya itu pada akhirnya mencapai titik jenuh. Hingga mereka menulis naskah sampai menampilkan karya seni teater sendiri. Ini yang dilakukan mahasiswa Program Studi Sastra Inggris dan Program English for Creative Industry (ECI) Fakultas Sastra, Universitas Kristen (UK) Petra, kemarin. Mereka menampilkan teater bertajuk Listen To Me di Petra Little Theatre (PLT) Gedung B lantai 2 Kampus UK Petra.

“Ini teater berbahasa Inggris. Ini yang membuat kami sebelumnya mengangkat naskah-naskah teater luar negeri. Akhirnya mahasiswa didorong menulis naskah sendiri dan menampilkannya dalam tampilan seni teater. Ini juga bentuk protes kami ke penerbit yang kurang tertarik mencetak naskah-naskah teater. Padahal, teater bagian dari karya sastra,” tutur Meilinda, Artistic Director PLT.

Keberadaan penerbit yang bersedia mencetak naskah teater sebenarnya bisa menjadi apresiasi bagi penulis naskah. Dengan diapresiasi para penulis diharapkan bisa lebih produktif. Banyaknya buku naskah sastra akan membuat mereka yang belajar seni peran mudah mendapatkan literasi. Lebih membanggakan lagi, Indonesia tidak ketinggalan untuk tataran seni teater dibandingkan negara lain.

Teater berjudul Listen To Me mengusung simbol atau pesan keberadaan seorang perempuan era sekarang yang tidak lagi sebagai konco wingking (teman di belakang). Selain itu, peringatan kepada orang tua untuk tidak “mendikte” anak-anaknya, terutama yang perempuan. Listen To Me diperankan lima mahasiswa. Mereka adalah Jessica Azalea sebagai Hayli Kencono (anak), Indah Sari sebagai Anita Lusi (ibu), Richard Lawrence sebagai Henrikus Kencono (kakak lakilaki), Trisha Zoe Tedjakarna sebagai Hilda Kencono (kakak perempuan), dan Lucky Aditya sebagai Hubertus Kencono (adik).

Mengikuti tampilan kelimanya menggambarkan bahwa Hayli Kencono sebagai tokoh utama menghadapi ibu kandung yang memaksakan kehendak. Sementara kakak perempuannya cenderung mendukung keputusan ibu. Hayli Kencono masih mendapat pembelaan kakak dan adik lelakinya, Henrikus Kencono serta Hubertus Kencono. Namun, ini tidak membantu banyak karena ibunya otoriter, tidak bisa mendengar suara anakanaknya.

Konflik ditampilkan dari awal hingga akhir tampilan berdurasi sekitar satu jam itu. Mereka begitu menghayati bahkan Jessica Azalea yang memerankan Hayli Kencono sampai melempar alat-alat tulisnya hingga berserakan. “Saya sengaja mengangkat judul Listen To Me ini berdasar fenomena masyarakat. Contohnya, orang tua yang memaksakan anaknya masuk jurusan IPA karena anaknya ingin jadi dokter.

Padahal, pilihan anak adalah IPS. Akibatnya, setelah menuruti kemauan orang tua, anak menjadi tidak semangat belajar. Kalaupun mau belajar dan mendapatkan nilai bagus, itu sebatas untuk menggugurkan keinginan orang tua,” tutur Febyola Linando, sang penulis naskah. Sebagai Artistic Director PLT sekaligus dosen pada Fakultas Sastra UK Petra, Meilinda mengapresiasi mahasiswanya yang berani mengangkat karya sendiri.

Meilinda juga senang dengan banyaknya siswa SMA di Surabaya menonton. Sebelumnya, mahasiswa yang terlibat sebagai kru berkeliling menjual tiket ke sekolahsekolah sebesar Rp20.000 per tiket. “Kami memilih teater karena mampu menyoroti dan membedah suatu isu hingga mendalam. Mengajak penonton berpikir kritis dan membuka ruang dialog perihal yang diangkat,” ujar Stefanny Irawan, Managing Director PLT UK Petra.

SOEPRAYITNO

Surabaya

Berita Lainnya...