Edisi 12-05-2017
Suporter DIY Sepakat Damai


YOGYAKARTA – Pertemuan antara Polda DIY, tim-tim sepak bola DIY peserta Liga 2 2017 beserta enam komunitas suporter fanatiknya membuahkan komitmen penyelenggaraan pertandingan sepak bola yang aman dan tertib.

Bahkan jika ada pelanggaran atas komitmen tersebut, polisi bakal bertindak keras dengan memidanakan pelaku. “Intinya kami menyepakati sepak bola damai. Penyelenggaraan pertandingan harus aman dan tertib. Suporter dilarang membawa barang- barang terlarang dan melakukan pelanggaran. Jika melakuka pelanggaran yang berhubungan dengan pidana akan diproses sesuai hukum,” ungkap Kepala Biro Operasional Polda DIY, Kombes Polisi Iman Prijantoro mengenai hasil pertemuan para pemangku kepentingan sepak bola di DIY, Rabu (10/5) di Mapolda, kemarin.

Hasil pertemuan pun disambut baik semua pihak. Sekretaris Manajemen PSIM Jarot Kestawa mengatakan, kesepakatan yang dilakukan merupakan kebijakan strategis. Harapannya, seluruh stakeholder persepakbolaan di DIY termasuk suporter bisa mengikuti jadwal liga yang telah disusun. “Pada dasarnya semua sudah paham, jika melakukan tindakan negatif klub yang akan dirugikan,” ujarnya.

Usul Diskusi Akar Rumput dan Polisi

Kelompok pendukung PSIM Yogyakarta, yakni Brayat Jogja Mataram Utama Sejati atau Brajamusti berharap dapat menggelar sarasehan bersama dengan akar rumput (suporter) dan kepolisian. Ini bertujuan menyatukan pemikiran sekaligus mengedukasi para anggotanya tentang tata cara keamanan maupun pertandingan sepak bola Liga 2 2017.

Presiden Brajamusti, Rahmat Kurniawan mengutarakan, selama ini pihaknya kesulitan memberikan pemahaman di akar rumput karena berbagai karakteristik dan pemikiran yang dimiliki anggotanya. Bagi yang dewasa memang tidak sulit membina. Namun, ujar dia, untuk usia belia seperti pelajar dibutuhkan kesabaran tinggi untuk menjelaskannya. Hal ini tidak mudah mengingat anggota Brajamusti mencapai lebih dari 10.000 orang dengan 150 laskar di dalamnya.

“Kesulitan kami karena karakteristik dan pemikiran akar rumput yang berbeda. Ada yang mudah dibina dan diluruskan, dan ada pula yang bandel. Kalau kumpulan anak SD (ibaratnya) ada yang pendiam, teriak, dan suka berlarilari. Kami sambut baik rapat koordinasi (yang digelar oleh Polda DIY), tapi harus intens dilakukan dan bantu kami turun ke bawah dengan menggelar sarasehan bersama.

Dijelaskan bagaimana aturan yang berlaku (dalam sepak bola),” kata Rahmat kepada KORAN SINDO YOGYA kemarin. Perbedaan pemahaman itu bisa dilihat dari kasus tersulutnya emosi supoter oleh tulisan provokasi PSIM A*U yang sempat terpampang di papan skor Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul, Minggu (6/5). Lalu ada spanduk tim idolanya yang dipasang terbalik, hingga pencoretan mural lambang tim PSIM oleh oknum diduga dari Pasoepati .

Diketahui bahwa Brajamusti yang identik dengan logo bergambar burung perkutut ini dengan Pasoepati (suporter Persis Solo) terdapat sejarah konflik. Begitu pula Brajamusti dan Brigata Curva Sud (BCS/suporter PSS Sleman), serta BCS dengan Pasoepati yang belakangan dikabarkan “rujuk”.

Ini ironis lantaran Brajamusti dengan Slemania (suporter PSS Sleman) dan Pasukan Suporter Bantul Militan (Paserbumi ) -suporter Persiba Bantul-justru memiliki hubungan harmonis. Dan seperti diketahui, meski akar rumput tidak harmonis tapi di jajaran pengurus sebenarnya telah terjalin hubungan baik. Hanya hal ini memang sulit mencapai ke tingkat akar rumput dengan alasan ada beberapa suporter yang belum dapat melupakan konflik sebelumya.

Keterangan ini sekaligus meralat keterangan dalam infografis KORAN SINDO YOGYA edisi 9 Mei 2017 lalu. “Imbauan apapun pasti kami lakukan dan sampaikan, bahkan koordinasi dan komunikasi dengan polisi juga nggak kurang-kurang. Alhamdulillah mulai berkurang di luar, sudah ada pendewasaan sendiri di lini kamin,” tuur Mamek, sapaan akrabnya. Kesulitan serupa juga dialami BCS.

Dikemukakan oleh Koordinator BCS, Zulfikar Nugroho Putra, peran kepolisian dari tingkat atas hingga bawah sangat diperlukan dalam menjaga komunitas yang beranggotakan 15.000 orang ini. Hal ini bisa diawali dengan rapat koordinasi di jajaran pengurus atas dahulu, tidak hanya suporter. Tapi juga perwakilan manajemen maupun panpel klub sepak bola DIY.

“Bagus dan apresiasi (rapat koordinasi Polda DIY) tapi hanya untuk pengurus dan kurang mengena. Edukasi dari kepolisian (berharap) bisa diberikan sampai arus bawah,” pinta Zulfikar. Pelaksana Tugas (Plt) The Maident, Rendy Agung Prasetya yang juga suporter PSIM Yogyakarta mengatakan, meski belum ada rencana bersama dengan suporter DIY lain untuk langkah ke depannya, setidaknya secara internal pihaknya selalu menekankan perdamaian kepada 3.000 anggotanya yang aktif.

“Tak ada gunanya bermusuhan, terlebih akibat paling parah yang bisa ditimbulkan dari hal itu yakni hilangnya nyawa seseorang. Kami secara organisasi tentu sangat terbuka untuk perdamaian. Meski hingga saat ini belum pernah bisa kumpulkan semua anggota. Setidaknya lewat sosmed kami selalu gencar sampaikan perdamaian,” kata Rendy.

Dalam kesempatan itu Plt Slemania Asep Hamdi Kurniawan juga turut mengapresiasi langkah Polda DIY dan semua pihak dalam memajukan, sekaligus menciptakan suasana kondusif persepakbolaan. Secara internal, kelompok suporter yang memiliki anggota aktif 5.000-7.000 orang dan 90-an laskar ini juga tengah berbenah menuju kebaikan ke depannya.

“Kami sangat mendukung apa yang sudah dilakukan Polda DIY, terutama kejadian kemarin (kisruh suporter PSIM Yogyakarta dan Persis Solo). Tulisan provokasi di pertandingan juga segera disikapi oleh Panpel Persiba Bantul,” ungkap Carik Paserbumi. Giyanto. Sesepuh Curva Nord Famiglia (CNF), Wisnu, salah satu komunitas suporter Persiba Bantul, berharap pertemuan tersebut dapat menjaga persaudaraan, sekaligus menghindarkan rivalitas suporter yang berlebihan. Sebab bukan tidak mungkin yang akan terkena imbasnya nanti timtim yang didukung.

PSIM Yogyakarta Tuntut Permintaan Maaf

Di sisi lain, Manajemen PSIM Yogyakarta melalui Sekretaris Umum Jarot Sri Kastawa akhirnya menyatakan sikapnya dengan melayangkan surat protes kepada PT Liga Indonesia Baru (LIB) selaku operator Liga 2 2017. Mereka protes atas ulah oknum yang memprovokasi pada laga Persiba Bantul-Persis Solo. Ada tiga hal yang tercantum dalam surat bernomor 041/PSIM Jogja/V/2017 ini.

Pertama, oknum yang telah merusak mural lambang PSIM.

Kedua, pencabutan bendera PSIM Yogyakarta yang kemudian dibawa masuk ke dalam stadion dan sengaja dipasang terbalik.

Ketiga , pencantuman kata PSIM A*U pada papan skor manual SSA.

“Kami melayangkan surat protes, lagipula mengapa harus ada provokasi. Padahal tim kami sedang tidak bertanding,” keluh Jarot. Tak hanya surat protes, pihaknya juga menyertakan sejumlah bukti yang ditembuskan ke Ketua PSSI Edy Rahmayadi. Untungnya insiden tersebut tidak banyak mempengaruhi persiapan tim. Terlebih pada Jum’at (12/5) sore ini PSIM Yogyakarta melakoni laga tandang melawan Madiun Putra FC di Stadion Wilis Madiun.

siti estuningsih/ maha deva








Berita Lainnya...