Edisi 12-05-2017
Karakter Madat Hambat Daya Saing Global


YOGYAKARTA – Identifikasi masalah yang menjadi kunci lemahnya daya saing Indonesia ialah masih tingginya karakter adiksi atau madat atau kecanduan pada budaya bangsa.

Untuk itu Indonesia wajib menghilangkan karakter madat jika ingin meningkatkan daya saing global. Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Pol Budi Waseso mengatakan, kondisi Indonesia dalam persaingan global berdasarkan Global Competitiveness Index , daya saing Indonesia 2016-2017 berada di peringkat 41. Angka tersebut turun empat peringkat dibandingkan dengan posisi tahun sebelumnya yang berada di urutan 37.

“Beberapa masalah yang terkait faktor penurunan peringkat tersebut di antaranya adalah masalah kesehatan, pendidikan, dan tenaga kerja. Inilah tantangan yang harus dipecahkan bersama antara pemerintah, dunia pendidikan, komunitas orang tua dan lingkungan,” kata Budi Waseso dalam pidato ilmiahnya yang dibacakan oleh Deputi Bidang Pemberdayaan Masyarakat BNN Irjen Pol Sobri Effendi Surya pada Dies Natalis IST AKPRIND Yogyakarta ke-45, kemarin.

Menurut Budi, adiksi adalah penyakit yang secara pasti memperlemah daya pikir, daya ingat, dan daya nalar. Adiksi apa pun bentuknya akan menular dan membuat beragam rantai masalah yang kompleks serta rumit untuk dipecahkan. Karakter bangsa Indonesia sendiri telah dilemahkan oleh karakter madat bangsa. “Jika kita cermati maka kata kuncinya ialah karakter, moral, dan disiplin dalam pola didik generasi bangsa kita. Karakter menjadi bangunan dasar semua unsur dalam pengembangan sumber manusia.

Karenanya, dalam membangkitkan daya saing bangsa, kita harus mencari solusi membangun karakter kuat, sehat, berpendidikan melalui pembentukan pola pikir, sikap, dan pola tindakan yang sehat pula dalam sistem pendidikan dan sistem kerja,” kata Budi.

Rektor IST AKPRIND Yogyakarta Dr Ir Amir Hamzah MT mengatakan, kemajuan teknologi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi telah mengubah pola karakter suatu generasi. Generasi multitalenta dan dinamis, generasi yang menginginkan semuanya serba cepat.

Generasi ini sering disebut sebagai generasi Z. “Penguasaan sains dan teknologi akan dapat membentuk karakter generasi muda khususnya generasi Z yang cerdas dan mampu menghadapi tantangan,” kata Amir Hamzah.

ratih keswara

Berita Lainnya...