Edisi 12-05-2017
Saling Menghargai Bangun Kebangsaan


MAGELANG – Ribuan umat Buddha mengikuti prosesi detik- detik Waisak di Pelataran Candi Agung Borobudur, Kabupaten Magelang, tepat pada pukul 04.42.09 WIB, Kamis (11/5) dini hari.

Mengakhiri prosesi tersebut dilakukan pradaksina (mengelilingi candi) yang diikuti para biksu sangha dan umat Buddha. Kegiatan keagamaan yang sama juga diadakan di kompleks Candi Prambanan. Sebelumnya pada Rabu (10/5), sekitar pukul 21.00 WIB, dilakukan pelepasan 1.999 lampion ke udara yang dilakukan para pengunjung. Pengunjung yang menerbangkan lampion dibagi dalam beberapa sesi dan telah mendaftar dengan biaya Rp100.000 di Taman Aksobya.

Adapun untuk setiap sesinya sekitar 200- an pengunjung yang menerbangkan lampion. Peserta yang ikut menerbangkan ribuan lampion ini datang dari berbagai daerah. Bahkan, terlihat sejumlah turis mancanegara ikut menerbangkan lampion. “Kami datang dari Jakarta bersama teman-teman ke sini untuk ikut menerbangkan lampion.

Harapan kami agar diberikan kesehatan,” kata Alan yang sempat swafoto dengan teman-temannya seusai menerbangkan lampion. Ketua Umum Perwalian Umat Buddha S Hartati Murdaya mengatakan, inti peringatan Waisak ini mengajak umat Buddha untuk berjuang melawan hawa nafsu. Selain itu, Walubi mengajak umat untuk meningkatkan benih-benih yang sejati agar dikembangkan menjadi kebijaksanaan. “Memperkuat welas asih terhadap sesama, keluarga, masyarakat, bangsa dalam NKRI.

Setelah saling memaafkan dan menyayangi, saling memberi welas asih, saling memberi kepedulian kepada yang kurang mampu untuk ikut mengurangi kesenjangan,” tutur Hartati. Rangkaian acara dilanjutkan dengan puja bakti di Pelataran Candi Borobudur. Dalam kesempatan itu, Direktur Urusan dan Pendidikan Agama Buddha Kementerian Agama Supriyadi mengatakan, keragaman yang ada di masyarakat sebagai aset memperkuat hubungan antarumat beragama.

“Kami berharap kiranya kita dapat bersama-sama membangun rasa kebangsaan dengan sikap saling menghargai, mengedepankan dan mengembangkan nilai-nilai cinta kasih dalam masyarakat majemuk,” ajak Supriyadi di sela-sela perayaan Tri Suci Waisak. Sementara itu, Biksu Tadisa Paramita Mahasthavira dalam renungan Waisak mengatakan, peringatan Tri Suci Waisak bukan sekadar diadakan ritual untuk berdoa dan memohon.

Namun, umat harus menyadari hakikat kebuddhaan dan menyerapnya, berjuang untuk mengembangkan hati Buddha, dan potensi kebuddhaan dalam diri masing-masing. “Berjuanglah dengan penuh semangat untuk meraih pencerahan dan mahabudi,” tuturnya. Adapun Biksu Wongsin Labhiko mengajak umat untuk menambah level objek umat Buddha. Caranya dengan menjaga perbuatan menjadi baik sesuai ajaran Guru Agung Sang Buddha Gautama.

Untuk mengakhiri rangkaian detik-detik Waisak tersebut dilakukan pradaksina (mengelilingi candi) searah jarum jam sebanyak tiga kali. Dalam pradaksina ini juga diikuti para biksu sangha dan diikuti ribuan umat Buddha. Sebelumnya pada Rabu (10/5) pagi, sekitar 100 biksu melakukan pindapata (menerima sedekah) dari umat Buddha di sepanjang Jalan Pemuda, kawasan Pecinan, Kota Magelang.

Sedekah yang telah terkumpul akan dikelola pengurus untuk kebutuhan para biksu. Sementara pada Rabu sore dilakukan prosesi kirab akbar dari Candi Mendut menuju Candi Borobudur yang menempuh sekitar 3 kilometer. Di sepanjang rute kirab, masyarakat antusias menonton di pinggir jalan. Dalam kirab dibawa antara lain air berkah dan api darma yang sebelumnya disemayamkan di Candi Mendut untuk sarana puja bakti.

Kirab Agung Amisapuja

Terpisah, umat Buddha di Kabupaten Kulonprogo menggelar peringatan Hari Waisak dengan menggelar doa bersama di Vihara Giriloka, Jatimulyo, Girimulyo. Sebelumnya mereka menggelar kirab agung Amisapuja dari bekas Vihara Branti menuju Giriloka yang berjarak 1 kilometer. Kirab yang dilaksanakan Rabu sore ini untuk mengenang ajaran Guru Agung Buddha Gautama, sekaligus mengenang peristiwa pemindahan wihara.

Umat Buddha dalam kirab juga melakukan meditasi yang bertujuan menghayati setiap pijakan langkah di atas bumi pertiwi supaya terbangun kesadaran keimanan dalam melaksanakan ajaran Guru Agung Kirab ini juga mengusung aneka rupa sesaji dan simbol keagamaan Buddha. Mereka memasukkan unsur agama dengan budaya Jawa.

Misalnya, dharma cakra (roda simbol kebenaran), rupang atau arca Buddha yang ditandu sebagai bentuk penghormatan kepada sang Buddha, air suci dalam kendi yang melambangkan kejernihan hati, bunga melambangkan ketidakkekalan kehidupan, buah perlambang karmapala (buah dari setiap tindakan), lilin, dupa, gunungan hasil bumi, serta panji-panji simbol Buddhis.

“Oncor ini sebagai penerang simbol pencerah yang menyerati sang Buddha,” kata Surahman, Panitia Peringatan Waisak 2561 BE/2017 Girimulyo Kulonprogo. Seorang umat Buddha Girimulyo, Wahyuni, mengatakan, peringatan Waisak menjadi ajang mengingatkan umat pada seluruh ajaran Sang Guru Agung Buddha Gautama.

Mulai dari cinta kasih ke sesama makhluk hidup maupun dengan alam sekitar. Waisak juga menjadi ajang introspeksi diri agar menjadi pribadi yang lebih baik. “Semua harus saling mengasihi dengan makhluk hidup,” harapnya.

eko susanto/ Kuntadi




Berita Lainnya...