Edisi 21-04-2017
Jateng Kekurangan Penyuluh KB


SEMARANG – Program keluarga berencana (KB) di Jawa Tengah masih menemui berbagai kendala. Selain minimnya jumlah penyuluh KB di lapangan, anggaran yang disediakan untuk menggenjot program tersebut juga terbatas.

Saat ini masih ada 1,5 juta pasangan subur di Jateng yang belum mengikuti program KB. Kepala Badan Kepen du - dukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jawa Te - ngah Wagino mengatakan di Jawa Tengah terdapat 6,7 juta pasangan subur. Dari jumlah itu, sampai Desember 2016 su - dah ada 5,2 juta yang mengikuti program KB. Sedangkan sam pai Maret 2017 capaiannya ba ru 7,2%.

“Targetnya sampai akhir tahun ini bisa sampai 600.000 peserta baru,” kata nya. Wagino membeberkan, da - ri sejumlah 5,2 juta pasang an yang telah mengikuti KB, se - banyak 65% mengikuti KB ter - hitung baik, bahkan lebih ting - gi dibanding rata-rata nasional sejumlah 61%. “Jumlah pen du - duk di Jateng sekarang sekitar 33 juta jiwa, kalau peserta KB aktif 5,2 juta maka sudah cukup tinggi, rata-rata per keluarga punya 2-3 anak,” katanya.

Dia mengungkapkan, ken - da la pelaksanaan program KB di lapangan karena jumlah pe - nyuluh KB berkurang. Semes - tinya per orang memberi pe - nyuluhan 2-3 desa, tapi saat ini membina sampai 10 desa. Selain itu, kader penyuluh KB di era Orde Baru ditopang uang transportasi dan ope - rasional Rp3.000 per bulan. Sedangkan saat ini minim, bah - kan anggaran tahun ini hanya cukup enam bulan dan sele - bihnya dibebankan ke peme - rintah kabupaten/kota melalui APBD setempat.

“Tapi pemerintah kabup a - ten/kota mungkin anggar an - nya terbatas sehingga program KB belum dianggap sebagai prioritas. Maka ada beberapa kabupaten yang mengang gar - kan melalui dana desa,” kata - nya. Sekretaris Komisi Fatwa MUI Jawa Tengah, Fadlolan Musyafa mengatakan, MUI tidak memberikan larangan terhadap adanya penundaan kehamilan yang merupakan program KB dalam mendu - kung program tersebut. Sebab program itu dinilai bermanfaat pembangunan kemandirian masyarakat.

“Jadi mengatur penundaan anak itu tidak ada pertentangan dengan agama, atau boleh,” kata dia. Fadlolan menegaskan, aga - maIslammemperbolehkanada - nya pencegahan kehamil an. Na - mun, agama melarang adanya memutus kelahiran permanen atau pemandulan permanen. Dia menjelaskan, terdapat delapan alasan diperboleh kan - nya mencegah kehamilan atau KB. Pertama, bertujuan mem - berikan pendidikan pada anak yang lebih baik.

“Artinya, jika kondisi ekonomi terbatas maka agar dapat membekali pendidikan ke anak yang lebih baik, maka tak perlu memiliki banyak anak,” ujar dia. Kedua, lemahnya kondisi wanita atau fisiknya lemah. Ketiga, perempuan yang terle - wat subur yang dikhawatirkan memiliki terlalu banyak anak namun kondisi ekonomi tak berbanding lurus. Keempat, suami tak mampu menyejah - terakan keluarga. Kelima , ada penyakit menular di antara suami maupun istri.

amin fauzi


Berita Lainnya...