Edisi 12-05-2017
3.000 Warga Belum Punya Jamban


MAGELANG– Sebanyak 3.000 kepala ke - luarga (KK) atau 12% dari total penduduk di Kota Magelang belum memiliki jamban. Untuk itu Pemerintah Kota (Pemkot) Ma ge - lang terus berupaya mengurangi perma sa - lahan jamban ini, salah satunya dengan pembuatan jamban komunal.

Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Magelang Joko Su - parno mengatakan, salah satu jalan untuk terwujudnya “kota cerdas” harus mengurai perma - salahan sanitasi dan air bersih. Untuk itu, guna mengatasi persoalan sanitasi dan air bersih di Kota Magelang, dilakukan ker ja sama dengan program USAID Indonesia Urban Water, Sanitation & Hygiene, Penyehatan Lingkungan untuk Se mua (IUWASH Plus).

Program ini akan dilangsungkan selama 5 tahun yang telah dimulai sejak November 2016 lalu. “Wu jud - nya dituangkan da lam kerja sa - ma, kemudian nantinya juga me nyangkut politik anggaran dan sanitasi ber sa ma,” kata Jo - ko di sela-sela visioning wors khop “Pening kat an Akses Air Mi num dan Sanitasi Kota Ma gelang” di Hotel Atria, Rabu (10/5).

Dalam kesempatan tersebut, Joko mengatakan, di Kota Magelang, dari sekitar 33.000 KK yang ada, tercatat yang belum memiliki jamban sekitar 12% atau 3.000 KK. Hal ini salah satunya karena minim lahan yang dimiliki, kemudian masih ada beberapa warga yang tinggal di dekat sungai sehingga buang air besar (BAB) dilakukan di sungai. Bahkan ada juga yang punya WC, tetapi pembuangannya menuju sungai.

“Dari 33.000 KK, ada sekitar 12% atau 3.000 belum punya jamban. Salah satu solusinya pem buatan toilet komunal. Ta - hun depan memperoleh bantuan pembuatan toilet komunal di wilayah Kelurahan Panjang dan Magersari,” kata Joko. Menurut Joko, keberadaan 3.000 KK yang belum memiliki jamban tersebut menjadi salah satu pekerjaan rumah (PR) yang harus diselesaikan sebagai ma - na ditargetkan pemerintah un - tuk terwujudnya pencapaian akses universal tahun 2019.

Kemudian persoalan lain adalah belum adanya kesadaran dari warga masyarakat secara rutin untuk menguras septic tank. “Kami memiliki IPLT (Instalasi Pengelolaan Limbah Tinja) Jumpoh yang tiap hari baru satu truk. Untuk itu warga harus menjadwalkan untuk me - lakukan pengurasan tinja ini. Kalau bicara penyedotan tinja secara berkala belum termasuk kegiatan yang seksi,” sebut Joko.

Untuk itu Joko berharap tiap PNS memberikan contoh pembiasaan penyedotan tinja secara berkala. Selain itu pi - haknya akan mencontoh yang dilakukan Pemkab Grobogan dengan memberikan pinjaman kepada warga dari BKK untuk membuat jamban bagi warga agar bisa diterapkan di Kota Magelang. Chief of Party USAID IUWASH Plus Louis O’Brien mengatakan, Program USAID IUWASH Plus merupakan hi bah yang dirancang untuk mendukung Pemerintah Indonesia demi terwujudnya air minum dan sanitasi.

Adapun USAID IUWASH Plus telah bekerja sama dengan 32 pemerintah dae rah yang tersebar di Provinsi Su - matera Utara, Jawa Barat, Ja wa Timur, Sulawesi Selatan, Ma - luku, Maluku Utara dan Pa pua. “Kami telah bekerja sama de ngan masyarakat 32 kota/ ka bu paten yang tersebar dari Su matera hingga Papua,” kata OíBrien.

Adapun program yang tengah dijalankan di Jawa Tengah antara lain dengan Pemkot Sa la tiga, Pemkot Surakarta, Kabu pa ten Sukoharjo, Magelang dan Ko ta Magelang. “IUWASH se nang bisa bekerja sama dengan Pemkot Magelang,” kata OíBrien.

Wakil Wali Kota Windarti Agustina mengatakan, Pemkot Magelang sangat mendukung tercapainya kerja sama dengan IUWASH untuk mewujudkan ak ses universal 2019. Untuk itu nan tinya Pemkot Magelang akan memberikan porsi alokasi anggaran dalam program sanitasi dan layanan akses air bersih.

eko susanto




Berita Lainnya...