Edisi 12-05-2017
Pembangunan LRT Bukan Untuk Gagah - Gagahan


MEDAN - Wakil Wali Kota Medan Akhyar Nasution menegaskan, pembangunan Light Rail Transit (RLT) di Kota Medan bukanlah untuk gagah-gagahan, tapi lebih kepada sebuah kebutuhan.

Untuk mewujudkan ini, semua pihak terkait harus dalam harmoni yang sama dan bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing. Alasan itu juga membuat Pemko Medan sangat berkomitmen dalam pembangunan transportasi massal apapun modanya. Sebab, transportasi massal adalah salah satu solusi dari upaya mengurai kemacetan yang ada di Kota Medan akibat terus bertambahnya jumlah kenderaan bermotor.

“Kita harus berfikir bagaimana mewujudkan transportasi massal yang dapat mengurangi kemacetan akibat semakin banyaknya arus kendaraan bermotor di kota ini. Jangan bermimpi untuk membangun jalan lebar tetapi kita harus mengubah mindset dengan menyediakan transportasi massal,” tegas Akhyar saat menghadiripertemuanIndonesiaInfrastructure Roundtable XVI, di Hotel Grandika, kemarin.

Kegiatan ini bertema “Dampak Sosial Ekonomi Pembangunan Light Rail Transit (LRT) di Kota Medan dan Mitigasinya”. Selain itu yang tidak kalah penting nantinya apabila program itu berjalan adalah menggiring masyarakat untuk beralih menggunakan Light Rail Transit (LRT). Hal ini tidak kalah penting. Program tersebut tidak akan maksimal apabila masyarakat tidak memanfaatkanya. Untuk itulah, Pemko Medansiapmenjadikomandantempur karena secara kewilayahan dan sosial kemasyarakatannya Pemko Medan dekat dengan masyarakatnya.

Karenanya semua harus saling berintegrasi dan berkomunikasi. “Kita jangan jalan sendirisendiri demi kelancaran pembangunan LRT di Kota Medan yang kita cintai ini. Apalagi saat ini banyak sekali mendapat masukan sehingga memperkaya kita semua agar tidak salah langkah,” ungkapnya. Dia menambahkan, Pemko Medan beserta seluruh jajarannya sudah mendambakan agar LRT ini dapat segera diwujudkan di Kota Medan.

Sebab, keberadaan LRT adalah kebutuhan dan bukan proyek mercusuar. Dia berharap proyek pembangunan LRT ini terlalu lama mengingat berdasarkan kajian yang telah dilakukan. Dimana berdasarkan kajian yang dilakukan pada 2024 Kota Medan diprediksi mengalami stagnasi kemacetan. “Kalau bisa di 2020 proyek LRT ini sudah running karena jika menunggu hingga 2023, Kota Medan akan mengalami stagnasi lalu lintas di 2024 berdasarkan hasil kajian yang telah dilakukan,” tambahnya.

Rektor USU, Runtung Sitepu selaku penyelenggara acara bersama PT Pejamin Infrastruktur Indonesia (PII) mengatakan, hasil diskusi yang diselenggarakan ini akan menjadi kajian awal dalam pembangunan serta pengoperasian LRT ke depannya. Sebab, melalui diskusi ini dapat dilihat atau dikaji dari beberapa bidang ilmu baik dampak dan mitigasinya. “Mari kita menyimak dan berperan aktif di dalam diskusi ini.

Sehingga pandangan- pandangan yang disampaikan dapat menjadi pemancing semangat kita dalam menggerakkan ide dan pemikiran untuk mencapai sebuah kesimpulan yang bermanfaat, khususnya pengembangan LRT diKota Medan,” harap Runtung.

Kadis Perhubungan Kota Medan, Renward Parapat mengungkapkan, LRT yang akan dibangun nanti diharapkan akan terintegrasi dengan Bus Rapit Transportation (BRT) maupun dengan commuter line dari PT KAI serta angkutan kota yang sudah ada. “Semoga kehadiran LRT ini nantinya dapat mengurai kemacetan di Kota Medan,” ujar Renward.

reza shahab

Berita Lainnya...