Edisi 12-05-2017
Lurah Mudjianto Tetap Ditahan


SURABAYA – Surat permohonan penangguhan penahanan Lurah Tanah Kali Kedinding Mudjianto yang diajukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini tidak digubris Kejaksaan Negeri (Kejari) Tanjung Perak.

Sebaliknya, Kejari tetap menahan Mudjianto yang telah ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pungutan liar (pungli) program Proyek Operasi Nasional Agraria (Prona). Kepala Seksi Intelijen (Kasi Intel) Kejari Tanjung Perak Lingga Anuarie mengatakan, tindakan tegas ini merupakan jawaban atas surat permohonan penangguhan penahanan bernomor 180/- 2991/436.1.2/2017 yang diajukan Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini kepada Kejari Tanjung Perak.

“Guna kepentingan penyidikan kasus ini, Kejaksaan tetap menahan Lurah Tanah Kali Kedinding (Mudjianto),” katanya, kemarin. Pihak Kejaksaan, lanjut Lingga, juga telah resmi membalas surat Wali Kota perihal tetap ditahannya Mudjianto. Alasan penyidikan, sambung Lingga, merupakan salah satu poin yang mengharuskan Lurah Tanah Kali Kedinding ini tetap ditahan di Rutan Klas I Surabaya di Medaeng, Sidoarjo. Terkait alasan lain, Lingga enggan merincikan.

Namun diakui jika kedua tersangka dalam kasus dugaan pungli proyek Prona itu memiliki peran penting. Selain menangkap Mudjianto Tipikor Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak juga menangkap Jonathan Suwandono, 57, warga Jalan Kebonsari selaku koordinator Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM). ”Peran kedua tersangka sangat dibutuhkan untuk penyidikan kasus yang dilakukan penyidik Kejari Tanjung Perak. Tersangka ini dibutuhkan untuk pendalaman penyidikan yang kami lakukan.

Makanya baik tersangka Lurah dan satunya tetap dilakukan penahanan,” tegas Lingga. Disinggungtentangpemberkasan kasus, Lingga menambahkan, penyidik sudah merampungkan berkas dakwaan kasus Prona di Kelurahan Tanah Kali Kedinding. Artinya, berkas segera dilimpahkan ke pengadilan guna proses persidangan.

Sebagaimana diberitakan, Tipikor Satreskrim Polres Pelabuhan Tanjung Perak berhasil membongkar praktik dugaan pungli Prona di Keluarahan Tanah Kali Kedinding. Polisi menangkap Mudjianto dan Jonathan Suwandono. Kasus ini berawal pada September 2013 silam, tersangka Suwitno mengajukan permohonan Prona ke Kantor BPN II Surabaya, dan diketahui Lurah Tanah Kali Kedinding. Kemudian pada 2014 Kelurahan Kedinding mendapatkan kuota Prona sebanyak 150 bidang tanah.

Selanjutnya tersangka mengkoordinir warga di Kelurahan Kedinding untuk mengurus dokumen legalitas tanahnya menjadi Sertifikat Hak Milik (SHM). Seharusnya dalam program Prona, warga tidak dibebani biaya kepengurusan tanah miliknya tersebut.

Nah, dalam kepengurusan inilah yang diduga ada muatan pungli yang dilakukan tersangka. Setiap warga yang hendak mengurus Prona diminta biaya Rp3-4 juta per bidang tanah. Selanjutnya uang tersebut digunakan untuk operasional BKM dan sebagian diberikan kepada Lurah Tanah Kali Kedinding.

rahmad tomy




Berita Lainnya...