Edisi 12-05-2017
Yusuf Dikurung Tujuh Tahun


BANDUNG – Karena kerap mengamuk, seorang remaja berusia 15 tahun Yusuf, terpaksa dikurung oleh orang tuanya selama tujuh tahun.

Saat ini, Yusuf dikurung dalam sebuah ruangan berukuran 2 x 2 meter. Dalam ruangan itu berisi tempat tidur saja dengan pintu berjeruji besi. Pria yang seharusnya tengah aktif ini, terpaksa tanpa daya harus rela dikurung lantaran mengalami gangguan otak. Menurut ibu Yusuf, Ratnasari, anaknya dikurung sejak berumur delapan tahun.

Itu pun terpaksa dilakukannya karena tetangga sering mengeluh mendapatkan gangguan dari anaknya. “Apalagi usianya makin dewasa, tenaganya makin besar, jadi kami lebih khawatir, takut melukai orang lain. Mau bagaimana lagi, saya juga sebenarnya tidak mau mengurungnya seperti ini, tetapi demi keselamatan mau tidak mau harus dilakukan,” ungkap Ratnasari di kediamannya, RT 01/RW 04, Kelurahan Mekarwangi, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung, kemarin.

Baik Ratnasari maupun sang ayah, Nurjaman, dengan telaten merawat Yusuf sejak kecil. Tidak jarang, dengan pengawasan yang cukup ketat, Yusuf pun sesekali diajaknya keluar rumah untuk diberikan penyegaran. Menurut dia, berdasarkan hasil pemeriksaan medis, anaknya terkena radang selaput otak. Di mana awalnya karena jatuh dari sepeda ketika umur dua tahun setengah.

Saat itu kepalanya terbentur hingga berdarah. Setelah jatuh, Yusuf mengalami kejang-kejang lalu beberapa hari kemudian dibawa ke rumah sakit karena tidak sadarkan diri. Di rumah sakit, remaja tersebut dinyatakan koma dua bulan setengah lamanya. “Setelah bangun dari koma, perilaku Yusuf berubah. Dia jadi galak pada semua orang, dan tidak terkendali. Bahkan Yusuf pun pernah merusak barang- barang dan pernah juga menggigit, menjambak, dan mencakar,” ujar wanita berusia 38 tahun itu.

Yusuf sebenarnya pernah dibawa ke rumah sakit jiwa di Cisarua. Namun hanya beberapa hari sebelum akhirnya dipulangkan. Kemudian ke rumah sakit jiwa lain, di mana harta bendanya habis namun tidak kunjung mempengaruhi kesehatan anaknya. Dalam dua tahun terakhir, biaya pengobatan Yusuf sudah ter-cover BPJS Kesehatan, tetapi tidak jarang obat bagi anaknya habis, sehingga dia dan suaminya pun harus mengeluarkan uang sendiri. Beruntung, kata Ratnasari, ada yayasan yang mengulurkan bantuan untuk anaknya.

“Biayanya mahal, sekali berobat bisa habis Rp500.000. Alhamdulillah sekarang ada BPJS jadi bisa lebih ter-cover, kalau obatnya harus beli di luar ada bantuan dari yayasan. Tetapi kami tidak bisa terus berharap untuk dibantu,” tuturnya. Disinggung mengenai bantuan pemerintah, lanjutnya, belum ada bantuan apapun kendati sudah ada dari kelurahan yang datang dua kali ke kediamannya.

Selama ini, dia bergantung dari BPJS dan yayasan untuk biaya anaknya. “Kalau dibilang ke rumah sakit jiwa pasti langsung mengamuk. Dia lebih betah di rumah saja. Harapan kami ingin Yusuf dapat kembali normal dan sehat lagi,” tambahnya. Meski demikian, menurut sang Ibu, Yusuf masih bisa berkomunikasi meski hanya dengan bahasa Sunda sederhana.

anne rufaidah


Berita Lainnya...