Edisi 12-05-2017
Motif Batik Tergantung Cara Mengikat Gulungan Kain


Tangan Mbah Sukiyat cekatan mencampur pewarna dengan air panas di atas nampan plastik berwarna merah. Usai air panas yang dituangkan di atas nampan berubah berwarna biru, sebuah kain putih yang dilipat dalam bentuk segitiga sama sisi dan diikat dengan karet gelang secara berlahan dicelupkan ke dalam cairan.

Satu per satu sisi segitiga dicelupkan ke dalam cairan yang ada di dalam nampan dan kemudian langsung ditiriskan ke atas sebuah kayu. Pencelupan kemudian dilanjutkan dengan ikatan kain putih lain yang juga memiliki bentuk segitiga sama sisi. Namun kali ini pencelupan dilakukan lebih dalam dan lebih lama. Sehingga akhirnya segitiga kain yang semula berwarna putih menjadi berwarna biru pekat.

Usai memproses kain segitiga ke dua, tangan Mbah Sukiyat langsung melanjutkan dengan mencelup kain yang telah dilipat dan diikat dalam bentuk bujur sangkar. Setelah semua kain yang diikat mendapatkan proses pewarnaan, sambil menunggu proses penirisan, warga Sendangagung, Minggir, Sleman tersebut langsung membersihkan halaman depan rumahnya.

Dedaunan yang jatuh di rerumputan disingkirkan. Lokasi ini, nantinya akan digunakan untuk menjemur kain yang telah diberi pewarna. Dengan berlahan, ikatan karet gelang dilepas dari lipatan kain yang telah berubah menjadi berwarna biru dari semula berwarna putih. “Harus hati-hati membukanya agar corak tidak rusak. Dijemur dengan cara horizontal, agar pewarna tidak merembes sehingga corak menjadi rusak,” kata Sukiyat usai membuka satu ikatan kain segitiga sama sisi yang dicelupkan pertama.

Setelah terbuka, dari ikatan dan lipatan, terlihat kain yang semula berwarna putih menjadi memiliki motif yang cukup unik. Terlihat muncul gambar berwarna biru kombinasi antara bentuk bulat dan bunga. Meski hanya dicelupkan dalam satu warna, kemunculan warna dalam gambar motif juga terlihat unik karena ada yang berwarna biru pekat ada yang berwarna biru muda.

Sementara saat ikatan pada lipatan kain segitiga sama sisi kedua, yang dicelup lebih lama muncul motif yang lebih berwarna biru pekat. Namun karena lipatan dan ikatan yang dilakukan, tetap memunculkan motif batik yang unik. Kedua kain yang memiliki motif berbeda tersebut dijemur dengan hanya diletakkan begitu saja di atas rerumputan yang ada di depan rumah.

“Ini teknik Shibori, saya belajar dari keponakan. Ini ada juga yang menyebutnya dengan jumputan. Shibori ini tekniknya dari Jepang,” katanya. Meski diproses dengan cara yang sama, motif batik yang dihasilkan disebut Sukiyat tidak pernah sama. Motif yang terbentuk sangat tergantung dari rapatnya lipatan, kencangnya ikatan, serta lamanya pencelupan kain ke pewarna.

Teknik Shibori ada berbagai macam, namun teknik yang dilakukan Mbah Sukiyat tersebut dikenal dengan teknik Kumo Shibori. Dengan teknik pewarnaan yang dilakukan, Mbah Sukiyat mampu menciptakan kain batik dengan motif unik yang bisa dijual dengan harga antara Rp100.000 hingga Rp150.000 per lembar. “Yang unik dari batik Shibori Mbah Sukiyat ini adalah motifnya tidak ada yang sama.

Jadi ketika kita beli kain dan kemudian dijahitkan menjadi baju, tidak akan ditemui baju dengan motif yang sama persis. Kalau mirip, mungkin, tetapi yang sama persis, tidak ada,” ujar salah satu pelanggan yang bernama Herbandang.

Dari kain yang telah mendapatkan kreasi dari tangan terampil Mbah Sukiyat, memang bisa diproses menjadi berbagai macam bentuk. Mulai dari pakaian maupun digunakan untuk membuat selendang bisa dibuat dari kain dengan ukuran satu kali dua meter tersebut. Kini Mbah Sukiyat hanya baru bisa memproduksi kain belum sampai ke arah membuat model pakaian karena ketidakmampuannya dalam mendesain pakaian dan jahit-menjahit.

MAHA DEVA

Sleman

Berita Lainnya...