Edisi 12-05-2017
Sekda Kritik Pelayanan BPJS Kesehatan


MEDAN– Sekda Kota Medan Syaiful Bahri Lubis meminta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) kesehatan cabang utama Kota Medan untuk benar-benar meningkatkan pelayanan kepada masyarakat.

Pasalnya, banyak masyarakat membayar iuran, namun belum mendapat pelayanan maksimal. Selaku pengelola jaminan kesehatan kepada masyarakat peserta BPJS diminta agar tidak sesuka hati atau setengah hati dalam memberikan pelayanan. Apalagi saat ini pihaknya banyak menerima pengaduan masyarakat yang miring terkait pelayanan yang diberikan pengelola BPJS.

“Masyarakat itu bayar, bukan gratis. Jadi, tingkatkan pelayanan,” tegas Syaiful saat memimpin pertemuan kemitraan dengan BPJS di Ruang Rapat II Kantor Wali Kota Medan, Rabu (10/5). Dia mengungkapkan, saat ini dalam pemberian pelayanan BPJS seharusnya sudah mempergunakan IT dalam memberikan pelayanan kepada peserta BPJS saat ini. Tidak lagi menggunakan sistem manual.

Dengan begitu setiap rumah sakit menjadi provider memberikan laporan. Pengelola mendapat laporan perharinya secara otomatis dan valid. Selain itu mengetahui kondisi lapangan. Hal ini sangat penting untuk mengetahui jumlah pasien BPJS, berapa sisa bed, jumlah yang tersedia di ruang ICU, dan lainnya. “Saat ini banyak kami mendapat laporan pasien BPJS kerap dinomorduakan.

Setiap masuk pasien peserta BPJS kerap ditolak dengan alasan berbeda- beda, mulai kamar penuh, ruang ICU penuh, obat habis, tidak ada bed, dan lainnya. Hal ini dikarenakan pengelolaanya masih manual. Sehingga tidak terkontrol maupun terpantau. Untuk itu kami minta ke depan segera rubah sistem menggunakan IT.

Sehingga tidak ada lagi alas analasan tersebut dimunculkan,” ungkapnya dengan nada tinggi. Dia menambahkan, perlakuan ini tidak hanya kepada peserta BPJS yang masyarakat menengah ke bawah saja. Bahkan, dirinya mengalami sendiri. Sebagai orang nomor tiga di Pemko Medan, pria yang pernah menjabat Kepala Bappeda Kota Medan ini juga merasakan buruknya pelayanan BPJS. “Kami sebagai peserta BPJS selalu dibola-bola pihak rumah sakit provider.

Alasannya itu tadi, tidak ada bed, ruang ICU sudah penuh. Sementara kami setiap bulannya membayaran iuran BPJS. Pengalaman saya sebagai peserta BPJS, sudah 2 kali saya menggunakan BPJS di rumah sakit besar di Kota Medan ini untuk berobat. Hasilnya saya kecewa. Tidak pernah saya mendapat pelayanan yang layak,” katanya.

Ke depan, diharapkan BPJS harus mengambil tindakan tegas kepada rumah sakit provider yang tidak memberikan pelayanan maksimal kepada peserta BPJS apalagi terdapat pembohongan tentang keberadaan kondisi rumah sakit sebenarnya. Hal senada diungkapkan Plorencia Sipayung mewakili Ombudsman Perwakilan Sumatera Utara.

Saat ini laporan masyarakat peserta BPJS terkait kekecewaan ayas pelayanan rumah sakit provider sangat tinggi. Termasuk perubahan tarif harga dari kelas I untuk pindah ke VIP. Dimana tidak jelas penambahan biayanya. Hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi. “Namun, begitupun seharusnya pihak rumah sakit provider membuat daftar penambahan harga sehingga peserta BPJS memahaminya,” ungkap Plorencia.

Sementara itu, Kepala BPJS Kesehatan Cabang Utama Kota Medan, Sudarto menjelaskan, dari 48 rumah sakit provider di Kota Medan, 20 di antaranya sudah menggunakan website. Mengenai pendaftaran sebagai peserta BPJS yang selama ini sampai malam hari kini hanya sampai setengah hari. Begitu juga hal-hal yang selama ini dikeluhkan sudah diperbaiki secara perlahan-lahan. “Kami akan berusaha untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada peserta BPJS sehingga masyarakat penggunanya tidak kecewa,” pungkasnya.

reza shahab

Berita Lainnya...