Edisi 12-05-2017
Umat Buddha Diajak Menjaga Kedamaian


MEDAN– Umat Buddha di Kota Medan merayakan peringatan Hari Tri Suci Waisak 2561 di Vihara Sinar Budha Indonesia, Blok EE Kompleks CBD Polonia, Medan, Kamis (11/5). Perayaan Waisak bertemakan cinta kasih itu menekankan agar menjaga kedamaian.

Gubernur Sumatera Utara T Erry Nuradi yang hadir mengungkapkan, sebagai bangsa yang besar, kerukunan antarumat beragama di Indonesia telah tercipta sejak bangsa ini merdeka. Untuk itu, dia mengajak seluruh umat Buddha untuk menjaga kedamaian tersebut. “Meski kita berbeda, karena Indonesia memiliki lebih dari 700 suku, tapi patut disyukuri karena kita mampu menjaga suasana damai,” ungkapnya saat memberikan kata sambutan di acara tersebut.

T Erry Nuradi mengingatkan agar umat Buddha belajar dari masa lalu. Di saat Indonesia terpecah belah karena adanya politik adu domba yang dilakukan Belanda saat menjajah Indonesia. Kondisi tersebut harus dijadikan pelajaran agar tidak terulang kembali. “Pengalaman pahit masa lalu itu harus menjadi pelajaran berharga agar kita tidak mudah diadu domba. Indonesia, khususnya Sumatera Utara bisa maju kalau kita kokoh dan mudah dipecah belah,” tandasnya.

Sementara itu, Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel yang juga hadir mengungkapkan, aman dan damai merupakan syarat utama untuk membangun sebuah bangsa. Untuk itu, dia mengajak umat Buddha untuk menjaga kedamaian bangsa. “Cinta kasih dalam kebinekaan sangat penting. Karena yang bisa mempersatukan kita adalah cinta kasih,” ujarnya.

Kapolda juga mengajak umat Buddha agar saling tolong-menolong, saling menghormati, dan menjaga kedamaian dengan cara tidak memandang perbedaan agama, suku, dan latar belakang. “Saya mengapresiasi umat Buddha di Sumatera Utara yang telah berpartisipasi menjaga keamanan dan kondusivitas. Pendek kata, kita harus saling menghormati dan tidak melihat perbedaan di antara kita,” paparnya.

Pembimbing Masyarakat Buddha Kantor Wilayah Kementrian Agama Sumut Ketut Supardi mengungkapkan, umat Buddha harus mampu menerapkan tiga peristiwa suci Waisak, di antaranya hari lahir Buddha, Buddha mencapai pencerahan, dan hari wafatnya Buddha. “Kita harus mampu merenungkan makna dari tiga peristiwa suci Waisak ini dan menjadikannya sebagai keteladanan.

Saya juga mengapresiasi para tokoh umat Buddha yang mampu meningkatkan kerukunan beragama di Sumut,” katanya. Mewakili umat Buddha di Kota Medan yang juga anggota DPRD Sumut, Brilian Moctar mengucapkan terima kasih kepadaGubernurSumateraUtara TErryNuradidanKapoldaSumut Irjen Pol Rycko Amelza Dahniel yang telah menghadiri perayaan Tri Suci Waisak 2561 tersebut.

Brilian Moctar menambahkan, perayaan Tri Suci Waisak bukan sekadar Hari Raya umat Buddha, melainkan sebagai peringatan sejarah. “Buddha lahir, mencapai kesempurnaan pada usia 35 tahun dan meninggalnya pada usia 80 tahun di tanggal dan bulan yang sama, yakni di hari Waisak ini. Makanya disebut dengan Tri Suci Waisak. Karena ada tiga peristiwa penting terjadi di tanggal dan bulan yang sama,” papar Brilian, yang juga penasihat Walubi Sumut.

Ketua Walubi Sumut Indra Wahidin mengungkapkan, perayaan Tri Suci Waisak 2561 di Kota Medan, Sumatera Utara dipusatkan di Vihara Sinar Budha tersebut. Berbagai rangkaian acara digelar untuk menyemarakkan acara tersebut yang dimulai dengan donor darah, lalu dilanjutkan dengan puja bakti dan pesta taman Waisak.

Umat Buddha yang telah hadir sejak pukul 08.00 WIB antusias mengikuti berbagai rangkaian acara yang digelar. Acara tersebut juga diramaikan dengan bazar yang menyediakan aneka makanan vegetarian, perlengkapan sembahyang agama Buddha, dan lainnya.

Perayaan Tri Suci Waisak di Candi Borobudur

Sementara itu Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi detik-detik Waisak di Pelataran Candi Agung Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, tepat pukul 04.42 WIB, Kamis (11/5), dini hari. Prosesi diakhiri dengan pradaksina (mengelilingi candi) yang diikuti para biksu sangha dan umat Buddha. Ketua Umum Walubi S Hartati Murdaya mengatakan, inti dalam peringatan Waisak ini adalah mengajak umat Buddha untuk melakukan perjuangan melawan hawa nafsu.

Selain itu, Walubi mengajak umat untuk meningkatkan benih-benih sejati agar dikembangkan menjadi kebijaksanaan. “Memperkuat welas asih terhadap sesama, keluarga, masyarakat, dan bangsa dalam NKRI. Setelah saling memaafkan dan menyayangi, saling memberi welas asih, saling memberi kepedulian kepada yang kurang mampu untuk ikut mengurangi kesenjangan,” katanya.

Rangkaian acara peringatan Waisak itu kemudian dilanjutkan dengan puja bakti di Pelataran Candi Borobudur. Dalam kesempatan itu, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kemenag Supriyadi mengatakan, keragaman yang ada di masyarakat adalah aset untuk memperkuat hubungan antarumat beragama. Selain itu meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai wawasan kebangsaan yang multikultural.

“Kami berharap dapat bersama- sama membangun rasa kebangsaan dengan sikap saling menghargai, serta menge-depankan dan mengembangkan nilai-nilai cinta kasih dalam masyarakat majemuk,” kata Supriyadi di sela-sela Perayaan Tri Suci Waisak itu. Sementara, Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira dalam renungan Waisak mengatakan, Peringatan Tri Suci Waisak bukan sekadar ritual Waisak untuk berdoa dan memohon.

Namun, umat harus menyadari hakikat kebuddhaan dan menyerapnya, berjuang untuk mengembangkan hati Buddha dan potensi kebuddhaan dalam diri masing-masing. “Berjuanglah dengan penuh semangat untuk meraih pencerahan dan mahabudi,” tuturnya. Sementara Biksu Wongsin Labhiko mengajak umat Buddha untuk menambah level objek umat Buddha dengan menjaga perbuatan menjadi baik sesuai dengan ajaran Guru Agung Sang Buddha Gautama.

Mengakhiri rangkaian detik- detik Waisak dilakukan pradaksina (mengelilingi candi) searah jarum jam sebanyak 3 kali. Ritual ini juga diikuti para biksu sangha dan diikuti ribuan umat Buddha. Sementara pada Rabu (10/5) pagi, sekitar 100 biksu melakukan pindapata (menerima sedekah) dari umat Buddha di sepanjang Jalan Pemuda, kawasan Pecinan, Kota Magelang.

Sedekah yang telah terkumpul dari umat tersebut nantinya dikelola pengurus untuk kebutuhan para biksu. Adapun pada Rabu sore dilakukan prosesi kirab akbar dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur yang menempuh jarak sekitar 3 km. Warga, terutama umat Buddha, pun berbondong-bondong menyaksikan prosesi tersebut. Apalagi dalam kirab tersebut turut dibawa air berkah dan api darma yang sebelumnya disemayamkan di Candi Mendut untuk sarana puja bakti.

Ribuan Lampion Diterbangkan

Selain prosesi Tri Suci Waisak dan kirab akbar dari Candi Mendut ke Borobudur, Waisak kali ini juga diwarnai pelepasan lampion pada Rabu (10/5) malam sekitar pukul 21.00 WIB. Sebanyak 1.999 lampion diterbangkan ke udara oleh para pengunjung di Taman Aksobya, Candi Borobudur. Setiap sesi pelepasan lampion dilakukan sekitar 200-an pengunjung.

Peserta yang ikut menerbangkan ribuan lampion ini datang dari berbagai daerah. Bahkan, sejumlah turis mancanegara pun turut menerbangkannya. “Kami datang dari Jakarta bersama teman-teman untuk ikut menerbangkan lampion. Harapan kami agar diberikan kesehatan,” kata Alan, yang sempat swafoto dengan teman- temannya seusai menerbangkan lampion tersebut.

DPR Harap Waisak Jadi Momentum Positif Kesejahteraan Rakyat

Sementara itu, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) berharap peringatan Hari Waisak menjadi momentum positif untuk pembangunan kesejahteraan rakyat Indonesia. “Saya berharap kita mampu memberi solusi bagi persoalan bangsa dan negara, memberi kontribusi positif bagi pembangunan dan kesejahteraan bangsa pada masa yang akan datang. Buddha Gautama mampu membuktikan bahwa perbedaan apa pun yang melatar belakangi kita tidak bisa jadi penghalang.

Karena yang menyatukan kita adalah kebaikan dan keteladanan,” ucap Ketua DPR Setya Novanto, dalam keterangan tertulisnya. Menurutnya, perayaan Waisak tentu saja mengingatkan pada sosok perjalanan Buddha Gautama dari kelahiran, pencapaian pencerahan, hingga kemangkatannya sebagai suri tauladan bagi pengikut dan penganut ajaran Buddha.

Buddha Gautama, sambungnya, telah mewariskan teladan tentang bagaimana menjalani hidup yang memberi efek dan menularkan energi positif bagi sesama manusia. “Sosok Buddha Gautama mengajarkan tentang kesederhanaan yang dijalani meski berlimpah kemewahan, kerelaan berkorban, dan mendahulukan kepentingan sesama yang lebih membutuhkan,” jelasnya.

Di balik itu, sebagai teladan, penganjur agama, dan tokoh masyarakat, Buddha Gautama juga memberi teladan sebagai figur yang layak untuk diikuti, sosok yang pantas untuk diteladani. Buddha Gautama telah menunjukkan bahwa segala perilaku yang baik akan disukai dan dicintai oleh sesama manusia. “Hal itulah yang patut dijadikan inspirasi kehidupan kita saat ini.

Saya berharap, tokohtokoh dan figur-figur penting di negeri ini, baik itu pejabat, profesional, alim ulama dan seluruh potensi yang ada mampu menularkan energi positif dalam kehidupan,” ungkapnya. Begitu pun dengan menanamkan benih-benih cinta kasih terhadap sesama, di ladang pemikiran rakyat Indonesia. Energi itulah yang bisa dit-eladani oleh sesama manusia, sesama masyarakat, dan sesama warga negara.

“Kita membutuhkan energi-energi tersebut agar mampu melangkah dan menatap Indonesia yang lebih baik,” katanya. Sementara itu, Wakil Ketua Komisi IV DPR dari Fraksi PKB Daniel Johan mengatakan, Perayaan Waisak memiliki pesan penting untuk mencintai kemanusiaan apa pun latar belakang dan kelas sosialnya. Kemanusiaan menjadi dimensi sakral semua agama yang menyatukannya.

“Manusia bukan musuh kita karena permusuhan berujung kebinasaan. Justru tugas kita adalah mengangkat harkat dan martabat kemanusiaan. Sementara yang menjadi musuh bersama semua agama adalah kemiskinan dan ketidakadilan sosial, yang menimbulkan berbagai masalah sosial dan kemanusiaan,” ucapnya.

dicky irawan/ eko susanto/ mula akmal



Berita Lainnya...