Edisi 21-04-2017
Antara Sesumbar Dan Cari Sensasi


Dunia maya mendadak heboh seusai Pilgub DKI Jakarta. Bukan saja para netizen ramai membicarakan kemenangan Anies-Sandi versi hitung cepat, tetapi ada satu tema yang membuat media sosial menjadi sorotan netizen.

Ya, munculnya rekaman video melalui Facebook berisi rekaman seorang wanita berkaus biru yang sesumbar akan memotong salah satu bagian vital tubuhnya (maaf, dia menyebut payudara), apabila pasangan Ahok-Djarot kalah dalam Pilgub DKI. Selain janji seorang politisi yang mempersilakan telinganya dipotong jika pasangan petahana kalah. Para netizen ramai menagih janji itu, meskipun kemenangan pasangan Anies-Sandi masih belum resmi berdasarkan penghitungan KPU.

Namun mereka sangat yakin dengan hitung cepat yang kemenangannya di atas 50%. Terlepas siapa yang menang ketika KPU mengumumkan Gubernur DKI terpilih nanti, namun sangatlah tidak elok apabila harus sesumbar seperti itu. Apapun namanya, ketika sesumbar atas sesuatu hal yang belum terjadi merupakan sebuah kesombongan. Ketika perempuan dan politisi itu sesumbar, pada dasarnya dia sangat yakin apa yang akan terjadi di kemudian hari sesuai dengan keinginannya.

Mereka tidak sadar atas apa yang diperbuatnya itu sudah melampaui kewenangan Allah SWT. Padahal, Allah lah yang berhak sombong dan Maha Mengetahui atas segala hal, termasuk Maha Mengetahui atas sebuah peristiwa yang akan terjadi. Ketika kita sudah merebut kewenangan Allah melalui kesombongan yang kita buat, maka kehinaan yang didapat.

Sebagai renungan, menurut Imam Al Ghazali ada tujuh kenikmatan yang menyebabkan seseorang memiliki sifat takabur, yaitu ilmu pengetahuan, _orang yang berilmu tinggi atau berpendidikan tinggi merasa dirinya orang yang paling pandai bila dibandingkan dengan orang yang tidak berilmu atau berpendidikan; amal ibadah yang tidak jelas dapat menyebabkan sifat takabur apalagi bila mendapat perhatian dari orang lain; kebangsawanan, dapat menyebabkan takabur karena menganggap dirinya lebih tinggi derajatnya daripada kelompok atau kasta lain, kecantikan dan ketampanan wajah, menjadikan orang merendahkan orang lain dan berperilaku sombong; harta dan kekayaan, dapat menjadikan orang meremehkan orang miskin; kekuatan dan kekuasaan, dengan kekuatan dan kekuasaan yang dimilikinya dapat berbuat sewenangwenang terhadap orang lain tanpa melihat statusnya; banyak pengikut, teman sejati, karib kerabat yang mempunyai kedudukan dan pejabat-pejabat tinggi.

Dalam setiap pesta demokrasi semisal pilkada, kesombongan itu acapkali terjadi. Merasa diri memiliki pengaruh kuat, banyak uang, didukung mayoritas masyarakat, sehingga mengabaikan peran ilahiah dalam aktivitas berpolitiknya. Kalau sudah demikian, siap-siap saja akan mendapat kehinaan yang tidak saja dirasakan di akhirat, melainkan secara kontan dibayar di dunia.

Nah, seusai Pilgub DKI, pesta demokrasi akan bergeser ke daerah lain, salah satunya Jawa Barat. Suhu politik menjelang Pilgub Jabar dan pilkada di sejumlah kabupaten pun sudah mulai memanas. Panas boleh, tapi fenomena kesombongan yang terjadi saat Pilgub DKI kemarin, jangan sampai menular ke Jawa Barat. Tidak boleh ada janji-janji akan memotong bagian tubuh apabila kalah, atau melompat dari gedung tinggi.

Para _ gur yang akan maju dalam pesta demokrasi itu hendaknya lebih tawadu dan ngotot untuk sekadar mendapatkan sebuah jabatan. Karena pada prinsipnya, lebih elegan dicalonkan daripada mencalonkan diri. Sehingga akan jauh dari sifat-sifat yang pada dasarnya akan menghinakan kita. Semoga dalam pesta demokrasi di Jabar dijauhkan dari ujub dan takabur. Amin.

asep supiandi

Wartawan KORAN SINDO

Berita Lainnya...